DBS ditunjuk sebagai Joint Lead Underwriter dan Joint Bookrunner dalam penerbitan Obligasi Panda (Panda Bond) Republik Indonesia senilai RMB 7 miliar (Rp 18,47 triliun, kurs Rp 2.639 per RMB). Obligasi Panda yang diterbitkan di pasar obligasi domestik Tiongkok ini memperluas diversifikasi sumber pembiayaan global Indonesia dalam berbagai mata uang.
Obligasi ini diluncurkan dalam dua seri pendanaan, yakni obligasi senilai RMB 5,6 miliar (Rp 14,78 triliun) dengan tenor tiga tahun dan tingkat kupon 1,9% serta obligasi senilai RMB 1,4 miliar (Rp 3,69 triliun) dengan tenor lima tahun dan tingkat kupon 2,19%. Transaksi ini mendapat partisipasi kuat dari beragam investor institusional, termasuk sejumlah bank domestik, lembaga pengelolaan kekayaan, perusahaan sekuritas, manajer asset dan dana investasi. Bank asing serta lembaga investasi pemerintah dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan wilayah lainnya turut meramaikan penawaran obligasi ini.
DBS merupakan satu-satunya bank asing yang ditunjuk sebagai penjamin emisi utama (Joint Lead Underwriter) Obligasi Panda ini. DBS Bersama para Joint Lead Underwriter lainnya menyelenggarakan roadshow secara virtual maupun tatap muka dan berkoordinasi dengan Lembaga pemeringkat. Obligasi Panda ini mendapatkan peringkat AAA (stabil) dari China Lianhe Credit Ratings Co. Ltd.
“Dengan mengakses pasar obligasi Tiongkok yang memiliki likuiditas tinggi, kami mendukung Indonesia untuk memperluas akses kepada investor baru yang berbasis renminbi (RMB),” ujar President Director PT Bank DBS Indonesia Lim Chu Chong, dalam keterangan tertulis, Senin (10/8).
Ia menyebut keunggulan jaringan DBS yang unik dalam menghubungkan Asia Tenggara dan Tiongkok menjadi jembatan keuangan yang strategis dalam memfasilitasi lebih banyak penerbit dari ASEAN untuk memasuki pasar modal Tiongkok. Hal ini akan mendorong pembiayaan dan investasi regional, sehingga semakin memperkuat konektivitas keuangan di kawasan.
Obligasi Panda RI Kelebihan Permintaan 2,4 Kali
Indonesia mencatat rekor pencapaian untuk nilai penerbitan Obligasi Panda di pasar obligasi Tiongkok. Keberhasilan transaksi ini mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Pada penerbitan perdana, Obligasi Panda memperoleh permintaan investor sekitar RMB 17 miliar (Rp 44,86 triliun), atau sekitar 2,4 kali nilai penerbitan. Tingginya animo investor ini memungkinkan pemerintah memperoleh biaya pendanaan yang kompetitif.
Penerbitan Obligasi Panda berlangsung saat pasar keuangan global masih diwarnai ketidakpastian akibat tingginya suku bunga global, volatilitas nilai tukar, serta dinamika kondisi pasar internasional. Dalam situasi tersebut, diversifikasi sumber pembiayaan menjadi semakin penting untuk mengurangi ketergantungan pendanaan pada mata uang maupun pasar modal tertentu.
Selain memperluas diversifikasi, langkah ini turut memperkaya opsi pembiayaan pemerintah sekaligus meningkatkan fleksibilitas dalam pengelolaan utang negara. Strategi tersebut sejalan dengan upaya pemerintah untuk membangun struktur pembiayaan yang lebih tangguh terhadap gejolak eksternal.
“Penerbitan Panda Bond perdana ini menandai pencapaian penting Indonesia dalam memperluas aksesnya ke salah satu pasar obligasi terbesar di dunia. Kami bangga dapat mendukung Pemerintah Indonesia dalam transaksi bersejarah ini sekaligus memperkuat konektivitas keuangan antara Indonesia dan Tiongkok,” ujar President and Chief Executive Officer DBS China Ginger Cheng.
Penerbitan Panda Bond menjadi kelanjutan pencapaian penting dalam perjalanan pembiayaan mata uang RMB bagi Indonesia. Sebelumnya, Pemerintah RI telah menerbitkan Obligasi Dimsum senilai RMB 9,25 miliar (Rp 24,41 triliun) di Hong Kong SAR pada Februari lalu. Keberhasilan penerbitan perdana Obligasi Panda ini memberikan sinyal positif bahwa investor internasional tetap memiliki keyakinan terhadap stabilitas fiskal dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia secara jangka panjang.




