Mata uang rupiah mengawali perdagangan hari ini dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (11/8). Melansir dari Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.799 per dolar AS melemah 0,24% atau 44 poin. Pantauan Katadata, hingga pukul 09.07 WIB rupiah melemah hingga Rp 17.802 per dolar AS turun 0,26% atau 47 poin.
Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup di level Rp 17.755 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah menguat 0,8% dibandingkan dengan penutupan Jumat (7/8/2026) yang berada di Rp 17.897 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang kembali mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
Analis Doo Financial Lukman Leong memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.750-Rp 17.850 per dolar AS. “Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang kembali menaikkan harga minyak mentah dunia,” kata Lukman.
Sementara itu, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana memperkirakan rupiah berpotensi mengalami depresiasi menuju Rp 17.820 per dolar AS.
Fikri mengatakan terdapat sejumlah faktor yang dapat menekan pergerakan rupiah hari ini. Pertama, Iran yang menahan negosiasi dengan AS kembali meningkatkan ketidakpastian geopolitik.
Perkembangan hubungan kedua negara menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan serta harga energi global.
Kedua, pasar mulai mencermati ekspektasi kenaikan inflasi AS menjelang rilis data inflasi pada Jumat mendatang. Apabila inflasi AS kembali menunjukkan tekanan yang tinggi, ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve dapat berubah dan berpotensi menopang dolar AS.
Faktor berikutnya berasal dari pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif. Fikri menilai pasar akan mencermati prospek kepemimpinan Destry, terutama terkait harapan agar independensi BI tetap terjaga.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengajukan Destry sebagai calon tunggal Gubernur BI definitif. Destry saat ini menjabat sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri.
Selain faktor eksternal dan transisi kepemimpinan bank sentral, Fikri juga mencermati penurunan indeks kepercayaan konsumen Indonesia sebagai salah satu sentimen yang dapat membatasi penguatan rupiah. Data terbaru menunjukkan indeks kepercayaan konsumen Indonesia turun untuk bulan ketiga berturut-turut pada Juli 2026.




