BANYU POS JAKARTA. Pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) belum mampu mengangkat pasar saham. Pasal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke zona merah.
Pada perdagangan Senin (11/8/2026), IHSG melemah 1,53% ke level 6.267,88. Sepanjang perdagangan, investor asing juga mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp 687,80 miliar.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata menilai pencalonan Destry merupakan pilihan yang paling market-friendly saat ini. Namun, status tersebut belum final karena masih menunggu proses DPR.
“Destry memang frontrunner yang paling natural menggantikan Perry. Market juga sudah mengenal beliau, termasuk cara beliau menyampaikan kebijakan di berbagai forum,” katanya kepada Kontan, Selasa (11/8/2026).
Menurut Liza, rekam jejak Destry sebagai Deputi Gubernur Senior BI sejak 2019, serta pengalaman di sektor perbankan, pasar modal dan LPS, membuatnya relatif mudah diterima pasar.
IHSG Melemah 1,53% ke 6.267 pada Selasa (11/8/2026), DEWA, HRTA, MAPI Top Losers LQ45
Dia menilai pencalonan Destry dapat mengurangi ketidakpastian kepemimpinan BI setelah pengunduran diri Perry Warjiyo. Kondisi tersebut berpotensi positif bagi rupiah, obligasi, dan IHSG melalui peluang keberlanjutan kebijakan.
“Bagi pasar, pencalonan Destry mengurangi leadership uncertainty yang sempat muncul setelah pengunduran diri Perry. Ini positif untuk Rupiah, obligasi dan IHSG,” kata Liza.
Meski demikian, Liza menegaskan pencalonan Destry belum otomatis menyelesaikan perhatian investor terhadap independensi BI. Pasar global tetap akan mencermati kebijakan moneter dan stabilitas rupiah.
Menurutnya, investor juga masih menunggu hasil uji kelayakan dan kepatutan DPR, RDG BI 18–19 Agustus, arah fiskal dalam Nota Keuangan, serta perkembangan reformasi pasar modal Indonesia.
Institutional Equity Sales & Research MNC Sekuritas Niko Margaronis menimpali pemberitaan internasional sejauh ini masih positif terhadap pencalonan Destry. Namun, pasar masih menunggu gambaran kebijakan BI selanjutnya.
“Destry dimajukan karena mungkin masih mau menerima masukan dari tim ekonomi dan fiskal untuk pertumbuhan ekonomi, ujar Niko.
Rupiah Tertekan di Rp 17.861, Ini Ramalan Kurs Jelang Suksesi Gubernur BI
Niko menyebut salah satu perhatian utama pasar adalah independensi BI. Investor berharap kepemimpinan baru tetap menjaga ruang pengambilan keputusan bank sentral tanpa menempatkan BI di bawah otoritas kementerian.
Meski begitu, Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang bilang pencalonan Destry belum memberikan dampak terhadap pasar saham. Hal tersebut tercermin dari IHSG yang justru melemah ketika pencalonannya diumumkan.
Dia memproyeksikan rupiah menguat terbatas menuju level Rp 17.500 per dolar AS sebelum berpotensi kembali melemah ke sekitar Rp 18.000 per Dolar AS.
“Investor akan mencermati kemampuan Destry menjaga independensi BI dari pemerintahan saat ini. Hal tersebut dinilai penting mengingat kekhawatiran pasar terhadap pembiayaan berbagai program pemerintah,” jelas Edwin.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai Destry merupakan sosok yang tepat untuk memimpin BI karena memiliki rekam jejak dan relatif bebas konflik politik.
“Sosok yang tepat untuk posisi yang penting, dan bebas dari konflik politik. Ini bukan hanya mengenai kebijakan moneter, tapi lebih kepada apakah Bank Indonesia mampu menjadi independen,” ujar Nico.
Menurutnya, independensi BI menjadi perhatian lebih besar bagi investor dibandingkan sekadar arah kebijakan moneter. Keterlibatan unsur politik dalam pengambilan kebijakan dapat menjadi tekanan langsung bagi pasar.
Untuk pergerakan IHSG, Nico melihat pelemahan saat ini masih merupakan koreksi teknikal yang wajar. Secara teknikal, IHSG dinilai sudah berada dalam kondisi jenuh beli sehingga membutuhkan koreksi sebelum kembali melanjutkan penguatan.
“Sejauh ini memang kalau diperhatikan, secara teknikal analisa memang IHSG sedang jenuh beli, dan membutuhkan koreksi sebelum mengalami penguatan lebih lanjut,” kata Nico.
Nico memperkirakan IHSG hingga akhir Agustus 2026 bergerak pada kisaran 6.170–6.510 dengan kecenderungan menguat. Level 6.170 menjadi batas penting untuk menjaga peluang penguatan indeks selanjutnya.
Sementara itu, Liza memproyeksikan IHSG sepanjang Agustus bergerak dalam rentang 6.150–6.500. Level 6.385 menjadi area konfirmasi, dengan peluang penguatan terbuka apabila ditembus disertai volume dan foreign inflow yang solid.
IHSG Turun 0,87% ke 6.309 Sesi I, Top Losers LQ45: DEWA, MAPI, BUMI, Selasa (11/8)




