MSCI bekukan saham Indonesia, dana asing kian deras keluar

Hikma Lia

BANYU POS  JAKARTA. Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali membekukan saham Indonesia dalam evaluasi MSCI August Index Review 2026.

Advertisements

Tak ada saham Indonesia yang masuk ke indeks MSCI, sementara 10 saham justru terdepak atau turun kelas.

Dalam evaluasi yang diumumkan Kamis (13/8/2026), MSCI mengeluarkan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dari MSCI Global Standard Index.

Advertisements

Sementara itu, sembilan saham Indonesia lainnya dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Index.

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menjadi satu-satunya saham Indonesia yang tetap bertahan di indeks MSCI.

BI Menahan Suku Bunga Acuan 4,75%, Cek Efeknya ke Pasar Saham dan Dana Asing

Namun, CPIN turun kelas dari MSCI Global Standard Index ke MSCI Global Small Cap Index. Seluruh perubahan tersebut berlaku efektif mulai 1 September 2026.

MSCI masih mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi emerging market. Namun, tidak adanya saham baru yang masuk sekaligus keluarnya sejumlah saham menunjukkan pembekuan terhadap pasar saham Indonesia masih berlanjut.

Keputusan tersebut menjadi sentimen negatif bagi pasar domestik. Pada Kamis (13/8), IHSG turun 1,13%. Tekanan juga terlihat dari arus dana asing yang mencapai Rp1,41 triliun pada perdagangan hari itu.

Secara kumulatif sejak awal 2026, dana asing yang keluar dari BEI telah mencapai Rp71,83 triliun.

Kepercayaan Investor Melemah

Pengamat pasar modal Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai keputusan MSCI mencerminkan masih lemahnya kepercayaan investor global terhadap pasar saham Indonesia.

Menurut dia, credibility premium Indonesia meningkat sehingga investor asing meminta kompensasi risiko yang lebih besar.

Kemarau Dana Asing di Bursa Saham

Tiga isu utama yang menjadi perhatian investor global adalah transparansi pasar saham, ketidakpastian kebijakan makro, dan pelemahan rupiah. “Evaluasi MSCI bulan November jadi ujian yang jauh lebih menentukan,” kata Budi, Kamis (13/8).

Menurut Budi, persoalan transparansi mengenai beneficial ownership pada saham Indonesia merupakan masalah struktural yang telah lama ada.

Namun, kekhawatiran investor semakin besar karena persepsi terhadap kebijakan pemerintah, termasuk ekspansi belanja negara, biaya program makan bergizi gratis (MBG), meningkatnya peran BPI Danantara dan BUMN, serta kekhawatiran terhadap konsistensi kebijakan fiskal dan independensi institusi ekonomi.

Budi memperkirakan arus keluar dana asing belum sepenuhnya berakhir hingga akhir tahun. Namun, dana asing masih berpeluang kembali masuk jika valuasi dan sentimen pasar membaik.

Jika reformasi pasar berjalan dan MSCI memberikan sinyal positif pada evaluasi November 2026, IHSG berpeluang naik ke 7.000-7.200. Sebaliknya, jika risiko Indonesia turun kelas menjadi frontier market kembali membesar, IHSG berpotensi jatuh di bawah level 6.000.

Menilik Potensi Aliran Dana Asing Masih Lanjut Keluar dari Pasar Saham Indonesia

Direktur PT Purwanto Asset Management Edwin Sebayang menilai program dan kebijakan pemerintah turut meningkatkan persepsi risiko investor global.

“Yang dipersoalkan investor berapa besar biayanya, bagaimana implementasinya, siapa yang mengawasi, dan seberapa predictable kebijakan pemerintah tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai persoalan yang disorot MSCI bukan semata ukuran kapitalisasi pasar, tetapi juga kualitas investability saham.

Keluarnya GOTO dan turunnya CPIN dari indeks MSCI Global Standard, menurut Hendra, menunjukkan bahwa kapitalisasi besar tidak otomatis membuat sebuah saham memiliki tingkat investability tinggi.

“Investor global tidak hanya butuh pasar yang besar, tapi pasar yang likuid, transparan dan investable,” katanya.

Advertisements

Also Read

Tags