Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan Danantara Development Management Fund (DDMF) sebagai instrumen pembiayaan proyek strategis jangka panjang Indonesia. Prabowo menyebut DDMF akan menjadi bagian dari Danantara yang diarahkan untuk membangun kapasitas bangsa dalam jangka panjang.
“Danantara harus menjadi instrumen pembangunan kapasitas bangsa untuk puluhan tahun mendatang,” ujar Prabowo dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).
Menurut Prabowo, DDMF merupakan instrumen yang disiapkan untuk menyiapkan, mengembangkan, dan membiayai proyek strategis jangka panjang yang penting bagi Indonesia, tetapi belum dapat dibiayai melalui investasi komersial jangka pendek.
Dengan skema tersebut, pemerintah juga tidak perlu sepenuhnya membebankan pembiayaan proyek-proyek strategis tersebut kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Melalui DDMF, dana kedaulatan Indonesia akan ditanamkan secara disiplin dan profesional,” katanya.
Salah satu proyek yang disebut Prabowo akan dikembangkan melalui skema tersebut adalah mobil nasional. Pemerintah menargetkan mobil nasional dapat diproduksi secara massal pada akhir 2028. Menurut Prabowo, fasilitas produksi untuk proyek tersebut telah dibangun di Subang, Jawa Barat.
“Kita rencanakan mobil nasional kita, kita produksi secara massal di akhir tahun 2028. Fasilitas sudah dibangun di daerah Subang,” ujarnya.
Selain mobil nasional, Prabowo mengatakan pemerintah juga telah meluncurkan proyek motor nasional. Ekosistem motor nasional disebut mulai berjalan dengan keterlibatan perusahaan swasta dan badan usaha milik negara (BUMN).
“Proyek motor nasional juga telah kita luncurkan. Ekosistem motor nasional sudah bekerja. Dua perusahaan swasta besar telah bekerja. Dua BUMN juga telah mulai produksi motor listrik,” kata Prabowo.
Prabowo juga menjelaskan rencana pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa. Menurutnya, pembangunan tanggul tersebut merupakan kebutuhan mendesak untuk melindungi masyarakat dan kawasan industri di pesisir utara Jawa dari ancaman kenaikan permukaan air laut.
“Kita juga harus membangun Giant Sea Wall. Tanggul besar untuk mengamankan pantai utara Pulau Jawa. Ini mutlak harus kita lakukan. Jangan kita tunggu bencana datang,” ujar Prabowo.
Prabowo mengatakan Indonesia perlu belajar dari Belanda yang telah membangun infrastruktur perlindungan pesisir dalam jangka panjang tanpa menunggu bencana terjadi.
Ia berharap Giant Sea Wall Pantura tidak hanya berfungsi sebagai tanggul pelindung, tetapi juga menjadi bagian dari infrastruktur air bersih, jalur pertumbuhan ekonomi baru, sekaligus proyek rekayasa yang meningkatkan kemampuan teknologi nasional.
“Untuk menyelamatkan puluhan ribu hektare yang sudah mulai tenggelam oleh naiknya laut. Selain itu, Giant Sea Wall kita di pantai utara Jawa harus menjadi infrastruktur air bersih. Harus menjadi jalur pertumbuhan baru dan proyek rekayasa yang membangun kemampuan anak bangsa,” ujarnya.
Prabowo menyebut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menghasilkan teknologi yang akan digunakan dalam pembangunan Giant Sea Wall.
Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan waktu 15-20 tahun untuk diselesaikan. Prabowo mengatakan pembangunan akan dibagi menjadi 15 segmen yang membentang dari Banten hingga Gresik, Jawa Timur.
“Ini waktu yang lama. Saya tidak tahu Presiden keberapa yang akan meresmikan. Tapi saya bertekad Presiden ke-8 akan mulai proyek ini,” kata Prabowo.
Pembangunan Giant Sea Wall Pantura sendiri memiliki skala yang sangat besar. Total panjang tanggul diperkirakan mencapai 574 kilometer dengan estimasi kebutuhan biaya sekitar US$100 miliar.
Infrastruktur tersebut diproyeksikan melindungi sekitar 50 juta penduduk di kawasan pesisir Pantura Jawa serta kawasan ekonomi yang berkontribusi sekitar 38% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Selain itu, terdapat sekitar 70 kawasan industri dan lima kawasan ekonomi poros logistik nasional di sepanjang kawasan yang terdampak proyek tersebut.




