Gapura berbahan bambu serta tanaman hias menyambut warga ketika memasuki Jalan Nusa Indah IV Gang 8, RT.08/RW.04, Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur. Suasana arsi pun terasa ketika berjalan di lingkungan ini.
Kawasan tersebut merupakan media percontohan pencegah krisis planet yang diinisiasi oleh Taufiq Supriadi, Ketua Rukun Tetangga (RT) setempat. Berawal dari lahan tidur yang terbengkalai, ia menyulap kawasan tersebut menjadi ruang yang lebih teratur.
Sebelumnya di sepanjang jalan tersebut ditumbuhi oleh rumput liar. Taufik kemudian melakukan inisiatif dengan menanam berbagai tanaman hias dan tanaman hidroponik gantung.
Dalam merawat tanaman tersebut, ia menggunakan pupuk kompos yang dihasilkan melalui sampah makanan dan dedaunan kering. Limbah ini dikumpulkan dari warga melalui tong komposter yang diletakkan di beberapa sudut di gang tersebut.
Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengajak masyarakat dalam memilah sampah langsung dari sumbernya sehingga dapat mengurangi kiriman limbah ke tempat pembuangan akhir.
Dalam membuat pupuk kompos itu, Taufik juga memanfaatkan 40 lubang resapan biopori sedalam 120 centimeter (cm) untuk mengurai sampah menjadi kompos.
Ia menyebut dengan menggunakan lubang ini sampah dapat lebih mudah terurai karena dalam prosesnya langsung bercampur dengan tanah dan air hujan. “Selain sebagai resapan, lubang ini juga bisa dijadikan media komposter,” ujarnya.
Dalam rangka memanfaatkan sampah organik di RT.08/RW.04 Malaka Jaya, Taufik juga menernak 15 ekor ayam petelur yang bekerja sama dengan lembaga zakat nasional.
Dalam pembudidayaannya ayam-ayam tersebut diberi pakan dari sisa makanan warga sehingga dapat mengurangi sampah organik. Selain itu juga alas kandangnya menggunakan daun kering yang telah dicacah terlebih dahulu.
“Setiap tiga bulan sekali, alas kandangnya kami ayak lalu dijadikan campuran pupuk kompos untuk tanaman,” jelasnya
Melalui cara ini, Taufik memastikan bahwa kotoran ayam tersebut tidak akan menimbulkan bau bagi lingkungan di sekitarnya. Budi daya ayam petelur ini juga sudah memperoleh izin dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta.
Selain menjaga lingkungan agar tetap asri, Taufik juga menginisiasi gerakan ketahanan pangan melalui kolam gizi warga dengan membudidayakan ikan lele dan ikan nila yang hasil panennya dibagikan secara gratis untuk kelompok khusus yakni warga lanjut usia, ibu hamil dan balita
Program lainnya di RT ini yang menarik perhatian ialah dengan menyulap selokan air menjadi kolam untuk menernak ikan lele. “Saluran air yang awalnya kotor, jijik dan bau, saya ubah jadi kolam ikan lele” jelasnya.
Dalam membuat kolam lele ini, Taufik menggunakan setengah dari tinggi selokan “saya buat dua lantai, double decker, tinggi gotnya 60 cm, setengahya (30 cm) kami gunakan untuk ternak lele,” katanya
Ia pun telah melakukan perhitungan terhadap aliran air di selokan ini sehingga dipastikan bahwa air tetap bisa mengalir walaupun setengah dari tinggi got digunakan untuk kolam lele.
Walau membudidayakan lele di selokan, Taufik juga memastikan bahwa lele tersebut layak konsumsi karena diberi pakan magot hasil olahan sampah organik. “Ikannya pakai air bersih, bukan air selokan. Ikan kami pun kami bawa ke SUCOFINDO hasilnya tidak kalah dengan ikan salmon,” jelasnya
Bagi Taufik ketahanan pangan dapat berjalan beriringan dengan ketahanan ekonomi. Ia pun menggandeng mitra UMKM setempat yang digerakkan oleh sejumlah ibu rumah tangga dalam budi daya lele tersebut.
Melalui tangan-tangan mereka hasil panen lele kemudian diolah menjadi berbagai masakan yakni lele tangkap, marinasi dan abon lele dengan harga jual Rp 25 ribu per kemasannya.
Keuntungan bersih sebesar 10% dari penjualan produk olahan lele tersebut kemudian disisihkan untuk keperluan dana kas RT. Sementara sisanya digunakan untuk perkembangan budi daya lele, menggaji karyawan dan operasional dari UMKM tersebut.
Sebagai Ketua RT, Taufik juga memastikan keamanan bagi warganya. Tercatat sebanyak 16 kamera pengawas tersebar di lingkungan RT.08/RW 04 Malaka Jaya. Setiap warga juga memiliki akses terhadap CCTV tersebut sehingga turut berkontribusi menjaga keamanan lingkungannya.
Dalam menjalankan sejumlah program tersebut Taufik tidak berjalan sendiri. Ia dibantu oleh 22 orang warganya yang memiliki tugas dan perannya masing-masing. “Kami sudah membagi siapa penanggung jawabnya dan apa yang dikerjakan supaya bisa berkelanjutan,” jelasnya.
Pria lulusan Magister Teknik, Geodesi Informatika Institut Teknologi Bandung ini juga menuturkan bahwa program ini sudah dijalankan sejak dua tahun terakhir tepatnya pada 14 Oktober 2023.
Tujuannya untuk menumbuhkan sikap gotong royong dan kontribusi warga dalam merawat serta menjaga lingkungannya. “Prinsip saya jangan hanya mengajak warga, tapi juga tumbuhkan keteladanan dan manfaat, maka warga pasti akan turut serta bersama-sama,” tutupnya.
Dari kisah Ketua RT.08/RW 04 Malaka Jaya, Taufik ini dapat menjadi pemantik bahwa ketahanan pangan, ekonomi hingga lingkungan dapat dimulai dari skala rumah tangga. Melalui dukungan dan kesadaran dari warga setempat, dampak berkelanjutan akhirnya dapat dirasakan oleh semua pihak.




