Bitcoin anjlok saat emas cetak rekor, benarkah kripto layak disebut emas digital?

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan Bitcoin dan emas yang berbeda di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian kembali menunjukkan perbedaan karakter kedua aset tersebut. Saat emas mencetak rekor tertinggi, Bitcoin justru mengalami koreksi cukup dalam sehingga narasi Bitcoin sebagai “emas digital” kembali mendapat sorotan.

Advertisements

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis menilai Bitcoin tetap memiliki potensi sebagai aset alternatif investasi. Namun, karakter Bitcoin perlu dipahami berbeda dari emas yang selama ini dikenal sebagai aset safe haven tradisional.

“Menariknya dari fase koreksi tahun ini adalah munculnya apa yang oleh sejumlah analis disebut sebagai ‘the great decoupling’, korelasi Bitcoin dengan emas yang selama ini dianggap bergerak searah sebagai sesama lindung nilai terhadap inflasi, justru terputus. Emas mencetak rekor tertinggi, sementara Bitcoin terkoreksi dalam,” kata Yudhono.

Advertisements

Intip Proyeksi IHSG dan Saham Pilihan Untuk Perdagangan Selasa (18/8)

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan Bitcoin tidak sepenuhnya berperilaku sebagai aset lindung nilai. Bitcoin justru lebih dekat dengan aset berisiko yang pergerakannya dipengaruhi selera risiko investor, kondisi pasar keuangan global, serta arus dana institusional melalui ETF.

“Bitcoin bukan ’emas digital’ dalam arti literal. Emas adalah aset defensif yang bergerak saat ketakutan geopolitik dan krisis kepercayaan memuncak, sementara Bitcoin lebih berperilaku seperti aset pertumbuhan berisiko tinggi (risk asset) yang sangat terikat dengan selera risiko pasar keuangan global, termasuk pergerakan Wall Street dan arus dana ETF institusional,” ujarnya.

Perbedaan tersebut tercermin dari pergerakan harga kedua aset. Berdasarkan data Trading Economics per 17 Agustus 2026, harga emas berada di level US$ 4.398,01 per ons troi, naik 0,51% secara mingguan dan 9,77% secara year-to-date (ytd). Dalam periode yang sama, harga Bitcoin berada di level US$ 63.311, turun 0,87% secara mingguan dan 2,23% secara bulanan.

Meski memiliki karakter berbeda, Yudhono melihat Bitcoin tetap dapat digunakan sebagai bagian dari diversifikasi portofolio. Menurutnya, Bitcoin lebih tepat ditempatkan sebagai pelengkap, bukan pengganti emas, karena memiliki profil risiko dan potensi imbal hasil yang berbeda.

“Justru di sinilah potensi Bitcoin sebagai aset alternatif, bukan sebagai pengganti emas, tapi sebagai pelengkap dengan profil risiko, imbal hasil yang berbeda,” katanya.

Namun, tingginya volatilitas Bitcoin menjadi hal yang perlu diperhatikan investor. Yudhono menyebut volatilitas Bitcoin jauh lebih tinggi dibandingkan emas sehingga alokasi terhadap aset kripto tersebut semestinya disesuaikan dengan tingkat risiko yang mampu ditanggung investor.

“Volatilitas Bitcoin jauh lebih tinggi dibandingkan emas, sejumlah riset menyebut sekitar empat kali lipat. Ini artinya alokasi yang proporsional terhadap risiko semestinya jauh lebih kecil dibandingkan emas dalam portofolio, bukan porsi yang setara,” ujarnya.

Investasi Makin Mudah, Literasi Pasar Modal Jadi Tantangan

Karena itu, Bitcoin dinilai lebih sesuai bagi investor dengan horizon investasi panjang dan toleransi risiko tinggi. Yudhono juga mengingatkan bahwa Bitcoin tidak selalu berfungsi sebagai lindung nilai inflasi dalam jangka pendek karena aset tersebut dapat ikut tertekan ketika bank sentral memperketat likuiditas untuk melawan inflasi.

Dengan karakter tersebut, Yudhono menilai kombinasi Bitcoin dengan emas dan instrumen konvensional lebih tepat dibandingkan menempatkan seluruh dana pada satu jenis aset.

Advertisements

Also Read

Tags