BANYU POS – Aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 14 Agustus 2026 diwarnai oleh dominasi penguatan yang cukup signifikan, khususnya pada saham-saham yang masuk dalam jajaran indeks bergengsi LQ45. Tren positif ini terlihat sangat nyata pada kelompok saham yang memiliki rasio Price to Earnings Ratio (PER) terendah. Para pelaku pasar tampaknya cenderung memilih saham-saham dengan valuasi yang relatif murah di tengah dinamika pasar yang fluktuatif.
Pada hari perdagangan tersebut, total nilai transaksi yang tercatat di bursa mencapai angka Rp12,4 triliun. Angka ini mencerminkan likuiditas pasar yang masih cukup terjaga, meskipun terdapat tekanan dari sisi eksternal. Di sisi lain, investor asing terpantau masih melanjutkan aksi jual bersih (net sell). Pola pelepasan portofolio oleh investor asing ini terjadi baik dari sisi volume transaksi yang mencapai 4,75 miliar saham, maupun dari sisi nilai transaksi bersih yang menembus Rp1,03 triliun. Langkah ini merupakan kelanjutan dari pola pergerakan modal asing pada hari-hari perdagangan sebelumnya, yang mengindikasikan adanya sikap kehati-hatian dari para pemodal global terhadap pasar modal domestik.
Untuk memahami dinamika pergerakan harga saham ini secara lebih mendalam, para pelaku pasar umumnya mengandalkan dua indikator valuasi utama, yaitu Price to Earnings Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV). Rasio harga berbanding laba atau PER merupakan sebuah metrik finansial yang menunjukkan berapa kali lipat harga saham saat ini jika dibandingkan dengan laba bersih per saham yang dihasilkan oleh perusahaan (earnings per share/EPS). Secara sederhana, PER membantu investor untuk menilai apakah harga suatu saham tergolong murah atau mahal berdasarkan kapasitas menghasilkan laba dari emiten tersebut.
Sementara itu, rasio harga berbanding nilai buku atau PBV (Price to Book Value) berfungsi untuk membandingkan harga pasar suatu saham dengan nilai aset bersih perusahaan per saham yang tercatat dalam laporan keuangan. Nilai buku ini mencerminkan nilai riil dari aset yang dimiliki perusahaan setelah dikurangi dengan seluruh kewajibannya. Melalui kombinasi kedua rasio ini, investor dapat memetakan saham-saham mana saja yang sedang diperdagangkan di bawah nilai wajarnya atau memiliki potensi pertumbuhan yang menarik di masa depan.
Kondisi pasar saham domestik pada pertengahan Agustus 2026 ini juga tidak terlepas dari pengaruh sentimen global. Salah satu faktor eksternal yang cukup kuat adalah tekanan yang dialami oleh bursa Wall Street di Amerika Serikat. Para pelaku pasar global saat ini tengah mencermati perkembangan konflik geopolitik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran. Selain ketegangan geopolitik tersebut, perhatian pasar juga tersedot oleh perkembangan dan prospek teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) yang terus berkembang pesat namun juga memicu perdebatan mengenai valuasi sektor teknologi global.
Di dalam negeri, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada keputusan penting otoritas bursa. Salah satunya adalah suspensi perdagangan saham PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) oleh BEI setelah saham tersebut mengalami lonjakan harga yang sangat fantastis hingga mencapai 318%. Menanggapi kebijakan suspensi tersebut, pihak manajemen MDIA akhirnya membuka suara untuk memberikan klarifikasi kepada publik dan otoritas bursa guna menjelaskan volatilitas transaksi yang luar biasa tersebut. Kondisi ini membuat para analis menyarankan agar investor senantiasa mencermati rekomendasi saham secara berkala serta memperhatikan prospek kinerja dari emiten-emiten di sektor bahan baku yang sangat sensitif terhadap perubahan ekonomi global.
Seluruh Saham Termurah Menguat atau Stagnan
Menariknya, pada perdagangan 14 Agustus 2026, tidak ada satu pun saham dalam kelompok PER terendah yang mencatatkan penurunan harga. Seluruh saham di kelompok ini ditutup menguat atau setidaknya mampu bertahan di posisi stagnan. Fenomena ini menunjukkan adanya akumulasi beli yang kuat pada saham-saham dengan valuasi murah di tengah ketidakpastian pasar.
| Kode Saham | Harga Penutupan (Close) | PER (Kali) | PBV (Kali) | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|---|
| INKP | 8.500 | 3,50 | 0,36 | +0,29% |
| BBTN | 1.220 | 3,57 | 0,46 | 0,00% |
| JPFA | 2.320 | 3,74 | 1,32 | +2,65% |
| NCKL | 925 | 5,03 | 1,33 | +1,65% |
| ANTM | 3.070 | 5,41 | 1,90 | +2,33% |
| PGAS | 1.495 | 5,89 | 0,75 | +1,36% |
| BBNI | 3.630 | 6,29 | 0,83 | +0,55% |
| BMRI | 4.170 | 6,40 | 1,37 | +0,97% |
| CPIN | 3.070 | 6,79 | 1,44 | 0,00% |
| INDF | 7.425 | 6,90 | 0,85 | +1,02% |
Sumber: Pusat Data Kontan dan RTI
Berdasarkan data di atas, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menjadi bintang utama di kelompok saham bervaluation murah ini dengan mencatat kenaikan harga tertinggi sebesar 2,65% dan berakhir di level Rp2.320 per saham. Kenaikan signifikan ini disusul oleh emiten pertambangan logam BUMN, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), yang melonjak sebesar 2,33% hingga mencapai harga Rp3.070 per saham.
Di sisi lain, terdapat dua saham yang pergerakannya cenderung mendatar tanpa perubahan harga sama sekali, yaitu PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) yang bertahan di level Rp1.220 per saham, serta PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) yang stagnan di level Rp3.070 per saham. Sementara itu, enam saham lainnya di kelompok ini berhasil membukukan penguatan tipis dalam rentang di bawah 1,7%. Saham-saham tersebut meliputi INKP (+0,29%), NCKL (+1,65%), PGAS (+1,36%), BBNI (+0,55%), BMRI (+0,97%), dan INDF (+1,02%). Salah satu poin penting yang layak dicermati adalah posisi PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) yang memegang status dengan rasio PBV terendah di antara seluruh 20 saham gabungan yang dianalisis, yakni hanya sebesar 0,36 kali, mengindikasikan harga pasarnya saat ini jauh di bawah nilai buku aset bersihnya.
MDKA Melesat 3,94%, MBMA Melanjutkan Pemulihan
Berbeda dengan kelompok saham termurah yang kompak bergerak positif atau stagnan, kelompok saham dengan valuasi yang bervariasi dan cenderung lebih tinggi menunjukkan dinamika pergerakan yang lebih beragam. Sebagian besar saham di kelompok ini juga berhasil ditutup di zona hijau, dipimpin oleh sektor pertambangan mineral dan energi.
| Kode Saham | Harga Penutupan (Close) | PER (Kali) | PBV (Kali) | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|---|
| CUAN | 825 | 137,50 | 15,00 | -1,79% |
| GOTO | 50 | 50,00 | 1,79 | 0,00% |
| UNTR | 23.275 | 45,37 | 0,90 | +0,87% |
| INDY | 2.560 | 36,57 | 0,62 | +2,40% |
| BUMI | 181 | 30,17 | 2,26 | +1,69% |
| AMMN | 4.270 | 28,47 | 3,32 | +1,18% |
| MBMA | 525 | 27,63 | 2,06 | +2,94% |
| DEWA | 450 | 26,47 | 2,26 | +0,90% |
| BRPT | 1.870 | 25,62 | 4,03 | +0,27% |
| MDKA | 2.900 | 18,12 | 4,90 | +3,94% |
Sumber: Pusat Data Kontan dan RTI
Pada kelompok saham ini, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tampil sebagai emiten dengan performa paling gemilang. Saham MDKA berhasil mencatat kenaikan harga terbesar di kelompoknya pada perdagangan 14 Agustus 2026, yaitu melesat sebesar 3,94% untuk ditutup pada level Rp2.900 per saham. Lompatan harga ini memberikan angin segar bagi para pemegang sahamnya.
Sentimen positif juga dirasakan oleh anak usahanya, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Saham MBMA mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan mencatatkan kenaikan sebesar 2,94% ke level Rp525 per saham. Pergerakan ini menjadi momen krusial bagi MBMA untuk bangkit setelah pada hari perdagangan sebelumnya sempat mengalami penurunan harga yang cukup tajam akibat tekanan jual.
Sebaliknya, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menjadi satu-satunya saham yang mengalami pelemahan di kelompok ini. Saham CUAN ditutup melemah sebesar 1,79% ke level Rp825 per saham. Meskipun mengalami koreksi, CUAN masih mencatatkan rasio PER tertinggi di antara seluruh saham yang ada di dalam daftar, yaitu mencapai 137,50 kali dengan PBV sebesar 15,00 kali, yang menunjukkan ekspektasi pertumbuhan yang sangat tinggi dari para pelaku pasar terhadap emiten tersebut.
GOTO Tetap Stagnan dengan Aktivitas Minim
Sementara itu, perhatian khusus juga tertuju pada pergerakan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Saham emiten teknologi raksasa ini terpantau masih belum mampu keluar dari tekanan stagnasi dan tetap bertahan di level harga Rp50 per saham pada penutupan perdagangan 14 Agustus 2026. Level harga ini sering kali dikenal sebagai batas harga terendah atau harga “gocap” di pasar reguler BEI.
Selain harganya yang tidak bergerak, aktivitas transaksi pada saham GOTO juga tergolong sangat minim. Nilai transaksi saham GOTO pada hari itu tercatat hanya sebesar Rp497,3 juta. Angka transaksi yang sangat kecil ini menjadikan GOTO sebagai saham dengan nilai transaksi terkecil di antara seluruh 20 saham gabungan yang dianalisis dalam ulasan ini. Hal ini mencerminkan sikap wait-and-see yang sangat kuat dari para investor retail maupun institusi terhadap prospek bisnis dan profitabilitas jangka panjang dari raksasa teknologi tanah air tersebut.




