Harga Minyak Melonjak, Rupiah Melemah ke Rp 17.862 per Dolar AS

Hikma Lia

BANYU POS – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan yang cukup signifikan pada perdagangan hari Selasa, 18 Agustus 2026. Berdasarkan data yang dihimpun dari Bloomberg di pasar spot, mata uang Garuda tercatat melemah sebesar 0,36 persen secara harian, yang memosisikannya berada di level Rp 17.862 per dolar AS pada penutupan perdagangan. Penurunan ini mencerminkan adanya tekanan eksternal yang kuat yang memengaruhi sentimen pelaku pasar terhadap mata uang negara berkembang, khususnya rupiah yang harus menghadapi dinamika ekonomi global yang sedang bergejolak.

Advertisements

Sementara itu, jika merujuk pada data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis resmi oleh Bank Indonesia (BI), rupiah juga mencatatkan pelemahan meskipun dengan persentase yang sedikit berbeda. Rupiah berdasarkan kurs referensi Jisdor berada di level Rp 17.856 per dolar AS, atau mengalami penurunan sebesar 0,11 persen apabila dibandingkan dengan posisi penutupan pada perdagangan hari Jumat, 14 Agustus 2026 sebelumnya. Perbedaan pergerakan antara pasar spot harian dan kurs referensi Jisdor ini menunjukkan bahwa volatilitas transaksi valuta asing bergerak sangat dinamis, terutama dipicu oleh respons cepat para pelaku pasar terhadap perkembangan geopolitik global yang terjadi selama beberapa hari terakhir.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan pandangannya mengenai penyebab utama di balik melemahnya nilai tukar rupiah ini. Menurut analisisnya, faktor pemicu utama dari depresiasi rupiah adalah lonjakan harga minyak mentah dunia yang kembali merangkak naik. Kenaikan harga komoditas energi ini tidak terlepas dari meningkatnya eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya setelah adanya pernyataan krusial dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Advertisements

Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat tidak akan mengupayakan perpanjangan kesepakatan gencatan senjata dengan pihak Iran. Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran global akan pecahnya konflik yang lebih luas di kawasan penghasil minyak mentah terbesar dunia tersebut. Tidak hanya itu, Trump juga melontarkan klaim sepihak bahwa Amerika Serikat kini memegang kendali penuh atas Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur pelayaran logistik dan distribusi minyak paling vital secara global. Klaim sepihak dari pihak Gedung Putih ini langsung mendapatkan bantahan keras dari pemerintah Iran, yang menegaskan kedaulatan dan pengaruh militer mereka di kawasan selat strategis tersebut. Ketegangan diplomatik ini semakin diperkeruh oleh ancaman Trump yang menyatakan akan membom Oman secara habis-habisan apabila negara tersebut dinilai menghalangi langkah AS, meskipun hingga saat ini dasar hukum maupun alasan konkret di balik ancaman terhadap Oman tersebut masih belum jelas.

Di tengah situasi ekonomi makro yang penuh dengan ketidakpastian global ini, sektor riil domestik menunjukkan dinamika yang menarik untuk dicermati, salah satunya tercermin dalam laporan mengenai Laba Avian Brands (AVIA) Tumbuh 20,7%, Tetap Ngebut Meski Harga Cat Naik 2 Kali. Kinerja positif dari emiten produsen cat ini menunjukkan bahwa meskipun industri dihadapkan pada tantangan kenaikan biaya bahan baku akibat inflasi energi dan pelemahan nilai tukar, beberapa perusahaan lokal masih mampu mempertahankan pertumbuhan laba bersih yang solid melalui strategi bisnis yang tepat.

Kembali pada perkembangan situasi di Timur Tengah, ketegangan diplomatik antara AS dan Iran tampaknya telah memasuki babak baru yang lebih mengkhawatirkan. Ibrahim Assuaibi mengutip pernyataan dari seorang pejabat senior di Iran yang mengungkapkan bahwa negara tersebut kini akan beralih ke postur militer yang bersifat sepenuhnya ofensif. Keputusan ekstrem ini diambil oleh pihak Teheran lantaran seluruh upaya negosiasi dan diplomasi yang bertujuan untuk mengakhiri konflik serta menciptakan perdamaian permanen dengan pihak Amerika Serikat telah menemui jalan buntu yang sangat mengkhawatirkan bagi stabilitas keamanan global.

Perubahan postur militer Iran menjadi sepenuhnya ofensif ini memberikan sinyal kuat kepada pasar komoditas bahwa risiko gangguan pasokan minyak mentah dari kawasan Teluk Persia kini berada pada level tertinggi. Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa kekhawatiran akan gangguan pasokan ini memicu spekulasi mengenai risiko inflasi global yang didorong oleh sektor energi. Risiko inflasi yang terus berlanjut dan sulit diredam ini membuat para pelaku pasar global belum sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan adanya kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat, pada akhir tahun ini.

Ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter global membuat para pelaku pasar saat ini memilih untuk bersikap sangat hati-hati dalam menempatkan portofolio investasi mereka. Fokus perhatian para investor global kini tertuju pada rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Juli yang dijadwalkan akan dipublikasikan pada hari Rabu. Risalah rapat tersebut dinilai sangat krusial karena diharapkan dapat memberikan petunjuk dan kejelasan lebih lanjut mengenai proyeksi kebijakan suku bunga The Fed ke depan, apakah mereka akan mempertahankan sikap ketat atau mulai melunak di tengah bayang-bayang inflasi energi yang kembali mengancam.

Di tingkat domestik, perhatian para pelaku pasar keuangan dalam negeri kini tertuju pada agenda penting Bank Indonesia. Bank sentral Indonesia tersebut mulai menyelenggarakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yaitu pada tanggal 18 hingga 19 Agustus 2026. Keputusan mengenai arah kebijakan moneter dan penetapan suku bunga acuan domestik atau BI Rate dijadwalkan akan diumumkan secara resmi pada hari Rabu, 19 Agustus 2026.

Terkait hasil RDG tersebut, konsensus pasar yang disampaikan oleh Ibrahim Assuaibi memperkirakan bahwa Bank Indonesia akan memilih untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Keputusan untuk menahan suku bunga acuan ini dinilai realistis setelah Bank Indonesia sebelumnya telah melakukan langkah pengetatan moneter yang cukup agresif dengan menaikkan suku bunga acuan total sebesar 75 basis poin sepanjang periode April hingga Juni 2026. Langkah agresif tersebut sebelumnya diambil guna mengantisipasi tekanan inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari gempuran sentimen eksternal yang fluktuatif.

Selain keputusan mengenai angka suku bunga acuan itu sendiri, para pelaku pasar juga akan mencermati dengan sangat detail pandangan dan pernyataan resmi dari Bank Indonesia mengenai beberapa indikator ekonomi penting lainnya. Fokus pasar akan tertuju pada bagaimana asesmen Bank Indonesia terhadap stabilitas nilai tukar rupiah ke depan, pengelolaan inflasi domestik agar tetap berada dalam sasaran target, kondisi likuiditas di sektor perbankan nasional, serta prospek pertumbuhan penyaluran kredit hingga akhir tahun nanti. Sikap, panduan kebijakan, serta langkah intervensi yang akan diambil oleh Bank Indonesia akan menjadi salah satu penentu utama arah pergerakan nilai tukar rupiah berikutnya di tengah ketidakpastian global, terutama setelah melewati fase stabilisasi yang cukup agresif selama beberapa bulan terakhir di bawah kepemimpinan Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Perkembangan kondisi makroekonomi yang fluktuatif ini juga memengaruhi bagaimana para pelaku pasar modal dan investor ritel mengatur strategi investasi mereka, seperti yang diulas dalam laporan mengenai Pasar Makin Selektif, Mirae Asset Sekuritas Genjot Layanan Wealth Management. Langkah strategis yang diambil oleh perusahaan sekuritas ini menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian pasar saham dan nilai tukar, para investor kini menjadi jauh lebih selektif dalam menempatkan dana mereka, sehingga layanan pengelolaan kekayaan yang dipersonalisasi menjadi sangat dibutuhkan untuk meminimalkan risiko portofolio.

Melihat berbagai sentimen yang berkembang baik dari sisi geopolitik global, pergerakan harga komoditas energi, hingga antisipasi kebijakan moneter domestik dan global, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan menghadapi tekanan yang cukup besar pada perdagangan selanjutnya. Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa pada perdagangan hari Rabu, 19 Agustus 2026, nilai tukar rupiah akan bergerak secara fluktuatif namun berkecenderungan ditutup melemah. Rentang pergerakan rupiah untuk esok hari diperkirakan akan berada di kisaran Rp 17.860 hingga Rp 17.920 per dolar AS. Rentang ini mencerminkan sikap waspada pasar yang menantikan rilis resmi hasil RDG Bank Indonesia serta risalah FOMC dari Amerika Serikat.

Advertisements

Also Read

Tags