Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Dony Oskaria mengungkapkan proses penyehatan dan restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya masih belum selesai. Sejumlah persoalan di perusahaan konstruksi pelat merah tersebut masih harus dibereskan secara bertahap.
Dony mengatakan, proses restrukturisasi BUMN Karya cukup kompleks karena persoalan tidak hanya berada di tingkat perusahaan induk, tetapi juga menjalar hingga anak dan cucu perusahaan.
“Perbaikan ini belum selesai. Saya sampaikan juga bahwa BUMN Karya belum kita rapikan secara tuntas,” kata Dony kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/8).
Menurut Dony, salah satu persoalan utama yang dihadapi BUMN Karya adalah besarnya liabilitas atau utang perusahaan. Selain itu, sejumlah anak perusahaan yang berada di bawah masing-masing BUMN Karya juga menghadapi masalah.
Baca juga:
- Kinerja Keuangan Anak Usaha PTPP Merah Jelang Merger BUMN Karya, Apa Sebabnya?
- Danantara Minta Himbara Topang Pemulihan ADHI – PTPP, Merger BUMN Karya Ditunda?
- Prabowo Ingin Tutup Ratusan Perusahaan BUMN, Bagaimana Nasib Karyawannya?
Dia menuturkan, masing-masing BUMN Karya memiliki lebih dari 20 anak perusahaan. Bahkan, sejumlah anak perusahaan tersebut masih memiliki perusahaan turunan yang turut menghadapi persoalan.
“Kita mesti bereskan itu one by one, satu per satu. Di masing-masing BUMN Karya itu punya anak lagi, ada cucu, semuanya bermasalah juga,” kata Dony.
Tak Ingin Ambil Langkah Instan
Danantara tidak ingin mengambil langkah instan dalam menyelesaikan persoalan BUMN Karya. Menurut dia, keputusan seperti merger atau pailit memang dapat mempercepat proses restrukturisasi, tetapi berpotensi menimbulkan dampak lebih luas terhadap pekerja, kreditur, investor, maupun ekosistem bisnis.
“Kalau kita mau instan tanpa memikirkan dampaknya terhadap orang-orang terdampak, itu gampang saja sebetulnya. Kita bisa merger, bisa kita pailitkan dan lain sebagainya,” katanya.
Karena itu, Danantara memilih melakukan penyehatan secara bertahap dengan mempertimbangkan dampak dari setiap keputusan.
Ia mengatakan, proses tersebut mencakup pemeriksaan model bisnis hingga struktur biaya masing-masing perusahaan. Langkah itu dilakukan agar perusahaan-perusahaan BUMN Karya tidak hanya terlihat sehat di permukaan, tetapi benar-benar memiliki kondisi fundamental yang kuat.
“Kita perbaiki menjadi kemudian positif dan baik lagi secara finansial maupun secara bisnis satu per satu. Model bisnisnya kita lihat, kita perhatikan, cost structure-nya kita cek,” katanya.
Dony menargetkan restrukturisasi BUMN Karya dapat diselesaikan pada akhir 2026. Namun, dia belum dapat memberikan kepastian karena dinamika penyelesaian setiap perusahaan berbeda.
“Targetnya kapan? Saya enggak bisa pastikan karena berproses terus. Saya tetap mengupayakan akhir tahun ini sudah selesai,” kata Dony.
Dia mencontohkan masih terdapat sejumlah persoalan yang harus ditangani, termasuk yang berkaitan dengan proyek LRT dan Wika Realty.
“Dinamikanya di dalam menyelesaikan ini cukup rumit. Teman-teman juga tentu tahu ada yang kasus LRT, nanti ada lagi yang Wika Realty, ada segala macam. Ya satu-satu kita rapikan,” katanya.
Ia juga menjelaskan, tujuan utama restrukturisasi bukan sekadar membuat kondisi perusahaan terlihat membaik untuk sementara. Danantara, kata dia, ingin memastikan BUMN Karya yang telah disehatkan memiliki fundamental bisnis dan keuangan yang benar-benar kuat.
“Intinya saya tidak ingin bahwa sudah dibetulin, seolah betul nanti meledak lagi. Saya tidak ingin bekerja seperti itu,” kata Dony.




