Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan jumlah bauran energi baru terbarukan (EBT) Indonesia sebesar 17% pada kuartal II 2026. Bauran tersebut turun 1% dibandingkan kuartal pertama tahun ini yang mencapai 18%.
“Mungkin ada pembangkit gas dan lainnya yang sedikit masuk, jadi (bauran energinya) terkoreksi ke angka 16,8-17%,” kata Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Eniya Listiani Dewi dalam acara The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026, Rabu (19/8).
Tahun ini pemerintah menargetkan jumlah bauran energi mencapai 16,46%. Posisi capaian bauran energi kuartal ini tetap melampaui target meski terjadi penurunan persentase. Kontribusi bauran EBT tersebut berasal dari pembangkit tenaga air, bio energi, panas bumi, surya, dan angin.
“Porsi (bauran) EBT yang terbesar sebetulnya berasal dari biodiesel, sebanyak 5,2%, diikuti PLTA 3,5%, pembangkit panas bumi 2,2%, dan PLTS sebanyak 0,5%. Pembangkit surya ini memang masih menjadi yang terkecil (porsinya),” ujarnya.
Baca juga:
- Riset Peneliti Unpad: Campuran B25 Lebih Ideal Dibandingkan B50 di Indonesia
- Riset: B50 Berpotensi Tinggalkan Utang Karbon hingga 122 Tahun
- Chile Cetak Rekor Bauran Energi Listrik 2025, Ditopang Energi Surya dan Angin
Dalam Rencana umum penyediaan tenaga listrik (RUPTL), ditargetkan bauran EBT sudah mencapai 34,3% pada 2034. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan angka tersebut di luar ekspektasi mereka.
“Kami hitung betul-betul, Insya Allah nanti 2034 baurannya 34%. Di 2030 an nanti sudah mencapai lebih dari 21%,” kata Darmawan dalam paparannya di acara Diseminasi RUKN dan RUPTL 2025-2034, Senin (2/6/25).
Dalam paparannya disebutkan bahwa target ini 2,5 kali lipat lebih besar dibandingkan capaian bauran EBT 2024 yang mencapai 12%. Berdasarkan paparannya, berikut target bauran EBT dalam RUPTL:
2025: 15,9%
2026: 16,4%
2027: 17,3%
2028: 19,1%
2029: 19,7%
2030: 21%
2031: 26,1%
2032: 29%
2033: 32,5%
2034: 34,3%
Menurut Darmawan, target bauran EBT dalam RUPTL pada 2031-2034 lebih tinggi dibandingkan target yang dicanangkan dalam rencana umum ketenagalistrikan nasional (RUKN). Pada RUKN, bauran ebt pada 2031 hanya ditargetkan 23,9%, 2032 sebesar 26%, 2033 dan 2034 mencapai 29,4%.
“Dengan adanya RUPTL kami semakin yakin visi misi mulia ini insya allah akan tercapai,” ucapnya.
Namun demikian dalam RUPTL terbaru, masih ada rencana pembangunan pembangkit fosil sebanyak 16,6 gigawatt yang terdiri dari gas 10,3 GW dan batu bara 6,3 GW. Untuk mencapai target, Darmawan mengatakan, dibutuhkan penambahan pembangkit EBT 120 megawatt jika Indonesia ingin menambah 1 gigawatt pembangkit fosil.
Dengan demikian, bauran EBT tidak turun setiap ada penambahan energi fosil. “Untuk menjaga agar bauran energi EBT-nya tetap 12% tidak turun, kita harus nambah 120 megawatt untuk mengiringi 1000 megawatt dari fosil pembangkit itu,” katanya.




