Potensi Raksasa Data Center Indonesia, Telkom Hingga DCI Siap Ekspansi

Hikma Lia

Bisnis pusat data atau data center kini telah bertransformasi menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan baru bagi sejumlah emiten terkemuka di Indonesia. Seiring dengan lonjakan kebutuhan komputasi, kecerdasan buatan (AI), dan digitalisasi yang kian masif, emiten-emiten besar seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), hingga PT DCI Indonesia Tbk (DCII) tengah terlibat dalam kompetisi ketat untuk membangun eksposur pusat data mereka. Masing-masing perusahaan menerapkan model bisnis, skala operasional, dan pendekatan strategis yang berbeda demi mengamankan pangsa pasar di industri yang sangat potensial ini.

Advertisements

Berdasarkan laporan riset mendalam dari BRI Danareksa Sekuritas yang bertajuk Mapping Indonesia’s Data Center Race: Early-Stage Growth with a Deep Pipeline, pasar pusat data di Indonesia dinilai masih berada pada tahap awal pertumbuhan (early-stage growth). Fase awal ini membuka ruang ekspansi yang sangat luas, baik bagi perusahaan yang telah memiliki portofolio aset pusat data yang beroperasi maupun bagi pemain baru yang tengah gencar membangun kapasitas baru. Kondisi pasar yang masih berkembang ini memberikan peluang emas bagi para emiten untuk mengamankan keunggulan kompetitif mereka sejak dini.

Riset tersebut menempatkan TLKM, ISAT, DSSA, dan DCII sebagai emiten dengan eksposur paling langsung terhadap pembangunan infrastruktur pusat data di tanah air. Sementara itu, beberapa emiten lain seperti PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV), PT Sinergi Inti Andalam Prima Tbk (INET), dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dinilai masih berada pada tahap yang lebih awal, namun tetap memiliki potensi yang layak untuk dipantau perkembangannya. Perbedaan posisi dan kesiapan dari keempat emiten utama tersebut terlihat sangat jelas dari kepemilikan aset, kapasitas daya yang dikelola, hingga strategi pengembangan jangka panjang masing-masing entitas.

Advertisements

Mengingat pasar yang masih berada pada tahap awal, faktor kepastian pasokan daya listrik serta skala operasi yang efisien akan menjadi penentu utama bagi perusahaan yang mampu memimpin pasar. Kemampuan untuk mengamankan pasokan energi yang stabil dan andal menjadi kunci krusial dalam operasional harian pusat data, terutama untuk menarik minat para pelanggan berskala besar atau hyperscaler.

DCI Indonesia Memimpin dengan Skala Operasi Terbesar

Di antara para pemain yang ada, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) tercatat sebagai salah satu pemain yang paling matang dan berpengalaman dari sisi bisnis pusat data komersial. Saat ini, perusahaan telah mengoperasikan kapasitas IT sebesar 128 megawatt (MW) yang tersebar di empat fasilitas strategis. Keunggulan operasional ini menempatkan DCII sebagai pemimpin pasar yang memiliki rekam jejak keandalan sangat tinggi.

Dua fasilitas utama berskala besar (hyperscale) milik DCII terletak di lokasi yang strategis. Fasilitas pertama berada di H1 Cibitung dengan kapasitas operasional sebesar 73 MW, sedangkan fasilitas kedua berada di H2 Karawang dengan kapasitas sebesar 27 MW. Kedua fasilitas ini masih memiliki ruang ekspansi yang sangat luas untuk memenuhi permintaan masa depan. Berdasarkan hasil riset, pusat data di H1 Cibitung dapat ditingkatkan kapasitasnya hingga mencapai 220 MW, sementara fasilitas H2 Karawang dirancang untuk dapat dikembangkan hingga melampaui kapasitas 600 MW.

Selain fasilitas hyperscale, DCII juga mengoperasikan dua fasilitas pusat data kategori edge yang berlokasi di kota-kota besar, yaitu di Jakarta dengan kapasitas 19 MW dan di Surabaya dengan kapasitas 9 MW. Kehadiran fasilitas edge ini sangat penting untuk mendukung kebutuhan transfer data dengan latensi rendah di pusat-pusat ekonomi utama.

Dengan portofolio yang solid ini, DCII menjadi satu-satunya emiten yang dikategorikan oleh BRI Danareksa Sekuritas sebagai listed pure-play data center dengan skala operasi yang sudah berjalan secara nyata dan terbukti menghasilkan kinerja optimal. Untuk rencana jangka panjang, perusahaan juga telah mempersiapkan lahan ekspansi yang sangat luas melalui proyek H3 Sky DC Park di Bintan. Fasilitas masa depan ini memiliki potensi kapasitas yang dapat dikembangkan hingga lebih dari 1.000 MW dengan dukungan cadangan lahan sekitar 700 hektare.

Guna mendukung kelancaran seluruh rencana ekspansi ambisius tersebut, DCII telah berhasil mengamankan fasilitas pinjaman senilai Rp 17 triliun dari Bank Central Asia (BCA). Dukungan pendanaan yang sangat kuat ini memberikan fleksibilitas finansial yang signifikan bagi perusahaan untuk terus meningkatkan kapasitas infrastrukturnya tanpa kendala likuiditas.

Langkah Strategis Telkom Memperbesar NeutraDC

Berbeda dengan pendekatan DCII yang fokus sebagai pemain murni, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menggarap ceruk pasar ini melalui anak usahanya, NeutraDC. Saat ini, NeutraDC mengelola kapasitas IT yang telah beroperasi sebesar 90,4 MW, dengan target ambisius untuk mencapai total kapasitas operasional hingga 300 MW pada tahun 2030 mendatang.

Salah satu motor pertumbuhan utama bagi NeutraDC adalah pengembangan kampus pusat data terintegrasi di Cikarang. Kampus pertama di lokasi ini dirancang dengan kapasitas desain sebesar 21,5 MW, di mana sebesar 3,5 MW di antaranya telah aktif beroperasi. Sementara itu, kapasitas sebesar 18 MW lainnya telah selesai dibangun dan telah terikat kontrak, namun saat ini masih dalam proses penyesuaian teknis untuk memenuhi kebutuhan spesifik dari para penyewa.

Sebagai langkah antisipasi pertumbuhan permintaan di masa depan, Telkom juga telah mengamankan ketersediaan lahan untuk pembangunan kampus kedua di lokasi yang sama di Cikarang. Dengan demikian, total kapasitas yang direncanakan untuk wilayah Cikarang saja diproyeksikan dapat mencapai 120 MW. Selain di Cikarang, NeutraDC juga memperkuat jangkauan geografisnya dengan mengoperasikan fasilitas pusat data berkapasitas 18 MW di Batam serta fasilitas berkapasitas 17,4 MW di Singapura.

Strategi Telkom dalam mengembangkan bisnis ini tidak hanya terbatas pada pembangunan infrastruktur fisik semata. Perseroan saat ini tengah menjalankan proses divestasi minoritas sebesar 70% saham di NeutraDC. Langkah strategis ini bertujuan untuk menggandeng operator pusat data global terkemuka sebagai mitra strategis jangka panjang.

Berdasarkan laporan media yang dicatat oleh BRI Danareksa Sekuritas, nilai valuasi NeutraDC dalam rencana transaksi divestasi ini diperkirakan berada pada kisaran antara US$ 1 miliar (setara dengan Rp 17,7 triliun menggunakan asumsi kurs Rp 17.705 per dolar AS) hingga US$ 1,5 miliar (setara dengan Rp 26,5 triliun). Masuknya mitra strategis berskala global ini diharapkan dapat mendongkrak kemampuan operasional dan memperluas jaringan pemasaran NeutraDC, khususnya dalam menggaet pelanggan kelas kakap dari kategori hyperscaler internasional.

Indosat Mengintegrasikan Infrastruktur Pusat Data dan Teknologi AI

PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) memilih jalur pengembangan bisnis yang unik dengan mengintegrasikan infrastruktur fisik pusat data dengan teknologi kecerdasan buatan (AI). Eksposur bisnis pusat data ISAT diperoleh melalui kepemilikan saham sebesar 25% di BDx Indonesia, serta potensi kepemilikan sekitar 30% saham di Zankore, sebuah perusahaan penyedia layanan AI neocloud yang dikembangkan secara kolaboratif bersama dengan Ooredoo.

Melalui BDx Indonesia, ISAT saat ini mengoperasikan kapasitas sebesar 30 MW yang tersebar di tiga fasilitas edge. Selain itu, BDx Indonesia juga memiliki fasilitas hyperscale andalan bernama CGK4 yang berlokasi di Jatiluhur dengan kapasitas awal sebesar 72 MW. Fasilitas CGK4 ini dirancang secara modular sehingga kapasitasnya dapat terus ditingkatkan hingga menyentuh angka 500 MW di masa depan. BDx Indonesia juga tengah mempercepat pembangunan fasilitas CGK5 yang diproyeksikan akan menyumbang tambahan kapasitas baru sebesar 110 MW. Untuk menjamin kestabilan operasional seluruh fasilitas ini, BDx telah mengamankan komitmen pasokan listrik raksasa dari PLN sebesar 1,2 GW.

Di sisi lain, potensi pertumbuhan ISAT yang sangat besar juga datang dari eksposur bisnis AI melalui Zankore. Perusahaan patungan ini merencanakan pembangunan fase pertama proyek AI Factory dengan kapasitas awal sebesar 200 MW pada paruh pertama tahun 2027. Kapasitas ini direncanakan akan terus ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 1 GW dalam kurun waktu tiga tahun sejak beroperasi.

Analisis dari BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan bahwa porsi kepemilikan saham ISAT di Zankore dapat memberikan kontribusi nilai tambah yang sangat signifikan bagi kinerja keuangan perseroan. Dengan menggunakan asumsi valuasi Zankore sebesar lima kali EV/EBITDA, nilai kepemilikan 30% saham ISAT di perusahaan tersebut diperkirakan dapat mencapai Rp 28,7 triliun. Dampak dari perhitungan valuasi ini berpotensi mendongkrak target harga saham ISAT secara signifikan dari posisi Rp 2,500 menjadi kisaran Rp 3.350 per lembar saham.

Dian Swastatika Sentosa Merambah Segmen Hyperscale AI

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga tidak ketinggalan dalam mengamankan posisinya di industri pusat data tanah air melalui lini bisnis SM+. Pada tahap awal perkembangannya, DSSA telah mengoperasikan sebanyak 24 unit edge data center yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia dengan total kapasitas terpasang mencapai 10 MW.

Untuk melompat ke skala bisnis yang lebih tinggi, DSSA kini tengah mengembangkan proyek SMX01, sebuah fasilitas pusat data kategori hyperscale yang berlokasi di Jakarta. Proyek strategis ini dibangun melalui skema usaha patungan (joint venture) bersama dengan raksasa teknologi asal Korea Selatan, LG. Nilai investasi total untuk pembangunan proyek SMX01 ini diperkirakan mencapai US$ 300 juta atau setara dengan Rp 5,31 triliun.

Pembangunan tahap pertama dari fasilitas SMX01 dirancang khusus untuk menghasilkan kapasitas IT sebesar 18 MW, yang nantinya dapat terus ditingkatkan hingga kapasitas maksimal sebesar 60 MW. Fasilitas SMX01 ini memiliki keunggulan kompetitif tersendiri karena dirancang khusus untuk mampu menangani beban kerja komputasi AI yang sangat berat. Hal ini diwujudkan melalui penerapan teknologi sistem pendingin cair (liquid cooling) yang canggih serta sertifikasi standar keandalan tinggi Tier IV.

Melalui realisasi proyek SMX01 ini, DSSA menunjukkan arah strategis yang jelas untuk tidak hanya mengandalkan pendapatan dari bisnis edge data center skala kecil yang sudah berjalan, melainkan mulai merambah ke segmen pasar hyperscale yang menawarkan margin bisnis lebih tinggi seiring dengan meningkatnya kebutuhan komputasi tingkat lanjut.

Adu Cepat Mengonversi Pipeline Menjadi Pendapatan Riil

Meskipun keempat emiten utama tersebut sama-sama memiliki ruang ekspansi yang sangat besar, tingkat kematangan operasional dan fokus bisnis yang mereka miliki menunjukkan perbedaan yang cukup kontras. DCII saat ini unggul dari sisi kematangan operasional sebagai satu-satunya pemain murni (pure-play) dengan kapasitas terpasang terbesar yang sudah menghasilkan pendapatan stabil. Di sisi lain, TLKM memanfaatkan jaringan infrastruktur telekomunikasi yang luas untuk mendukung ekspansi NeutraDC yang kini tengah bersiap menyambut mitra strategis global.

Sementara itu, ISAT menempuh jalur inovatif dengan mengawinkan infrastruktur fisik pusat data dengan ekosistem teknologi AI yang memiliki potensi pertumbuhan eksponensial di masa depan. Di sudut lain, DSSA memperkuat posisinya dengan membangun fasilitas hyperscale berspesifikasi tinggi yang ramah terhadap kebutuhan teknologi AI masa kini.

Perbedaan pendekatan strategis ini mengindikasikan bahwa peta persaingan industri pusat data di Indonesia ke depan tidak lagi sekadar tentang siapa yang memiliki rencana proyek terbesar di atas kertas. Faktor penentu kesuksesan yang sesungguhnya terletak pada kemampuan masing-masing emiten dalam mengisi kapasitas yang tersedia dengan cepat, memenangkan kontrak dari pelanggan berkualitas, mengamankan struktur pembiayaan yang efisien, serta mengoperasikan fasilitas dengan tingkat efisiensi energi yang tinggi. Kecepatan dalam mengubah rencana pembangunan (pipeline) menjadi sumber pendapatan riil akan menjadi pembeda utama kinerja keuangan para emiten ini di masa mendatang.

Pihak analis dari BRI Danareksa Sekuritas menegaskan bahwa emiten-emiten ini masih berada pada fase awal dari siklus pertumbuhan panjang industri pusat data mereka. Rencana penambahan kapasitas yang telah dipersiapkan oleh masing-masing perusahaan memberikan fondasi yang sangat kokoh untuk mendukung ekspansi bisnis yang berkelanjutan di masa depan.

Secara regional, Indonesia memiliki peluang emas untuk mengambil peran yang jauh lebih besar dalam rantai pasok industri pusat data di Asia Tenggara. Namun, distribusi peluang pertumbuhan ini tidak merata di seluruh wilayah Indonesia. Hingga saat ini, wilayah Jakarta masih menjadi episentrum utama dengan menguasai sekitar 55% dari total kapasitas terpasang secara nasional.

Untuk memberikan gambaran peta persaingan regional yang lebih jelas, berikut adalah data proyeksi kapasitas pusat data di kawasan Asia Tenggara pada semester I tahun 2026 berdasarkan hasil riset Cushman & Wakefield yang dikutip dalam laporan BRI Danareksa Sekuritas:

Singapura
– Pasar utama: Singapura
– Kapasitas pusat data yang sudah beroperasi: 1.043 MW
– Kapasitas dalam tahap pembangunan (under construction): 20 MW
– Kapasitas yang masih dalam tahap perencanaan: 237 MW

Malaysia
– Pasar utama: Johor
– Kapasitas pusat data yang sudah beroperasi: 1.110 MW
– Kapasitas dalam tahap pembangunan (under construction): 602 MW
– Kapasitas yang masih dalam tahap perencanaan: 3.088 MW

Indonesia
– Pasar utama: Jakarta
– Kapasitas pusat data yang sudah beroperasi: 322 MW
– Kapasitas dalam tahap pembangunan (under construction): 395 MW
– Kapasitas yang masih dalam tahap perencanaan: 1.699 MW

Thailand
– Pasar utama: Bangkok
– Kapasitas pusat data yang sudah beroperasi: 134 MW
– Kapasitas dalam tahap pembangunan (under construction): 895 MW
– Kapasitas yang masih dalam tahap perencanaan: 2.084 MW

Berdasarkan analisis data geografis tersebut, pertumbuhan kapasitas pusat data di wilayah Jakarta sebagian besar didorong oleh kekuatan permintaan domestik yang berasal dari sektor korporasi, finansial, dan platform digital lokal. Sebaliknya, wilayah Batam diposisikan secara strategis untuk menangkap limpahan permintaan (spillover) dari pasar regional, terutama karena faktor kedekatan geografisnya dengan Singapura serta ketersediaan akses langsung ke jaringan kabel komunikasi bawah laut internasional.

Karakteristik pasar pusat data di Batam juga tergolong sangat unik, di mana sekitar 71% dari komposisi pasar didominasi oleh fasilitas kategori hyperscale. Sebagian besar dari kapasitas tersebut dikembangkan oleh para operator swasta nasional dan asing yang melihat potensi strategis wilayah ini. Beberapa nama besar yang tercatat aktif mengembangkan proyek di Batam antara lain DayOne, BW Digital, Princeton Digital Group, Global Data Centre, dan Racks Central.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa sejumlah proyek pusat data baru di Batam mulai dirancang secara khusus untuk memenuhi tuntutan komputasi AI yang memerlukan daya besar. Sebagai contoh, DayOne telah mengumumkan rencana ambisius untuk membangun fasilitas pusat data berkapasitas 450 MW di wilayah Kabil, Batam, yang dirancang khusus untuk mendukung kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (AI compute) berskala regional.

Advertisements

Also Read

Tags