HRUM Diprediksi Melesat: Nikel Topang Kinerja Keuangan Hingga 2026

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. PT Harum Energy Tbk (HRUM), sebuah entitas bisnis yang semakin dikenal dalam lanskap pertambangan Indonesia, memperlihatkan potensi kuat untuk mempertahankan momentum kinerja keuangan positifnya hingga akhir tahun 2026. Proyeksi optimis ini secara fundamental ditopang oleh kontribusi yang semakin signifikan dari segmen nikel, yang kini menjadi pilar utama dalam strategi transformasi perusahaan. Pergeseran fokus ini menandai evolusi penting bagi HRUM, bergerak dari entitas yang didominasi batubara menuju pemain terkemuka dalam industri nikel yang terintegrasi.

Advertisements

Laporan keuangan perusahaan untuk semester I-2026 menggarisbawahi transformasi ini dengan angka-angka yang impresif. HRUM berhasil membukukan pendapatan sebesar US$ 1,08 miliar, mencerminkan peningkatan substansial sebesar 67% secara tahunan (year on year/yoy). Peningkatan pendapatan ini disertai dengan pertumbuhan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) yang melonjak 140% yoy, mencapai US$ 264,5 juta. Lebih lanjut, laba bersih perusahaan juga mencatat kenaikan luar biasa sebesar 237% yoy, menembus angka US$ 129,3 juta. Kinerja keuangan yang solid ini tidak hanya mencerminkan efisiensi operasional tetapi juga keberhasilan strategi diversifikasi yang telah dijalankan oleh manajemen.

Manajemen HRUM secara eksplisit menyatakan bahwa lonjakan pendapatan yang terjadi sangat dipengaruhi oleh volume penjualan nikel yang lebih tinggi. Faktor kunci di balik peningkatan ini adalah dimulainya penjualan komersial produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), sebuah produk antara yang vital dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik, yang didukung oleh harga jual rata-rata (average selling price/ASP) yang tetap solid. MHP merupakan bahan baku penting untuk prekursor baterai, dan kemampuannya untuk memproduksi dan menjual MHP menunjukkan komitmen HRUM terhadap hilirisasi dan peningkatan nilai tambah produk nikelnya.

Advertisements

Secara spesifik, volume penjualan nikel HRUM mengalami peningkatan sebesar 69% yoy, mencapai 56.371 ton selama semester I-2026. Bersamaan dengan itu, ASP produk nikel juga menunjukkan pertumbuhan yang sehat sebesar 32% yoy, mencapai US$ 15.958 per ton. Kombinasi antara peningkatan volume penjualan dan harga jual yang menguntungkan telah menjadi pendorong utama kinerja segmen nikel. Peningkatan volume yang signifikan ini secara langsung mencerminkan keberhasilan strategi peningkatan kapasitas produksi yang telah diimplementasikan oleh anak usaha HRUM, yaitu PT Blue Sparking Energy (BSE), yang berperan krusial dalam memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang.

Dominasi segmen nikel dalam struktur pendapatan HRUM semakin nyata, dengan kontribusi sekitar 97% dari total pendapatan perusahaan sepanjang semester I-2026. Angka ini secara tegas menunjukkan bahwa nikel kini menjadi mesin pertumbuhan utama bagi HRUM. Manajemen HRUM menegaskan, “Nikel terus mengimbangi penurunan kontribusi dari batubara sekaligus memperkuat transformasi perusahaan.” Pernyataan ini, seperti dikutip pada Selasa (25/8), menyoroti peran strategis nikel dalam menyeimbangkan portofolio bisnis dan mendorong perusahaan menuju era baru pertumbuhan yang lebih berkelanjutan dan terdiversifikasi. Transformasi ini sangat relevan mengingat tren global menuju energi bersih dan kendaraan listrik, di mana nikel memegang peranan sentral.

Di sisi lain, segmen batubara HRUM menghadapi tantangan pada periode yang sama. Volume penjualan batubara perusahaan tercatat mengalami penurunan tajam sebesar 92% yoy, hanya mencapai 0,8 juta ton pada semester I-2026. Penurunan ini terutama disebabkan oleh tertundanya persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada awal tahun. Penundaan RKAB seringkali menjadi kendala operasional yang signifikan dalam industri pertambangan Indonesia, memengaruhi jadwal produksi dan penjualan. Meskipun demikian, HRUM tetap optimistis dengan menargetkan produksi batubara sebesar 3 juta ton, yang diperkirakan dapat dikejar dan direalisasikan pada semester II-2026, menunjukkan upaya perusahaan untuk memulihkan kinerja segmen ini.

Secara terpisah, Nafan Aji Gusta, seorang Senior Market Analyst dari Mirae Asset Sekuritas, memberikan pandangannya mengenai HRUM. Menurutnya, perusahaan ini kini semakin dipandang bukan lagi sekadar produsen batubara yang sedang melakukan diversifikasi, melainkan sebagai emiten pertambangan dan pengolahan nikel yang terintegrasi. Pergeseran persepsi ini sangat penting dalam penilaian investor, meskipun bisnis batubara masih diakui sebagai bagian integral dan penting dari portofolio perusahaan. Pandangan ini mencerminkan keberhasilan HRUM dalam mengomunikasikan strategi transformasinya dan membangun identitas baru di pasar modal, sejalan dengan visi pemerintah Indonesia untuk mendorong hilirisasi komoditas.

Memasuki semester II-2026, Nafan Aji Gusta melihat prospek kinerja HRUM relatif positif, dengan segmen nikel diprediksi tetap menjadi penopang utama pendapatan. Peningkatan kapasitas produksi dari PT Blue Sparking Energy (BSE) dan bertambahnya kontribusi penjualan MHP diantisipasi akan menopang volume penjualan dan margin keuntungan perusahaan. Prospek ini semakin cerah, terutama jika harga nikel di pasar global tetap berada dalam tren yang konstruktif, didorong oleh permintaan yang stabil dari industri baterai dan kendaraan listrik. Faktor-faktor ini secara kolektif membentuk landasan yang kuat bagi pertumbuhan berkelanjutan segmen nikel HRUM.

Di sisi lain, segmen batubara berpeluang mengalami pemulihan volume penjualan, asalkan HRUM mampu mengeksekusi target produksi sekitar 3 juta ton di sisa semester kedua. Pencapaian target ini akan krusial dalam menstabilkan kontribusi batubara terhadap pendapatan keseluruhan perusahaan. Nafan menambahkan bahwa sentimen positif lainnya adalah semakin terintegrasinya rantai nilai nikel HRUM. Integrasi ini memungkinkan perusahaan untuk memperoleh nilai tambah yang lebih besar dari aktivitas hilirisasi, yaitu pengolahan bijih nikel menjadi produk dengan nilai jual yang lebih tinggi, seperti MHP atau bahkan produk hilir lainnya. Hal ini sejalan dengan agenda nasional untuk meningkatkan nilai tambah komoditas.

Meskipun prospeknya cerah, HRUM tetap patut mewaspadai sejumlah risiko yang berpotensi memengaruhi kinerja di masa mendatang. Risiko-risiko ini meliputi volatilitas harga nikel dan batubara yang dapat berfluktuasi secara signifikan di pasar global, potensi kelebihan pasokan nikel di pasar global yang dapat menekan harga, serta perubahan harga bahan baku dan biaya produksi yang dapat memengaruhi profitabilitas. Selain itu, risiko operasional terkait proyek-proyek smelter nikel yang kompleks, tingginya kebutuhan belanja modal untuk pengembangan dan ekspansi, hingga risiko regulasi di sektor pertambangan dan hilirisasi yang dapat berubah sewaktu-waktu, juga perlu menjadi perhatian serius manajemen.

Maka dari itu, untuk mengelola risiko-risiko tersebut dan mempertahankan lintasan pertumbuhan, HRUM perlu memperkuat upaya disiplin biaya dan efisiensi operasional di seluruh lini bisnisnya. Langkah ini esensial untuk menjaga margin keuntungan dalam menghadapi fluktuasi harga komoditas. Selain itu, perusahaan juga perlu memastikan bahwa proyek-proyek nikel baru mencapai utilisasi optimal secepat mungkin, memaksimalkan investasi yang telah dilakukan. Emiten ini juga disarankan untuk memperkuat integrasi vertikal, mulai dari penambangan bijih hingga pemrosesan dan pemurnian, agar margin keuntungan tidak terlalu bergantung pada fluktuasi harga komoditas di pasar internasional.

Di segmen batubara, HRUM tetap perlu mempertahankan kinerja bisnis tersebut sebagai aset penghasil arus kas yang stabil, namun dengan pendekatan yang lebih selektif. Ini berarti perusahaan harus memilih proyek batubara yang paling efisien dan menguntungkan, serta mengelola operasional dengan hati-hati. Nafan menjelaskan bahwa dengan strategi ini, HRUM dapat menjaga keseimbangan yang optimal antara pertumbuhan bisnis nikel yang ambisius dan kemampuan untuk terus menghasilkan arus kas yang kuat dari segmen batubara. Keseimbangan ini akan menjadi kunci stabilitas keuangan dan kemampuan perusahaan untuk mendanai ekspansi di masa depan.

Berdasarkan analisis prospek dan risiko tersebut, Nafan Aji Gusta merekomendasikan saham HRUM dengan peringkat add, menunjukkan bahwa investor dapat mempertimbangkan untuk menambah kepemilikan saham ini dalam portofolio mereka. Target harga yang ditetapkan untuk saham HRUM adalah di level Rp 970 per saham, mencerminkan keyakinan analis terhadap potensi pertumbuhan dan nilai intrinsik perusahaan dalam jangka menengah. Rekomendasi ini menggarisbawahi kepercayaan pasar terhadap strategi diversifikasi dan hilirisasi yang dijalankan oleh PT Harum Energy Tbk.

Advertisements

Also Read

Tags