Bitcoin menguat 26% sepekan, investor diimbau tak terburu-buru all-in

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Penguatan pasar aset kripto kembali menarik perhatian investor seiring lonjakan harga Bitcoin dan Ethereum dalam sepekan terakhir. Meski momentum bullish masih terbuka, investor disarankan tidak mengabaikan risiko volatilitas dan tetap menerapkan strategi pengelolaan modal secara disiplin.

Advertisements

Mengutip data CoinMarketCap pada Selasa (25/8/2026) pukul 10.33 WIB, harga Bitcoin (BTC) melesat 4,69% dalam 24 jam terakhir dan menguat 26,19% dalam sepekan ke level US$80.762,15. Sementara itu, Ethereum (ETH) berada di posisi US$2.507,04 atau melonjak 32,89% dalam sepekan.

Di tengah momentum tersebut, investor disarankan membangun posisi inti pada Bitcoin secara bertahap, baik pada kisaran harga saat ini maupun ketika terjadi koreksi teknis.

Advertisements

Sementara itu, porsi investasi yang lebih kecil dapat dialokasikan ke Ethereum dengan tetap mempertahankan sebagian dana dalam bentuk tunai atau cash. Strategi tersebut dinilai penting agar investor memiliki fleksibilitas ketika pasar mengalami koreksi.

Bitcoin dan Ethereum Berpotensi Menguat, Ini Katalis Pasar Kripto hingga Akhir 2026

Investor juga diimbau tidak terburu-buru menempatkan seluruh modal atau melakukan all-in hanya karena harga aset kripto tengah mengalami reli.

Analis Reku Andri Fauzan menegaskan pentingnya penerapan manajemen risiko dan target eksekusi yang terukur ketika pasar berada dalam tren penguatan.

“Jangan all-in, tetapkan batas kerugian mental di bawah US$ 70.000, dan ambil keuntungan bertahap di level US$ 95.000–US$ 100.000 karena volatilitas tetap tinggi meski tren sedang menguat,” kata Andri kepada Kontan.

Inflow ETF Bitcoin Jadi Pendorong

Menurut Andri, penguatan pasar kripto saat ini antara lain ditopang oleh derasnya arus dana ke ETF Bitcoin spot. Inflow ETF Bitcoin spot tercatat hampir mencapai US$1,9 miliar dalam sepekan terakhir.

Selain itu, ekspektasi pemotongan suku bunga The Fed pada paruh kedua tahun ini turut memberikan sentimen positif bagi aset berisiko. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat juga memperkuat narasi Bitcoin sebagai digital gold atau aset penyimpan nilai.

Dukungan dari kebijakan politik Amerika Serikat turut menjadi faktor struktural yang menopang prospek pasar kripto. Hal tersebut terlihat dari penyelenggaraan Crypto Summit di Gedung Putih oleh Presiden Trump serta dukungan terhadap RUU Clarity Act.

Di antara dua aset kripto terbesar, Bitcoin dinilai memiliki prospek reli yang lebih solid dibandingkan Ethereum hingga akhir 2026.

Menakar Prospek dan Rekomendasi Saham Lapis Kedua di Sisa Tahun 2026

Prospek Bitcoin didukung oleh dominasi arus modal institusional melalui ETF serta posisinya sebagai penyimpan nilai atau store of value.

Sebaliknya, Ethereum masih relatif tertinggal dan lebih bergantung pada penguatan sentimen risk-on. Meski demikian, Ethereum tetap memiliki peluang untuk mengejar ketertinggalan atau mengalami catch-up, terutama seiring perkembangan tokenisasi dan ekosistem Layer-2.

Bitcoin Berpeluang Tembus US$130.000

Untuk sisa tahun 2026, terdapat skenario optimistis yang membuka peluang Bitcoin menembus US$115.000–US$130.000. Skenario tersebut dapat terjadi apabila arus dana ETF Bitcoin terus menguat dan dukungan regulasi kripto di Amerika Serikat berlanjut.

Namun, risiko koreksi tetap perlu diperhitungkan. Dalam skenario pesimistis, harga Bitcoin berpotensi turun ke kisaran US$65.000–US$80.000 apabila kondisi makroekonomi memburuk dan sentimen investor terhadap aset berisiko melemah.

Di luar kedua skenario ekstrem tersebut, Andri menilai pergerakan Bitcoin setelah rebound masih berada dalam jalur pertumbuhan yang terukur.

“Prospek Bitcoin hingga akhir 2026 saya lihat bullish moderat. Dari harga saat ini di kisaran US$ 77.000 setelah lonjakan lebih dari 20% dalam seminggu, saya memproyeksikan rentang akhir tahun di base case US$ 90.000–US$ 105.000,” ujar Andri.

Advertisements

Also Read

Tags