Dolar AS Melemah, Ini Prospek Penguatan Valas Asia hingga 2026

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tren penguatan mata uang di kawasan Asia diperkirakan memiliki peluang besar untuk terus berlanjut secara bertahap hingga penghujung tahun 2026. Prospek positif ini didorong oleh momentum meredanya keperkasaan indeks dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global, yang memberikan ruang bagi mata uang regional untuk melakukan pemulihan nilai tukar.

Advertisements

Berdasarkan data yang dihimpun dari Trading Economics pada hari Rabu (26/8/2026) pukul 16.34 WIB, Indeks Dolar AS (DXY) terpantau berada di level 98,993. Di sisi lain, pergerakan nilai tukar valuta asing (valas) di kawasan Asia menunjukkan dinamika yang cukup bervariasi. Pasangan mata uang USD/JPY berada di posisi 158,985, sedangkan USD/KRW bertengger di level 1.385,52. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS atau USD/IDR tercatat berada di level 17.728,9, dan pasangan USD/CNY berada di posisi 6,72031.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, memberikan penjelasan mendalam mengenai situasi pasar saat ini. Menurut analisisnya, pergerakan positif valas Asia pada periode ini utamanya dipicu oleh kombinasi dari beberapa faktor eksternal yang saling mendukung. Faktor-faktor tersebut meliputi pelemahan indeks dolar AS, penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury, serta membaiknya sentimen risiko di tingkat global. Membaiknya sentimen risiko global ini juga dipengaruhi oleh munculnya harapan akan meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Advertisements

Tekanan pada Yield US Treasury dan Fokus Pasar Global

Di samping faktor sentimen global, langkah strategis dari pemerintah Amerika Serikat turut memberikan pengaruh signifikan terhadap pasar keuangan. Rencana pemerintah AS untuk melakukan pembelian kembali atau buyback obligasi jangka panjang menjadi salah satu penekan utama bagi pergerakan yield US Treasury. Penurunan imbal hasil obligasi ini secara langsung memberikan beban tambahan pada pergerakan dolar AS, sehingga membatasi kekuatannya di hadapan mata uang global lainnya.

Dalam sepekan ini, perhatian para pelaku pasar global dan investor akan terpusat pada beberapa agenda ekonomi penting di Amerika Serikat. Fokus utama tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS, yang merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve. Selain itu, pidato dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam pertemuan tahunan di Jackson Hole menjadi momen yang sangat dinantikan. Para pelaku pasar akan mencermati setiap pernyataan dalam pidato tersebut untuk membaca dan memproyeksikan arah kebijakan moneter bank sentral AS ke depan.

Divergensi Kebijakan Moneter dan Peluang Valas Asia

Melihat dinamika pasar yang berkembang, Lukman Leong menilai bahwa mayoritas mata uang di kawasan Asia masih memiliki ruang yang cukup besar untuk menguat secara bertahap terhadap dolar AS hingga akhir tahun. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa proses penguatan ini tidak akan berjalan secara linier atau mulus tanpa hambatan. Volatilitas jangka pendek diperkirakan tetap akan mewarnai pergerakan pasar valas.

Ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed menjadi pilar penyokong utama bagi penguatan mata uang Asia. Kondisi ini terjadi di saat sejumlah bank sentral di negara-negara Asia masih memiliki ruang kebijakan yang cukup longgar, baik untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan mereka saat ini maupun untuk melakukan langkah pengetatan berupa kenaikan suku bunga jika diperlukan.

Sebagai contoh, Yen Jepang menjadi salah satu mata uang yang mendapatkan dorongan sentimen positif yang sangat kuat. Penguatan Yen ditopang oleh ekspektasi pasar terhadap rencana kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Jepang atau Bank of Japan (BOJ) yang diproyeksikan akan berlangsung pada bulan September mendatang. Dalam memanfaatkan momentum pelemahan dolar AS ini, beberapa mata uang di kawasan Asia dinilai memiliki daya tarik yang sangat tinggi untuk dicermati oleh para investor global.

Daya Tarik Yen, Won, dan Rupiah di Mata Investor

Masing-masing mata uang utama di Asia menawarkan katalis unik yang dapat menarik minat masuknya aliran modal asing. Yen Jepang, misalnya, tidak hanya didukung oleh potensi kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan (BOJ), tetapi juga oleh adanya risiko intervensi langsung dari otoritas moneter Jepang apabila pergerakan mata uang tersebut mengalami tekanan yang dinilai terlalu berlebihan.

Di sisi lain, Won Korea Selatan menawarkan daya tarik yang berbeda. Mata uang ini mendapatkan paparan sentimen positif dari perkembangan sektor riil, khususnya dari siklus investasi global di bidang teknologi tinggi dan industri semikonduktor yang saat ini sedang mengalami tren peningkatan. Permintaan global yang kuat terhadap produk teknologi Korea Selatan menjadi motor penggerak bagi penguatan nilai tukar Won.

Sementara itu, Rupiah Indonesia tetap menjadi instrumen yang sangat menarik bagi para pelaku pasar yang menerapkan strategi carry trade. Daya tarik utama Rupiah terletak pada tingkat imbal hasil (yield) investasi portofolio yang ditawarkan oleh aset keuangan domestik, yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya. Hal ini membuat aset berdenominasi Rupiah tetap kompetitif di mata investor pencari imbal hasil tinggi.

Strategi Investasi dan Proyeksi Nilai Tukar hingga Akhir 2026

Menghadapi situasi pasar yang dinamis ini, Lukman Leong menyarankan agar para investor menerapkan strategi investasi yang lebih defensif dan terukur. Dibandingkan melakukan aksi beli secara agresif saat mata uang sedang mengalami penguatan tajam, investor disarankan untuk melakukan akumulasi secara bertahap memanfaatkan momentum koreksi teknis yang terjadi di pasar.

Untuk pergerakan jangka menengah, Indeks Dolar AS (DXY) diperkirakan akan mengalami tren melandai dan bergerak menuju kisaran level 95 hingga 97 pada akhir tahun, dengan target utama pergerakan yang diproyeksikan berada di sekitar level 96. Walaupun demikian, potensi terjadinya volatilitas tinggi di pasar masih tetap terbuka lebar. Faktor-faktor seperti dinamika realisasi inflasi di AS, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta perkembangan situasi geopolitik global sewaktu-waktu dapat memicu pembalikan arah atau rebound pada kekuatan dolar AS.

Mengenai proyeksi nilai tukar jangka panjang hingga akhir tahun 2026, pasangan USD/JPY diperkirakan akan bergerak dalam rentang kisaran 155 hingga 160. Untuk pasangan USD/KRW, pergerakan diproyeksikan akan berada di kisaran rentang 1.330 hingga 1.370. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS atau USD/IDR diperkirakan akan bergerak dalam rentang kisaran Rp 17.300 hingga Rp 17.600 per dolar AS.

Peluang bagi Rupiah untuk menguat hingga menyentuh area Rp 17.300 per dolar AS dinilai masih sangat terbuka, dengan catatan apabila tren pelemahan dolar AS terus berlanjut secara konsisten dan diiringi oleh perbaikan arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan negara-negara berkembang (emerging markets). Namun, jika melihat kondisi fundamental dan risiko global yang ada, kisaran level Rp 17.500 hingga Rp 17.600 per dolar AS dinilai sebagai target pergerakan yang lebih realistis untuk dicapai.

Advertisements

Also Read

Tags