Kebakaran lahan tidak hanya menghabiskan vegetasi, tapi juga berdampak pada ruang hidup satwa-satwa ikonik di Indonesia. Hasil pantauan Auriga Nusantara selama Januari hingga Juni 2026 mengungkap, kebakaran lahan telah menghanguskan 11,4 ribu hektare habitat harimau, badak, gajah sumatra, dan orangutan.
Peneliti Auriga Nusantara Sesilia Maharani Putri merincikan, yang paling luas terdampak kebakaran adalah habitat harimau, mencapai 3.964 hektare. Kebakaran juga berdampak pada 3.376 hektare habitat orangutan; 2.542 hektare habitat badak; serta 1.561 hektare habitat gajah sumatra.
“Kalau ada kebakaran artinya menekan kelanjutan hidup spesies-spesies yang sebenarnya dilindungi dan spesies-spesies ikonik,” kata Sesilia dalam peluncuran Mapbiomas Fire Monthly 2026, dikutip pada Kamis (27/8).
Sesilia juga memaparkan, sekitar 46% kebakaran lahan selama semester pertama 2026 itu tercatat berada di kawasan hutan. Paling luas berada di kawasan hutan produksi, mencapai 23,3 ribu hektare.
Kawasan lindung dan kawasan konservasi pun tidak luput dari kobaran api. Sebanyak 12,4 ribu hektare hutan lindung – hutan dengan fungsi pokok mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, serta menjaga kesuburan tanah ikut – terbakar.
Adapun kebakaran lahan di kawasan konservasi mencapai 17,9 ribu hektare. Padahal, kawasan ini memiliki peran penting dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati, perlindungan ekosistem, serta keberlanjutan fungsi lingkungan hidup.
Kawasan konservasi terbagi menjadi beberapa jenis, mencakup cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman wisata alam, taman hutan raya, dan taman buru. Berdasarkan hasil pemantauan Auriga, kebakaran terdeteksi merambah 39 taman nasional dan 140 kawasan non-taman nasional.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, kebakaran lahan di taman nasional tercatat paling luas berada di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai di Sulawesi Tenggara. Kebakaran lahan teridentifikasi mencapai 2,8 ribu hektare dari total luas kawasan 105,1 ribu hektare.
Kebakaran juga terjadi di Taman Nasional Lorentz di Papua seluas hampir 1,7 ribu hektare dan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur seluas 933 hektare. Namun, berdasarkan laporan terbaru, kebakaran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada pertengahan Agustus telah menghanguskan 1.120 hektare.
Sementara itu, kebakaran juga teridentifikasi berada di Cagar Alam Muara Kendawangan di Kalimantan Barat seluas 3,2 ribu hektare; Cagar Alam Morowali di Sulawesi Tengah seluas 1,6 ribu hektare; dan Cagar Alam Pegunungan Wayland di Papua Tengah seluas 875 hektare.
Evakuasi Satwa
Kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap yang telah terbukti berdampak pada kehidupan satwa. Tim pemadam di lapangan menemukan sejumlah bangkai satwa, di tengah upaya pemadaman api. Sedangkan petugas dari balai konservasi harus melakukan evakuasi satwa liar yang masuk perkebunan warga karena habitatnya terbakar.
Tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), serta masyarakat mengevakuasi satu orangutan betina dan dua anak orangutan dari perkebunan warga di Desa Tanjungpura, Ketapang, pada Jumat (21/8).
Ketiga orangutan lari ke perkebunan warga karena habitatnya kebakaran. Setelah dibius, diamankan, dan dicek kesehatan, ketiga orangutan kemudian dipindahkan tim ke Taman Nasional Gunung Palung. Evakuasi ini mengulang kejadian pada akhir Juli lalu di Ketapang. Ketika itu, BKSDA Kalimantan Barat mengevakuasi seekor orangutan jantan dari perkebunan warga.
Sementara itu, di Kalimantan Barat, Tim Manggala Agni menemukan bangkai ular hingga trenggiling.
“Sejauh ini satwa yang banyak ditemukan dalam kondisi mati akibat kebakaran hutan itu ular,” kata Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang Efendi, seperti dikutip dari Antara.
Tim belum menemukan orangutan atau beruang yang menjadi korban tewas akibat karhutla. Menurut Efendi, kedua jenis satwa tersebut memiliki insting yang lebih kuat untuk menghindari kebakaran.
“Kalau untuk orangutan atau beruang sejauh ini kami belum menemukan, karena biasanya hewan tersebut instingnya lebih kuat. Ketika mereka mendengar suara api dari kejauhan, mereka akan cepat menjauh dan pergi,” kata dia.




