Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) disebut memberikan mandat investasi kredit swasta senilai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17,76 triliun (asumsi kurs: 17.757 per dolar AS) kepada manajer aset asal Swiss, Partners Group. Investasi tersebut menjadi salah satu penempatan dana terbesar Danantara seiring langkahnya memperluas investasi ke pasar swasta global.
Berdasarkan sumber pemberitaan Bloomberg, Danantara mengalokasikan US$ 600 juta atau sekitar Rp 10,65 triliun kepada Partners Group untuk ditempatkan pada peluang direct lending atau pinjaman langsung. Sementara itu, US$ 400 juta atau sekitar Rp 7,10 triliun lainnya dialokasikan dalam tranche diskresioner yang akan dikelola Partners Group bersama modal investasi bersama atau co-investment.
Danantara mengonfirmasi investasinya ke dalam bisnis kredit swasta Partners, namun menolak berkomentar mengenai jumlahnya.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir mengatakan, investasi itu tidak hanya membidik imbal hasil, tetapi juga transfer pengetahuan yang dapat memperkuat kapasitas investasi Indonesia. Menurutnya, modal yang ditempatkan di luar negeri pada akhirnya akan kembali ke Indonesia dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Baca juga:
- Korban Tewas Banjir Nepal dan Cina Bertambah jadi 633 Jiwa, Hampir 3.000 Hilang
- Trump Klaim AS Kuasai 65 Miliar Barel Minyak Venezuela, Terbesar dalam Sejarah
- Gubernur BI Terpilih & Wakil Ketua DK LPS Hadiri Katadata Padel Tournament
“Investasi di Partners Group akan ditujukan untuk peluang pinjaman langsung di seluruh Asia, terutama Indonesia,” kata Pandu menanggapi pertanyaan Bloomberg, dikutip pada Sabtu (29/8).
Selain itu, dia menegaskan investasi ke Partners Group merupakan bagian dari mandat Danantara untuk mengelola dana, baik di pasar domestik maupun internasional. Sementara itu, juru bicara Partners Group menolak mengomentari transaksi tersebut.
Langkah itu menandai ekspansi paling nyata Danantara ke industri kredit swasta global yang nilainya mencapai US$ 1,8 triliun. Demi memperkuat strategi tersebut, Danantara sebelumnya merekrut mantan profesional investasi dari GIC Singapura untuk memimpin investasi di pasar swasta global.
Sebagai sovereign wealth fund (SWF) Indonesia, Danantara kini mengelola ratusan badan usaha milik negara (BUMN) dengan nilai aset sekitar US$ 900 miliar. Pada Juni 2026, lembaga itu juga menghimpun US$ 1,5 miliar melalui penerbitan obligasi internasional perdananya.
Danantara juga mulai membangun portofolio investasi di luar Indonesia. Awal Agustus lalu, SWF tersebut menyepakati investasi US$ 2,5 miliar dalam perusahaan patungan yang mengelola operasi JBS NV di Australia dan Selandia Baru, salah satu perusahaan pengolahan daging terbesar di dunia.
Danantara menjadi dana kekayaan negara terbaru yang mengalokasikan dana ke pasar swasta yang berkembang pesat. Indonesia Investment Authority (INA) juga telah menyatakan minatnya untuk mendanai bersama transaksi dengan manajer kredit swasta regional dan global, hingga dana kekayaan negara lainnya.
Temasek Holdings Pte dari Singapura mendirikan platform kredit swasta pada 2024 dengan portofolio awal sekitar S$ 10 miliar (US$ 7,9 miliar), yang terdiri atas investasi langsung dan dana kredit. Tahun ini, Mubadala Investment Co, SWF dari Abu Dhabi Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan tetap optimistis terhadap investasi kredit swastanya, meski kelas aset ini menghadapi pengawasan yang semakin ketat di tengah penurunan imbal hasil dan kekhawatiran terkait kualitas kredit.
Adapun Partners mengumumkan mandat senilai US$ 1 miliar pada awal bulan ini, namun tidak menyebutkan nama investor institusional tersebut. Bloomberg menyebut saat itu mereka menyatakan bahwa mandat tersebut akan berinvestasi pada peluang pinjaman langsung senior dan junior di kawasan Asia Pasifik dan akan memiliki struktur evergreen tanpa batas waktu.
Perusahaan yang mengelola aset lebih dari US$ 186 miliar itu menghadapi peningkatan penarikan dana oleh klien pada awal tahun ini. Ketua Partners Group, Steffen Meister, mengatakan pada bulan Juni bahwa perusahaan sedang mempertimbangkan untuk mengurangi ukuran keseluruhan dana evergreen-nya yang ditujukan bagi investor kaya.
Sebelumnya, Bloomberg menyebut Partners mengaku tengah mencari peluang investasi lebih lanjut di Asia, seiring dengan upaya kliennya untuk melakukan diversifikasi investasi di luar AS. Lalu, mereka akan keluar dari investasi kredit swasta pada merek bubble tea Gong Cha setelah Bain Capital membeli perusahaan asal Taiwan itu dari TA Associates bulan ini.




