Suku Bunga BI Tinggi, Kinerja Saham Properti Kian Tertekan

Hikma Lia

Kinerja Sektor Properti di Tengah Tekanan Suku Bunga Tinggi

Kondisi pasar saham di sektor properti dan real estat Indonesia masih menunjukkan tren yang tertekan sepanjang tahun 2026. Era suku bunga tinggi yang dipertahankan oleh bank sentral menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju pertumbuhan emiten di sektor ini. Berdasarkan data pergerakan pasar, indeks sektoral IDX Properties and Real Estate mencatatkan penurunan yang cukup signifikan, yakni sebesar 29,65% sejak awal tahun atau secara year to date (YTD). Penurunan ini menunjukkan bahwa sektor properti mengalami tekanan yang lebih berat dibandingkan dengan pasar saham secara keseluruhan.

Advertisements

Sebagai pembanding, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami pelemahan sebesar 24,62% secara YTD. Meskipun IHSG secara umum terkoreksi dalam, penurunan yang dialami oleh indeks sektor properti yang hampir menyentuh angka 30% mengindikasikan adanya sentimen negatif khusus yang membayangi para pelaku industri real estat dan pengembang perumahan di tanah air. Koreksi tajam ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75%.

Tiga Faktor Utama Penekan Sektor Properti

Menanggapi tekanan yang dialami oleh industri properti, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani, menjelaskan bahwa terdapat tiga faktor utama yang melandasi koreksi dalam pada sektor ini sepanjang tahun 2026.

Advertisements

Faktor pertama adalah kondisi pasar saham Indonesia secara keseluruhan yang sedang berada dalam fase risk-off. Pada fase ini, investor cenderung menghindari aset-aset berisiko tinggi dan memilih untuk mengamankan modal mereka. Akibatnya, pasar saham mengalami de-rating atau penurunan penilaian valuasi yang cukup dalam di sepanjang tahun 2026, yang pada akhirnya turut menyeret saham-saham di sektor properti.

Faktor kedua berkaitan erat dengan kebijakan moneter dalam negeri. Sektor properti mendapatkan tekanan tambahan karena kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia yang cukup agresif. Pada awal tahun 2026, BI Rate berada di level 4,75%, namun kemudian merangkak naik hingga mencapai 5,75% sejak bulan Juni. Tingkat suku bunga ini terus dipertahankan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026.

Meskipun keputusan pada bulan Agustus 2026 adalah menahan suku bunga acuan, Ester menekankan bahwa level suku bunga saat ini masih tetap 100 basis poin (bps) lebih tinggi dibandingkan dengan posisi pada awal tahun. Hal inilah yang membuat beban biaya modal emiten dan bunga pembiayaan konsumen tetap tinggi.

Faktor ketiga adalah terjadinya koreksi yang sangat dalam pada beberapa saham dengan kapitalisasi pasar besar (large-cap) dan memiliki volatilitas tinggi atau berkarakteristik high-beta. Koreksi tajam ini khususnya terlihat pada saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK).

Normalisasi Valuasi Saham PANI dan CBDK

Saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) menjadi salah satu penekan utama bagi indeks sektor properti. Pada akhir tahun 2025, harga saham PANI masih bertengger di kisaran Rp12.400 per saham. Namun, memasuki tanggal 28 Agustus 2026, harga saham pengembang wilayah pesisir ini merosot tajam ke level Rp5.925 per saham, yang berarti telah terjadi koreksi lebih dari 50%.

Kondisi serupa juga dialami oleh PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK). Harga saham CBDK tercatat mengalami penurunan dari kisaran Rp8.750 per saham menjadi Rp3.800 per saham. Secara akumulatif sejak awal tahun, saham CBDK telah mengalami koreksi sebesar 56,57%.

Koreksi yang dialami oleh PANI dan CBDK terbilang jauh lebih dalam jika dibandingkan dengan penurunan yang dialami oleh sejumlah emiten pengembang konvensional lainnya. Menurut Ester Mulyani, penurunan tajam pada kedua saham tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh proses normalisasi valuasi saham (valuation normalization). Hal ini wajar terjadi mengingat pada periode sebelumnya, saham-saham tersebut diperdagangkan dengan harga premium yang cukup tinggi dibandingkan dengan rata-rata emiten lain di sektor properti.

Arah Kebijakan BI Rate dan Dampaknya terhadap KPR

Di tengah situasi pasar yang dinamis ini, Ester menilai bahwa kebijakan BI Rate masih memiliki relevansi yang sangat kuat dan sensitif terhadap pergerakan saham-saham properti. Perubahan utama yang terjadi saat ini adalah ekspektasi pasar. Investor kini tidak lagi hanya melihat keputusan mempertahankan suku bunga dalam satu kali rapat kebijakan saja, melainkan lebih fokus membaca arah atau jalur pergerakan suku bunga (rate path) ke depannya.

Keputusan Bank Indonesia untuk menahan suku bunga di level 5,75% dinilai hanya memberikan kepastian bahwa tekanan biaya tidak akan bertambah untuk sementara waktu. Namun, keputusan tersebut belum bisa dikategorikan sebagai stimulus baru yang mampu menggairahkan pasar. Katalis positif yang lebih kuat bagi sektor properti diperkirakan baru akan muncul apabila pasar mulai mendapatkan keyakinan bahwa siklus kenaikan suku bunga telah benar-benar berakhir.

Lebih jauh lagi, pasar menantikan adanya ruang bagi Bank Indonesia untuk mulai menurunkan suku bunga acuan, yang nantinya diharapkan dapat diteruskan oleh perbankan dalam bentuk penurunan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Penurunan bunga KPR ini menjadi sangat krusial mengingat data menunjukkan bahwa sekitar 70,05% dari total pembelian rumah primer di Indonesia masih sangat bergantung pada fasilitas pembiayaan KPR.

Tantangan Pemulihan Permintaan dan Kinerja Presales

Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim, turut memberikan pandangannya mengenai situasi industri properti saat ini. Menurut Kevin, meskipun suku bunga BI pada bulan Agustus ditahan, tingkat suku bunga yang berada di level 5,75% masih merefleksikan kondisi era suku bunga tinggi. Kondisi ini terus menjadi sentimen negatif bagi emiten di sektor properti, terlebih dengan adanya ketidakpastian ekonomi global yang masih terus bertahan hingga saat ini.

Selain faktor suku bunga dan makroekonomi global, tantangan riil juga datang dari sisi penyerapan pasar. Permintaan masyarakat terhadap produk properti dinilai belum sepenuhnya pulih. Hal ini secara langsung memberikan tekanan pada kinerja pendapatan prapenjualan atau marketing sales (presales) dari para pengembang perumahan.

Prospek Kinerja Operasional Semester II-2026 dan Sentimen Positif Insentif

Meskipun dibayangi berbagai tantangan, Ester Mulyani melihat adanya potensi perbaikan kinerja operasional emiten properti pada semester II-2026 dibandingkan dengan semester I-2026. Kendati demikian, proses pemulihan ini diperkirakan akan berlangsung secara selektif dan tidak merata di semua emiten.

Salah satu faktor penopang utama yang diharapkan dapat mendorong penjualan di paruh kedua tahun ini adalah perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 100% sepanjang tahun 2026. Insentif ini berlaku untuk rumah atau apartemen dengan harga jual sampai dengan Rp2 miliar, dari ketentuan harga maksimal properti sebesar Rp5 miliar.

Selain insentif pajak, kebijakan pelonggaran rasio Loan to Value (LTV) dan Financing to Value (FTV) hingga 100% yang memungkinkan konsumen membeli properti dengan uang muka (DP) 0% juga masih berlaku sampai dengan akhir tahun 2026. Kombinasi dari kedua kebijakan stimulus ini dinilai cukup efektif dalam membantu meningkatkan keterjangkauan (affordability) masyarakat serta mendorong penjualan produk-produk properti yang sudah siap huni (ready stock).

Analisis Perbandingan Kinerja Emiten Properti Utama

Meskipun terdapat stimulus dari pemerintah, realisasi kinerja operasional dan keuangan antar-emiten menunjukkan jurang perbedaan yang cukup lebar sepanjang semester I-2026.

Dari sisi pertumbuhan fundamental murni, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) tampil sebagai emiten dengan pertumbuhan paling agresif. PANI berhasil membukukan marketing sales pada semester I-2026 sekitar Rp1,9 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 66% secara tahunan (Year on Year/YoY). Pendapatan perusahaan juga tumbuh signifikan sebesar 78% menjadi Rp2,9 triliun, sementara laba bersihnya melonjak drastis hingga 484% menjadi Rp1,7 triliun. Menariknya, emiten dengan pertumbuhan fundamental paling agresif ini justru menjadi salah satu saham yang mengalami koreksi harga paling dalam di pasar modal tahun ini.

Untuk emiten pengembang yang sudah lebih matang dan mapan, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) masih menunjukkan kinerja prapenjualan yang cukup solid. BSDE mencatatkan marketing sales sebesar Rp5,12 triliun pada semester I-2026, atau telah mencapai 51% dari total target tahunan yang ditetapkan sebesar Rp10 triliun. Angka ini tumbuh tipis sekitar 1% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Namun dari sisi laporan keuangan, pendapatan BSDE tercatat mengalami penurunan sekitar 26% dan laba bersihnya merosot sekitar 53%. Ester menjelaskan bahwa penurunan ini bukan disebabkan oleh penurunan penjualan baru, melainkan lebih dipengaruhi oleh faktor penentuan waktu pengakuan pendapatan (timing revenue recognition) serta jadwal serah terima unit properti kepada konsumen.

Di sisi lain, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) menunjukkan momentum penjualan yang cukup menarik. Nilai presales SMRA pada semester I-2026 tumbuh sekitar 17% menjadi Rp2,5 triliun. Namun, perolehan laba bersih SMRA masih mengalami penurunan sekitar 34%. Penurunan laba bersih ini salah satunya disebabkan oleh beban pembiayaan perusahaan yang masih relatif tinggi di tengah era suku bunga tinggi.

Sementara itu, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mencatatkan kinerja presales sekitar Rp4,7 triliun pada semester I-2026, atau mengalami penurunan sebesar 18% secara YoY. Laba bersih CTRA juga terkoreksi sekitar 11%. Dengan capaian ini, sinyal pemulihan kinerja CTRA dinilai masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut pada laporan kinerja semester II-2026 mendatang.

Bagi investor yang mencari profil investasi yang lebih defensif di sektor ini, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) dinilai memiliki keunggulan tersendiri. Kinerja bisnis PWON banyak ditopang oleh pendapatan berulang (recurring income) yang bersumber dari portofolio pusat perbelanjaan (mal), perhotelan, dan penyewaan ruang perkantoran.

Pendapatan berulang PWON pada semester I-2026 tumbuh sebesar 7% menjadi Rp2,89 triliun. Keberadaan pendapatan berulang yang kuat ini membuat sensitivitas kinerja keuangan PWON terhadap siklus fluktuasi penjualan rumah tinggal menjadi jauh lebih rendah dibandingkan dengan emiten yang murni bergerak sebagai pengembang residensial (pure residential developer).

Rekomendasi Saham dan Prospek Katalis Masa Depan

Melihat kondisi pasar saat ini, Kevin Halim memproyeksikan bahwa katalis positif yang kuat untuk emiten properti kemungkinan belum akan muncul secara signifikan hingga akhir tahun 2026. Perubahan arah sentimen menjadi lebih positif diperkirakan baru akan terjadi ketika tekanan terhadap nilai tukar rupiah mulai mereda dan kondisi perekonomian global berangsur membaik. Kondisi makroekonomi yang stabil tersebut nantinya diharapkan dapat membuka ruang bagi Bank Indonesia untuk mulai melonggarkan kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga acuan.

Meskipun tantangan jangka pendek masih membayangi, Maybank Sekuritas Indonesia tetap melihat adanya peluang investasi jangka panjang pada saham-saham properti pilihan yang memiliki fundamental kokoh. Kevin merekomendasikan keputusan beli (BUY) untuk beberapa saham emiten properti papan atas dengan target harga sebagai berikut:

  • PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dengan target harga Rp1.050 per saham.
  • PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dengan target harga Rp850 per saham.
  • PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) dengan target harga Rp430 per saham.
  • PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) dengan target harga Rp470 per saham.

Advertisements

Also Read

Tags