Anak terlihat sehat, tapi benarkah mereka baik-baik saja?

Hikma Lia

Setiap pagi, jutaan anak Indonesia berangkat ke sekolah untuk belajar. Mereka duduk di kelas, mengikuti pelajaran, bermain saat jam istirahat, bercanda dengan teman-temannya. Mungkin mereka tidak demam. Tidak ada keluhan sakit. Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja.

Advertisements

Tapi ketika diperiksa, ceritanya bisa berbeda.

Gigi berlubang mungkin belum terasa sakit. Pandangan yang mulai kabur bisa saja dianggap biasa. Gangguan pendengaran dapat membuat anak terlihat kurang fokus di kelas. Badan yang mudah lelah dianggap akibat padatnya aktivitas, padahal bisa menjadi tanda anemia. Begitu pula persoalan kesehatan jiwa yang tidak selalu mudah dikenali.

Advertisements

Tidak semua masalah kesehatan langsung menunjukkan gejala yang jelas. Sering kali, persoalan baru diketahui setelah anak menjalani pemeriksaan.

Itulah mengapa pemeriksaan kesehatan sejak dini menjadi penting, termasuk melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah. Tujuannya sederhana, yaitu menemukan masalah kesehatan lebih awal, sebelum berkembang lebih jauh dan mulai mengganggu keseharian anak.

Kenapa Harus di Sekolah?

Sekolah menjadi tempat yang strategis karena di sanalah anak-anak berkumpul hampir setiap hari. Selama ini, pemeriksaan kesehatan lebih banyak dilakukan setelah ada keluhan. Anak sakit, lalu dibawa ke fasilitas kesehatan. Padahal, banyak masalah kesehatan justru perlu ditemukan sebelum keluhan muncul.

Melalui CKG Sekolah, anak mendapatkan pemeriksaan kesehatan yang disesuaikan dengan usia, mulai dari gigi, mata, pertumbuhan, pendengaran, skrining anemia, hingga kesehatan jiwa. 

Hingga 9 Agustus 2026, CKG Sekolah telah menjangkau 12.556.770 siswa di 134.667 satuan pendidikan yang tersebar di 513 kabupaten/kota. Walaupun angka itu terlihat besar, namun jika dibandingkan dengan sasaran sepanjang tahun, perjalanan masih cukup panjang. 

Sepanjang 2026, pemerintah menargetkan 50.255.073 peserta didik di 303.459 satuan pendidikan untuk mengikuti CKG. Sasarannya mencakup SD, SMP, SMA, pondok pesantren, hingga Sekolah Luar Biasa (SLB).

Ini berarti masih ada puluhan juta anak yang perlu dijangkau. Dan setiap pemeriksaan membuka peluang untuk menemukan persoalan kesehatan yang mungkin selama ini tidak terlihat.

Pesantren Punya Kebutuhan yang BerbedaSejumlah santri mengikuti tes kebugaran saat peluncuran pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Jakarta Barat, Senin (4/8/2025) (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU). 

Bagi santri, pesantren adalah ruang belajar sekaligus ruang hidup. Anak belajar, beristirahat, dan menjalani keseharian bersama dalam satu lingkungan. Kondisi ini membuat kebutuhan kesehatannya memiliki karakter tersendiri.

 

Skabies, misalnya, telah menjadi persoalan yang berulang kali dilaporkan dalam studi kesehatan masyarakat di pesantren. Kepadatan hunian dan pemakaian barang bersama dapat meningkatkan risiko penularan. Rasa gatal berkepanjangan, terutama pada malam hari, mengganggu tidur dan konsentrasi belajar. 

 

Ini bukan berarti pesantren merupakan tempat yang rawan penyakit. Justru karena memiliki peran ganda sebagai tempat belajar sekaligus tempat tinggal, pesantren mempunyai kebutuhan kesehatan yang khas. Pemeriksaan lebih awal membantu menemukan masalah lebih dini, sekaligus jadi kesempatan edukasi kebersihan bagi santri dan pengelola pesantren.

Saat Pemeriksaan Mengungkap Masalah yang Tak Terlihat

Hasil CKG Sekolah menunjukkan mengapa pemeriksaan kesehatan tidak seharusnya menunggu anak mengeluh.

Dari berbagai persoalan kesehatan yang ditemukan dalam CKG Sekolah periode 1 Januari hingga 3 Agustus 2026, gigi berlubang atau karies menjadi temuan paling banyak. Masalah yang kerap dianggap sepele ini dialami 41,5 persen atau sekitar 3,4 juta siswa. 

Di urutan berikutnya adalah anemia, yang ditemukan pada 27,5 persen atau sekitar 146.000 remaja putra dan putri kelas 7 serta remaja putri kelas 10.

Keluhan pada penderita anemia sering dianggap ringan, yaitu anak mudah lelah atau sulit berkonsentrasi. Namun biasanya kondisi itu dianggap karena anak kurang istirahat atau terlalu banyak aktivitas. Padahal, anemia yang tidak ditangani dapat  berdampak ketika remaja memasuki usia reproduktif karena dapat meningkatkan masalah pada kehamilan dan kesehatan bayi.

Karena itu, anemia perlu dideteksi sejak usia sekolah agar dapat ditangani lebih awal, terutama sebelum remaja putri memasuki usia reproduktif.

Temuan lainnya melalui CKG Sekolah menunjukkan adanya peningkatan tekanan darah pada 21,6 persen atau 2,2 juta siswa, impaksi atau penumpukan kotoran telinga pada 8,1 persen atau 783.000 siswa, serta overweight dan obesitas pada 6,9 persen atau 795.000 siswa.

Petugas memeriksa kondisi kesehatan telinga siswa saat cek kesehatan gratis (CKG) di SD Negeri Tempurejo 1, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (30/7/2026) (ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/agr). 

Di antara berbagai temuan itu, gigi berlubang mungkin terdengar paling biasa dan kerap diremehkan karena anak masih bisa makan, bermain, dan pergi ke sekolah. Padahal, gigi berlubang dapat mengganggu makan, tidur, konsentrasi, hingga aktivitas belajar.

Begitu pula gangguan mata dan telinga. Seorang anak yang kesulitan melihat tulisan di papan tulis atau mendengar penjelasan guru dengan baik bisa saja terlihat seperti tidak memperhatikan pelajaran. Padahal, persoalan sebenarnya ada pada kondisi kesehatan mereka yang belum diketahui.

Kesehatan Jiwa, Masalah yang Paling Mudah Luput

Jika gigi berlubang masih bisa ditemukan lewat pemeriksaan fisik, ada masalah lain yang jauh lebih sulit dikenali, yaitu kesehatan jiwa. Tidak semua anak mampu menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Perubahan perilaku pun terkadang dianggap sebagai bagian dari fase tumbuh kembang yang nantinya akan berlalu.

Pada konferensi pers 9 Maret 2026, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa CKG periode 2025 – 2026 menemukan gejala kecemasan dan depresi dalam jumlah signifikan pada anak.

Hampir 10 persen dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendeteksi sebanyak 4,4 persen atau 338.000 anak menunjukkan gejala cemas (anxiety disorder). Sementara itu, 4,8 persen atau 363.000 anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder).

Temuan tersebut menunjukkan sisi lain dari pemeriksaan kesehatan di sekolah. Ada persoalan yang mungkin tidak disampaikan anak secara langsung, tetapi bisa dikenali lebih awal melalui skrining sehingga mereka berkesempatan mendapatkan perhatian dan dukungan yang dibutuhkan.

Pemeriksaan Bukan Garis AkhirPelajar putri memperlihatkan pil tambah darah yang didistribusikan petugas Puskesmas Bukit Hindu di SMA Katolik Santo Petrus Kanisius, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Senin (9/3/2026) (ANTARA FOTO/Auliya Rahman/tom). 

CKG hanyalah langkah awal. Mengetahui seorang anak memiliki gigi berlubang, gangguan penglihatan atau pendengaran, anemia, maupun risiko masalah kesehatan jiwa tentu belum menyelesaikan persoalan. Temuan tersebut perlu diikuti dengan penanganan dan dukungan sesuai kebutuhan.

Hingga 9 Agustus, lebih dari 12,5 juta siswa telah menjalani CKG. Masih ada puluhan juta peserta didik lainnya yang menjadi sasaran CKG sepanjang tahun. 

Sebagian dari mereka mungkin akan datang ke sekolah tanpa satu pun keluhan. Tetap belajar, bercanda dengan teman, dan terlihat sehat. Tetapi, kita tidak harus menunggu mereka mengeluh untuk memastikan semuanya memang baik-baik saja.

Ada alasan sederhana mengapa CKG Sekolah mendesak: masa anak-anak berjalan cepat, dan kita tidak pernah tahu siapa yang sedang mengalami masalah kesehatan sampai mereka diperiksa. 

CKG membantu memastikan kondisi kesehatan anak sekaligus menemukan lebih dini masalah yang mungkin belum terlihat. Sebab, satu masalah kesehatan yang ditemukan lebih cepat bisa berarti lebih sedikit waktu belajar, bermain, dan tumbuh yang hilang.

Advertisements

Also Read

Tags