Bank Indonesia (BI) bersama dengan the Monetary Authority of Singapore (MAS) secara resmi mengumumkan operasionalisasi kerangka kerja sama penyelesaian transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal masing-masing negara, atau yang dikenal sebagai Local Currency Transaction (LCT). Langkah strategis ini mulai diberlakukan secara efektif pada hari Senin (31/8), menandai babak baru dalam hubungan ekonomi dan finansial antara Indonesia dan Singapura. Dengan implementasi kerangka kerja ini, transaksi perdagangan dan investasi antara kedua negara kini dapat diselesaikan secara langsung menggunakan Rupiah (IDR) dan Dolar Singapura (SGD), tanpa harus melalui mata uang perantara seperti Dolar Amerika Serikat (USD).
Pengumuman resmi mengenai operasionalisasi LCT ini merupakan kelanjutan dari komitmen panjang kedua bank sentral dalam memperkuat stabilitas keuangan regional. Kerja sama ini diawali dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) yang dilakukan pada bulan Agustus 2022. Komitmen tersebut kemudian diperkuat dengan penyusunan dan kesepakatan atas Pedoman Operasional yang disetujui oleh Bank Indonesia dan MAS pada April 2026. Guna memberikan landasan hukum yang kuat serta panduan praktis bagi industri perbankan, kesepakatan tersebut dituangkan ke dalam Peraturan Anggota Dewan Gubernur Nomor 25 Tahun 2026 tentang Penyelesaian Transaksi Bilateral antara Indonesia dan Singapura Menggunakan Rupiah dan Dolar Singapura melalui Bank.
Langkah ini tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral kedua negara, tetapi juga memiliki signifikansi yang luas bagi kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan. Bank Indonesia menjelaskan bahwa kerangka LCT ini dirancang untuk mendukung aktivitas perdagangan bilateral secara lebih efisien sekaligus memperkuat integrasi keuangan di kawasan ASEAN. Melalui perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi intra-ASEAN, ketergantungan terhadap mata uang global dapat dikurangi, yang pada akhirnya akan meningkatkan stabilitas makroekonomi regional di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global.
Dalam menjalankan mekanisme LCT ini, peran lembaga keuangan yang ditunjuk sangatlah krusial. Bank Indonesia dan MAS telah menunjuk sejumlah bank komersial di kedua negara untuk bertindak sebagai Bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD). Bank-bank ACCD inilah yang memiliki otoritas dan kapasitas untuk memfasilitasi berbagai transaksi keuangan bilateral menggunakan mata uang lokal. Layanan yang disediakan oleh bank ACCD mencakup pembukaan rekening mata uang lokal di negara mitra, penyelesaian transaksi berjalan, fasilitasi investasi langsung, hingga penyediaan instrumen lindung nilai (hedging) berbasis Rupiah dan Dolar Singapura.
Kerangka kerja LCT ini mencakup spektrum transaksi yang luas untuk memberikan fleksibilitas maksimal bagi para pelaku ekonomi. Pertama, transaksi berjalan (current account transactions), yang meliputi pembayaran atas ekspor dan impor barang serta jasa. Kedua, transaksi investasi langsung (direct investment transactions), yang memungkinkan para investor dari Singapura untuk menanamkan modal di Indonesia, atau sebaliknya, dengan menggunakan mata uang lokal secara langsung. Ketiga, pembayaran lintas negara (cross-border payments), termasuk transaksi ritel yang semakin mendominasi aktivitas ekonomi digital saat ini. Kehadiran kerangka ini diharapkan mampu memangkas biaya konversi ganda, mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar, dan mempercepat waktu penyelesaian transaksi.
Salah satu fitur utama dan paling inovatif dari kerangka kerja LCT ini adalah penyediaan kuotasi langsung (direct quotation) antara Rupiah dan Dolar Singapura. Melalui fitur ini, pelaku usaha tidak perlu lagi mengonversi mata uang mereka ke Dolar AS terlebih dahulu sebelum diubah ke mata uang tujuan. Hal ini secara signifikan mengurangi biaya transaksi (transaction cost) karena menghilangkan selisih kurs ganda (double spread). Selain itu, adanya relaksasi ketentuan dan pengaturan terkait dari kedua bank sentral diharapkan dapat menjadi stimulus tambahan yang mendorong para pelaku usaha untuk segera beralih menggunakan mata uang lokal dalam kegiatan operasional mereka.
Implementasi LCT ini juga membawa dampak positif yang sangat besar bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Selama ini, UMKM sering kali menjadi pihak yang paling rentan terhadap gejolak nilai tukar Dolar AS dan guncangan geopolitik global karena keterbatasan instrumen lindung nilai yang mereka miliki. Dengan adanya LCT, pelaku UMKM yang melakukan perdagangan lintas batas dengan Singapura dapat bertransaksi dengan lebih stabil dan aman dari risiko depresiasi mata uang. Tren de-dollarization atau pengurangan ketergantungan terhadap Dolar AS kini memang semakin nyata di tingkat global. Fenomena ini tercermin dari volume transaksi LCT Indonesia yang terus menunjukkan tren peningkatan yang sangat positif, bahkan telah menembus angka setara US$ 4,3 miliar, menunjukkan kepercayaan yang semakin tinggi dari para pelaku pasar terhadap penggunaan mata uang lokal.
Untuk memastikan kelancaran implementasi di lapangan, Bank Indonesia telah menunjuk sembilan bank terkemuka di Indonesia sebagai Bank ACCD. Bank-bank ini dipilih berdasarkan kapasitas, jaringan, dan kesiapan infrastruktur mereka dalam memfasilitasi transaksi valuta asing. Berikut adalah daftar lengkap bank ACCD yang beroperasi di Indonesia:
- PT Bank Central Asia Tbk: Sebagai salah satu bank swasta terbesar di Indonesia, BCA memiliki jaringan nasabah korporasi dan ritel yang sangat luas untuk mendukung transaksi perdagangan bilateral.
- PT Bank CIMB Niaga Tbk: Dengan kekuatan jaringan regional di Asia Tenggara, CIMB Niaga siap memfasilitasi kebutuhan transaksi lintas batas nasabahnya menggunakan skema LCT.
- PT Bank DBS Indonesia: Merupakan anak usaha dari DBS Group Singapura, bank ini memiliki posisi strategis yang sangat kuat dalam menghubungkan pelaku bisnis di kedua negara.
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk: Sebagai salah satu bank milik negara terbesar, Bank Mandiri memiliki portofolio pembiayaan perdagangan yang besar yang dapat dioptimalkan melalui skema LCT.
- PT Bank Maybank Indonesia Tbk: Maybank memanfaatkan jaringan regionalnya yang kuat untuk memberikan solusi keuangan berbasis mata uang lokal yang efisien.
- PT Bank Negara Indonesia Tbk: BNI yang memiliki fokus kuat pada bisnis internasional dan remitansi siap mengoptimalkan layanan LCT bagi eksportir dan importir.
- PT Bank OCBC NISP Tbk: Bagian dari OCBC Group yang berbasis di Singapura, bank ini memiliki sinergi yang erat untuk mempermudah transaksi Rupiah-Dolar Singapura.
- PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk: Kehadiran Bank Jatim sebagai bank pembangunan daerah menunjukkan bahwa manfaat LCT juga didorong untuk menjangkau perekonomian daerah secara lebih inklusif.
- PT Bank UOB Indonesia: Dengan afiliasi kuat bersama UOB Group di Singapura, bank ini menawarkan integrasi layanan yang mulus bagi para pelaku usaha bilateral.
Di sisi lain, Monetary Authority of Singapore (MAS) juga telah menunjuk tiga institusi perbankan utama di Singapura yang akan bertindak sebagai mitra kerja sama dalam memfasilitasi transaksi LCT ini. Bank-bank tersebut adalah:
- DBS Bank Ltd.: Bank terbesar di Singapura ini memiliki infrastruktur digital dan keuangan yang sangat maju untuk mendukung kelancaran penyelesaian transaksi menggunakan Rupiah dan Dolar Singapura.
- Oversea-Chinese Banking Corporation Limited: Sebagai salah satu institusi keuangan terkemuka di Asia, OCBC memainkan peran penting dalam menyediakan likuiditas dan kuotasi langsung untuk pasangan mata uang IDR-SGD.
- United Overseas Bank Limited: UOB memiliki fokus yang mendalam pada konektivitas regional dan siap mendukung para pelaku usaha di Singapura yang ingin memperluas atau menyelesaikan transaksi bisnis mereka di Indonesia dengan mata uang lokal.
Melalui kolaborasi erat antara bank-bank ACCD di Indonesia dan Singapura tersebut, para pelaku usaha kini memiliki akses langsung ke pasar keuangan kedua negara tanpa hambatan konversi mata uang ketiga. Sinergi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan volume perdagangan bilateral, tetapi juga mempererat hubungan investasi langsung. Penggunaan LCT secara luas akan menciptakan ekosistem keuangan yang lebih mandiri dan tangguh di Asia Tenggara, sekaligus mempercepat realisasi visi integrasi ekonomi ASEAN yang dicanangkan oleh para pemimpin negara anggota.




