BANYU POS JAKARTA. Sejumlah aset investasi mencatatkan kinerja positif sepanjang Agustus 2026.
Kripto menjadi instrumen yang paling agresif menguat, sementara emas dan obligasi juga mencatatkan penguatan di tengah perubahan ekspektasi suku bunga global dan dinamika pasar keuangan.
Berdasarkan data CoinMarketCap per 1 September 2026 pukul 16.51 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 77.940, naik 23,35% dalam sebulan. Ethereum juga mencatatkan kenaikan 23,33% ke level US$ 2.452.
TPIA Buka Akses Pelabuhan ke Pihak Eksternal, Bidik Bisnis Logistik
Meski mencatatkan penguatan signifikan secara bulanan, kinerja kedua aset tersebut masih berada di zona negatif secara year-to-date (YtD). Bitcoin masih terkoreksi 10,94%, sedangkan Ethereum turun 10,95% sejak awal tahun.
Analis Reku Andri Fauzan mengatakan, penguatan Bitcoin dan Ethereum sepanjang Agustus didorong kombinasi faktor makroekonomi dan perkembangan regulasi.
“Pengumuman Treasury AS yang memperbesar buyback obligasi jangka panjang menjadi pemicu awal, diinterpretasikan sebagai sinyal likuiditas dan memperkuat debasement trade di tengah utang AS yang sudah di atas US$ 40 triliun,” ujar Andri kepada Kontan, Selasa (1/9/2026).
Selain itu, arus dana masuk ke exchange-traded fund (ETF) spot kembali meningkat, terutama pada pekan ketiga dan keempat Agustus.
Dorongan terhadap Clarity Act serta aksi short squeeze juga turut mempercepat penguatan harga aset kripto.
Menurut Andri, kenaikan Bitcoin dan Ethereum kali ini lebih mencerminkan awal pemulihan yang kredibel dibandingkan sekadar dead cat bounce.
Namun, kondisi tersebut belum dapat disebut sebagai pembalikan tren penuh menuju bull market baru.
Hingga akhir 2026, Andri masih melihat prospek pasar kripto cenderung positif, meski ruang koreksi dalam jangka pendek tetap terbuka.
“Untuk skenario dasar, Bitcoin diproyeksikan berada di kisaran US$ 90.000-US$ 110.000, sedangkan Ethereum berada di kisaran US$ 3.000-US$ 3.800,” jelasnya.
IHSG Berpeluang Konsolidasi pada Rabu (2/9/2026), Begini Proyeksi Analis
Emas Masih Jadi Aset Safe Haven
Di pasar komoditas, emas juga mencatatkan penguatan sepanjang Agustus 2026.
Berdasarkan data Trading Economics per 1 September 2026 pukul 17.00 WIB, harga emas berada di level US$ 4.367,55 per ons troi. Harga emas naik 7,74% secara bulanan dan masih mencatatkan penguatan 1,14% secara year-to-date.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures Brahmantya Himawan mengatakan, kenaikan harga emas merupakan bagian dari fase pemulihan setelah sebelumnya mengalami tekanan.
“Penguatan tersebut didorong oleh kombinasi permintaan safe haven, pelemahan dolar pada sebagian periode, penurunan yield Treasury, serta pembelian emas oleh bank sentral,” ujarnya.
Bank Jateng Raih Peringkat idAA- dengan Prospek Stabil dari PEFINDO
Namun, Brahmantya mengingatkan bahwa emas masih menghadapi risiko koreksi dalam jangka pendek.
Nada kebijakan The Fed yang lebih hawkish berpotensi kembali mendorong kenaikan yield Treasury dan dolar AS.
Di sisi lain, eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran juga menjadi sentimen yang perlu diperhatikan karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi dan ekspektasi suku bunga.
“Untuk jangka pendek saya justru melihat emas masih berpotensi mengalami koreksi terlebih dahulu,” kata Brahmantya.
Meski demikian, ia menilai prospek emas hingga akhir tahun masih terbuka. Area US$ 4.300-US$ 3.900 per ons troi menjadi level support yang perlu diperhatikan.
Jika area tersebut mampu bertahan, harga emas berpeluang kembali menguat menuju US$ 4.800-US$ 5.000 per ons troi hingga akhir 2026.
IHSG Menguat 1,14% ke 6.599 pada Selasa (1/9/2026), CUAN, BUMI, ESSA Top Gainers LQ45
Obligasi Ikut Menguat
Sementara itu, pasar obligasi juga menunjukkan kinerja positif sepanjang Agustus.
Berdasarkan data Trading Economics per 1 September 2026, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di level 6,99%, turun sekitar 0,385% secara bulanan.
Penurunan yield tersebut mencerminkan penguatan harga obligasi.
Head of Investment Specialist Sinarmas Asset Management Domingus Sinarta Ginting mengatakan, penguatan pasar obligasi sepanjang Agustus didukung oleh meredanya tekanan global, terutama pelemahan dolar AS yang membantu menstabilkan nilai tukar rupiah.
Kondisi tersebut juga memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk tidak terlalu agresif menyerap likuiditas melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Dari sisi global, ekspektasi suku bunga The Fed yang tidak semakin hawkish juga membantu menurunkan tekanan terhadap yield,” ujar Domingus.
Menurutnya, prospek pasar obligasi hingga akhir 2026 masih cukup konstruktif. Namun, obligasi pemerintah tetap sensitif terhadap sejumlah faktor, seperti arah kebijakan The Fed, pergerakan rupiah, kebijakan Bank Indonesia, kondisi fiskal, serta pasokan SBN.
Sementara itu, obligasi korporasi cenderung lebih stabil karena memiliki durasi yang relatif pendek dan menawarkan carry kupon yang lebih tinggi.
Untuk SBN tenor 10 tahun, Domingus memproyeksikan yield bergerak dalam kisaran 6,9%-7,6% hingga akhir 2026.
IHSG Diproyeksi Konsolidasi dengan Bias Menguat, Cermati Sentimen Ini
Prospek Investasi hingga Akhir 2026
Kinerja sejumlah aset sepanjang Agustus menunjukkan bahwa investor mulai mendapatkan momentum positif setelah menghadapi volatilitas tinggi pada periode sebelumnya.
Kripto mencatatkan penguatan paling agresif dengan kenaikan lebih dari 23% untuk Bitcoin dan Ethereum.
Emas juga tetap mendapat dukungan sebagai aset lindung nilai, sedangkan obligasi memperoleh katalis dari penurunan yield.
Namun, memasuki September, investor masih perlu mencermati sejumlah risiko yang dapat mengubah arah pasar.
Kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, kondisi likuiditas global, perkembangan inflasi, serta eskalasi geopolitik menjadi sejumlah faktor utama yang akan menentukan pergerakan berbagai kelas aset.
Rupiah Jisdor Menguat 0,11% ke Rp 17.727 per Dolar AS pada Selasa (1/9/2026)
Dengan volatilitas yang masih tinggi, investor perlu menyesuaikan strategi dengan profil risiko dan karakteristik masing-masing instrumen.
Penguatan pada Agustus juga tidak serta-merta menjamin kinerja serupa akan berlanjut pada September maupun hingga akhir tahun.




