Sektor energi masih jadi primadona, intip saham pilihan analis

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sektor energi masih menjadi salah satu motor penggerak pasar saham Indonesia.

Advertisements

Penguatan indeks sektor energi mulai ditopang kombinasi perbaikan fundamental emiten, pemulihan produksi, serta ekspektasi earnings recovery pada paruh kedua 2026.

Pada perdagangan Kamis (3/9/2026), indeks IDX Energy kembali menguat 1,36% ke level 3.364,14. Dengan demikian, penguatan indeks sektor energi semakin melanjutkan tren positif dan sudah menguat 14,16% dalam sebulan per Kamis (3/9/2026).

Advertisements

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai penguatan saham energi saat ini sudah lebih dari sekadar euforia harga komoditas.

Simak Rekomendasi Saham Emiten Batubara yang Gencar Masuk ke Sektor Energi Hijau

Menurut dia, investor mulai melakukan rotasi ke sektor energi karena mencari emiten dengan visibilitas laba yang lebih jelas.

Apalagi, saham-saham energi sebelumnya sempat mengalami tekanan sehingga memberikan ruang bagi rebound ketika sentimen komoditas kembali membaik.

“Yang dibeli investor bukan hanya harga batubara atau minyaknya, tetapi juga ekspektasi bahwa laba dan arus kas emiten akan tetap kuat,” ujar Hendra kepada Kontan, Kamis (3/9/2026).

Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas juga melihat perbaikan fundamental mulai menjadi salah satu penopang penguatan sektor energi.

Menurut Sukarno, pemulihan volume produksi setelah normalisasi RKAB serta ekspektasi pemulihan laba pada semester II-2026 menjadi katalis tambahan, meski pergerakan harga komoditas masih menjadi faktor utama.

“Momentum harga komoditas tetap menjadi katalis utama,” ujar Sukarno.

Mengintip Prospek Kinerja Emiten EBT pada 2026 dan Rekomendasi Saham Pilihan Analis

Hendra menilai sektor energi masih berpeluang menjadi salah satu primadona pasar saham hingga akhir 2026. Bahkan, sektor ini berpotensi kembali menjadi salah satu penopang IHSG apabila harga komoditas tetap berada pada level yang menguntungkan bagi produsen.

Namun, dia menilai kenaikan sektor energi ke depan tidak akan terjadi secara merata. Investor akan semakin selektif dalam memilih emiten berdasarkan kekuatan fundamentalnya.

“Fase berikutnya justru akan menjadi fase stock picking,” jelas Hendra.

Emiten dengan biaya produksi rendah, neraca yang sehat, arus kas kuat, cadangan besar, serta kemampuan menjaga volume produksi dinilai akan lebih menarik di tengah tren tersebut.

Senada, Sukarno melihat prospek sektor energi masih cukup menarik seiring harga komoditas yang relatif tinggi. Pemulihan produksi pada semester II-2026 juga berpotensi menopang kinerja emiten batu bara.

Dia menambahkan, permintaan energi global dan faktor geopolitik turut menjadi katalis yang perlu diperhatikan investor.

Dari sisi makro, Hendra melihat potensi pelonggaran kebijakan moneter global dapat meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko. Pelemahan dolar AS juga berpotensi memberikan ruang bagi harga komoditas.

Di dalam negeri, kebutuhan energi, investasi sektor energi, hilirisasi, dan pembangunan infrastruktur dapat menjadi katalis tambahan bagi sektor tersebut.

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati volatilitas harga komoditas dan potensi perlambatan ekonomi global. China menjadi salah satu faktor penting karena pelemahan permintaan dari negara tersebut dapat menekan harga batu bara dan komoditas lainnya.

Penurunan Level PMI Manufaktur Warning Bagi Emiten, Ini Saham Rekomendasi Analis

Selain itu, arah kebijakan The Fed juga menjadi risiko bagi saham energi. Jika inflasi Amerika Serikat kembali meningkat dan The Fed bersikap lebih hawkish, penguatan dolar AS dan kenaikan yield dapat mendorong investor kembali masuk ke mode risk-off terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Risiko domestik juga datang dari perubahan kebijakan pemerintah terkait ekspor, Domestic Market Obligation (DMO), RKAB, royalti, maupun regulasi pertambangan yang dapat mempengaruhi margin emiten.

Sukarno menambahkan, kenaikan biaya produksi juga perlu menjadi perhatian investor di tengah prospek pemulihan volume produksi.

Untuk pilihan saham, Hendra merekomendasikan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sebagai trading buy dengan target harga Rp2.860 per saham.

ADRO dinilai memiliki fundamental yang relatif solid serta eksposur terhadap bisnis energi yang semakin terdiversifikasi. Hendra melihat ADRO berpotensi ikut menikmati rotasi dana investor ke saham komoditas selama momentum sektor energi masih positif.

Hendra juga memilih PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) sebagai trading buy dengan target harga Rp3.000 per saham. Selain posisi strategis sebagai salah satu pemain batu bara nasional, pengembangan bisnis dan hilirisasi dinilai dapat menjadi sumber pertumbuhan jangka menengah.

Sementara bagi investor dengan profil risiko lebih agresif, Hendra merekomendasikan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) sebagai speculative buy dengan target Rp4.720 per saham.

“RATU lebih tepat diperlakukan sebagai saham momentum dengan manajemen risiko yang disiplin,” kata Hendra.

Adapun PT Bumi Resources Tbk (BUMI) ditempatkan sebagai speculative buy dengan target Rp250 per saham.

Hendra menilai karakter BUMI yang memiliki beta tinggi membuat saham tersebut berpotensi bergerak lebih agresif saat sentimen batu bara menguat, tetapi risikonya juga lebih tinggi ketika sentimen berbalik.

Peluang Rebound IHSG Terbuka, Intip Saham Pilihan Analis Hari Ini (29/4)

Dari Kiwoom Sekuritas, Sukarno memilih PTBA, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sebagai top pick sektor energi terkait batu bara.

Pilihan tersebut didasarkan pada kombinasi pemulihan volume produksi, neraca yang kuat, arus kas, serta potensi dividend yield.

Untuk PTBA, Sukarno memberikan rekomendasi hold atau trading buy dengan target harga Rp3.260 per saham. Sementara ITMG direkomendasikan dengan target harga Rp30.000 per saham dan AADI dengan target Rp12.000 per saham.

Dengan demikian, meski momentum sektor energi masih kuat, investor dinilai perlu mulai lebih selektif setelah kenaikan indeks yang cukup cepat.

Hendra melihat sektor energi masih memiliki ruang untuk melanjutkan rally hingga akhir 2026, meski kecepatannya berpotensi tidak setinggi kenaikan dalam sebulan terakhir.

“ADRO dan PTBA menjadi pilihan utama untuk trading buy, sementara RATU dan BUMI lebih tepat untuk speculative buy,” pungkas Hendra.

Advertisements

Also Read

Tags