KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah pada awal pekan berpotensi menguji tren penguatannya di tengah penantian rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Fed.
Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup menguat 37,00 poin atau 0,21% ke level Rp 17.642 per dolar AS pada perdagangan Jumat (4/9).
Berdasarkan data Trading Economics, rupiah berada di level Rp 17.631 per dolar AS atau bergerak 6,00 poin (0,03%), sedangkan menurut kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah berada di level Rp 17.636 per dolar AS, menguat Rp 53 atau sekitar 0,30% dari hari sebelumnya di level Rp 17.689 per dolar AS.
Harga Emas Antam Stagnan Rp 2.649.000 per Gram pada Hari Minggu (6/9)
Penguatan mata uang Garuda pada perdagangan Jumat (4/9) tersebut utamanya didorong oleh meredanya tekanan dolar AS global seiring sikap hati-hati pejabat The Fed serta masuknya arus modal asing ke instrumen SBN dan SRBI. Meski demikian, penguatan ini dinilai masih bersifat defensif karena pasar bersiap menghadapi rilis data penting ekonomi global.
Pergerakan rupiah pada awal pekan, Senin (7/9), akan sangat bergantung pada respons pelaku pasar global terhadap laporan data tenaga kerja AS bulan Agustus.
Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menilai faktor eksternal masih memegang kendali utama pergerakan kurs dibandingkan dengan faktor domestik.
“Rupiah masih sangat ditentukan faktor global dibandingkan domestik, seperti data tenaga kerja AS, ekspektasi suku bunga The Fed, yield US Treasury, dan harga minyak,” ujar Rizal kepada Kontan, Jumat (4/9).
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjelaskan bahwa jika data non-farm payrolls (NFP) AS memburuk, tingkat pengangguran naik, dan pertumbuhan upah melunak, pasar diproyeksikan akan memangkas ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed.
Kondisi ini berpotensi menekan indeks dolar AS (DXY) dan imbal hasil (yield) US Treasury, yang pada gilirannya membuka ruang apresiasi bagi rupiah.
Namun sebaliknya, jika data tenaga kerja AS dirilis lebih kuat dari perkiraan, mekanisme akan berbalik memicu penguatan dolar dan menekan mata uang emerging markets.
Selain itu, tipisnya likuiditas pasar akibat libur Labor Day di AS berpotensi memperlebar rentang pergerakan (intraday range) rupiah di pasar Asia.
Di sisi internal, posisi cadangan devisa Indonesia yang berada di kisaran US$146 miliar serta operasi stabilisasi Bank Indonesia menjadi bantalan penahan gejolak, meski risiko kenaikan harga minyak Brent dan dinamika geopolitik Timur Tengah tetap perlu diwaspadai.
Mengenai arah pergerakan rupiah pada Senin (7/9), Syafruddin memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp 17.590–Rp 17.730 per dolar AS dengan titik tengah di rentang Rp 17.640–Rp 17.660 per dolar AS.
“Jika data payroll jauh lebih lemah dari perkiraan dan yield UST turun, rupiah dapat menguji Rp 17.540–Rp 17.600,” kata Syafruddin.
Sementara itu, Rizal memperkirakan pergerakan kurs rupiah berada pada rentang Rp 17.580–Rp 17.720 per dolar AS.
Apabila sentimen global memberikan sokongan positif, rupiah berpotensi menguji kisaran Rp 17.550–Rp 17.600 per dolar AS, tetapi jika harga minyak dan data ekonomi AS kembali melonjak, rupiah berisiko melemah kembali menuju area Rp 17.700–Rp 17.750 per dolar AS.
Prospek Saham Garuda Indonesia (GIAA) dan AirAsia Indonesia (CMPP) Jelang Nataru




