BANYU POS JAKARTA. Pasar saham Indonesia, yang direpresentasikan oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), masih menunjukkan potensi pemulihan yang signifikan hingga akhir tahun 2026, demikian pandangan sejumlah sekuritas terkemuka. Meskipun kinerja IHSG sepanjang tahun berjalan berada di bawah tekanan yang cukup besar, proyeksi yang dipasang oleh berbagai lembaga sekuritas bervariasi, menunjukkan rentang optimisme yang luas, mulai dari level 7.000 hingga 8.100 untuk skenario yang paling positif. Konsensus ini mencerminkan keyakinan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk mendukung apresiasi pasar di masa mendatang, meskipun sentimen pasar dan arus dana global masih menjadi faktor penentu utama.
Pada perdagangan hari Jumat, 4 September 2026, IHSG terpantau ditutup melemah sebesar 0,47%, mencapai level 6.636,475. Penutupan ini menggarisbawahi kondisi pasar yang penuh tantangan, mengingat indeks telah terkoreksi sekitar 23,25% secara year to date (ytd). Koreksi tajam ini menempatkan pasar saham Indonesia dalam posisi yang memerlukan katalis kuat untuk membalikkan tren penurunan. Lebih lanjut, tekanan terhadap pasar saham juga terlihat jelas dari aktivitas investor asing. Hingga Jumat (4/9), investor asing secara kumulatif mencatatkan jual bersih atau net sell yang substansial, mencapai Rp 68,05 triliun, atau setara dengan US$ 3,85 juta. Angka net sell yang besar ini mengindikasikan bahwa investor global cenderung mengurangi eksposur mereka di pasar modal Indonesia, sebuah tren yang seringkali berkorelasi dengan ketidakpastian ekonomi global atau kekhawatiran spesifik terhadap pasar domestik. Kondisi ini menciptakan narasi pasar yang kompleks, di mana prospek pemulihan harus diimbangi dengan analisis mendalam terhadap faktor-faktor pendorong dan penghambatnya.
Meskipun tekanan pasar masih terasa tinggi dan arus dana asing cenderung keluar, sejumlah sekuritas besar memilih untuk mempertahankan target IHSG mereka hingga akhir 2026. Salah satu di antaranya adalah PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, yang tetap mematok target IHSG berada di kisaran 7.250–7.700 pada akhir tahun. Konsistensi ini didasarkan pada analisis yang lebih dalam mengenai faktor-faktor pendorong pasar. Oktavianus Audi, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa target tersebut dipertahankan dengan mempertimbangkan progres “lima uji re-rating” yang perlu terus berlanjut. Uji re-rating ini menjadi krusial menjelang tinjauan atau review oleh MSCI pada November 2026. Hasil dari evaluasi MSCI ini berpotensi besar menjadi penentu arah aliran dana investor institusional global ke pasar Indonesia.
Menurut Audi, koreksi tajam yang dialami IHSG sepanjang tahun lebih banyak disebabkan oleh arus dana dan sentimen pasar global ketimbang pelemahan fundamental ekonomi Indonesia. Argumentasi ini didukung oleh data pertumbuhan ekonomi domestik yang tetap solid, menjadi salah satu alasan utama Kiwoom tidak mengubah target IHSG-nya. “Kami memilih tidak menurunkan target karena menilai koreksi tajam sepanjang tahun lebih banyak digerakkan oleh arus dana dan sentimen, bukan pelemahan fundamental,” kata Audi kepada Kontan pada Minggu (6/9/2026). Kiwoom Sekuritas memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada kuartal II-2026, sebuah angka yang menunjukkan ketahanan ekonomi di tengah gejolak global. Selain itu, tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 5,75% dinilai masih memberikan ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter apabila stabilitas rupiah tetap terjaga, yang dapat menjadi katalis positif bagi pasar saham.
Audi menambahkan bahwa level psikologis 7.000 menjadi tahapan penting bagi IHSG sebelum melanjutkan kenaikan menuju kisaran target Kiwoom. Namun, perkembangan pasar juga akan sangat dipengaruhi oleh hasil evaluasi MSCI pada November 2026. Evaluasi ini sangat penting karena bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets (EM) telah menyusut tajam dari 1,16% pada tahun 2025 menjadi sekitar 0,45% pada tahun 2026. Penurunan bobot ini mengindikasikan bahwa sebagian besar tekanan de-weighting pasif, yaitu penjualan saham akibat penyesuaian indeks oleh dana indeks global, sudah terserap oleh pasar. Dengan demikian, hasil evaluasi MSCI pada November berpotensi menjadi katalis masuknya kembali arus dana asing apabila reformasi transparansi dan tata kelola pasar di Indonesia dinilai memadai. Investor asing, menurut Audi, cenderung masih menunggu kepastian terkait perbaikan ini sebelum meningkatkan eksposur mereka di pasar saham Indonesia. Dalam konteks saham pilihan, Kiwoom Sekuritas Indonesia mengunggulkan sektor perbankan berkapitalisasi besar, logam, dan telekomunikasi, dengan saham-saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, INCO, ANTM, dan TLKM sebagai pilihan utama yang dinilai memiliki fundamental kuat dan prospek pertumbuhan yang baik.
Mirae Asset Pertahankan Target IHSG 6.800
Pandangan yang relatif positif juga datang dari PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Sekuritas ini memilih untuk mempertahankan target IHSG akhir 2026 pada level 6.800 untuk skenario dasar mereka. Selain itu, Mirae Asset juga menyusun skenario optimistis, memproyeksikan IHSG dapat mencapai 7.800, sementara target untuk skenario pesimistis berada di level 5.500. Rentang target ini mencerminkan pertimbangan terhadap berbagai potensi kondisi pasar di masa depan. Rully Wisnubroto, Chief Economist Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menyoroti bahwa perkembangan pasar dalam beberapa pekan terakhir mulai menunjukkan kondisi yang lebih konstruktif. Hal ini terutama ditopang oleh pemulihan IHSG yang cukup kuat dan stabilitas nilai tukar rupiah yang lebih terjaga.
Rully juga mengamati bahwa akumulasi investor asing mulai kembali muncul, khususnya pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps). Fenomena ini dinilai membuat risiko penurunan pasar menjadi lebih terkendali dibandingkan periode sebelumnya. “Memang perkembangan pasar dalam beberapa pekan terakhir cukup konstruktif. IHSG telah pulih cukup kuat, Rupiah relatif lebih stabil, dan mulai terlihat kembali akumulasi investor asing,” katanya kepada Kontan akhir pekan lalu. Dari sisi domestik, Rully menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup tangguh, meskipun pemulihannya belum merata dan daya beli masyarakat masih menunjukkan kondisi yang beragam di berbagai segmen. Di saat yang sama, inflasi Agustus tercatat meningkat menjadi 3,19% secara tahunan, sementara inflasi inti mencapai 2,92%. Angka inflasi ini menjadi salah satu indikator penting yang diperhatikan oleh Bank Indonesia dalam merumuskan kebijakan moneter, yang pada gilirannya akan memengaruhi likuiditas dan sentimen pasar.
RHB Sekuritas Pasang Target IHSG 7.300
RHB Sekuritas Indonesia juga belum mengubah proyeksi IHSG akhir 2026. Untuk skenario dasar, RHB mempertahankan target di level 7.300. Target ini dihitung menggunakan asumsi valuasi sebesar 12,4 kali proyeksi laba tahun 2026 (FY26F P/E), atau sekitar satu standar deviasi di bawah rata-rata lima tahun historis. Andrey Wijaya, Head Research RHB Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa IHSG saat ini diperdagangkan pada valuasi sekitar 10–11 kali proyeksi laba 2026. Menurutnya, posisi valuasi yang relatif rendah ini masih memberikan ruang yang signifikan bagi ekspansi valuasi di masa mendatang, yang dapat menarik minat investor. “Kami belum merevisi target karena valuasi IHSG masih atraktif. Saat ini IHSG diperdagangkan sekitar 10-11 kali FY26F P/E, jauh di bawah rata-rata historis,” ucapnya.
Andrey memperkirakan bahwa laba emiten di Indonesia masih mampu tumbuh sekitar 10,9% pada tahun 2026, sebuah proyeksi yang menunjukkan fundamental korporasi yang kuat. Namun, realisasi kenaikan valuasi ini tetap membutuhkan pemulihan kepercayaan investor serta pelaksanaan kebijakan yang konsisten dari pemerintah dan regulator. Dalam skenario optimistis, RHB memasang target IHSG sebesar 8.100. Target yang ambisius ini dapat tercapai apabila kredibilitas kebijakan domestik membaik secara signifikan, arus dana asing kembali menguat, nilai tukar rupiah stabil, dan kondisi global menjadi lebih kondusif. Sebaliknya, dalam skenario pesimistis, IHSG diproyeksikan berada di level 6.600, mencerminkan adanya risiko-risiko yang dapat menekan pasar. Menurut Andrey, stabilitas rupiah, arus dana asing, dan kredibilitas kebijakan domestik akan menjadi faktor utama yang menentukan arah IHSG hingga akhir tahun. Risiko yang berasal dari evaluasi MSCI juga tetap perlu diperhatikan, terutama berkaitan dengan transparansi kepemilikan dan aksesibilitas pasar bagi investor global.
J.P. Morgan Pangkas Target IHSG 2026
Berbeda dengan tiga sekuritas sebelumnya yang cenderung mempertahankan atau optimistis, J.P. Morgan Sekuritas justru mengambil sikap yang lebih konservatif dengan memangkas proyeksi IHSG akhir 2026. Target mereka kini menjadi 7.000, turun signifikan dari target sebelumnya yang mencapai 9.100. Penurunan target yang substansial ini mencerminkan pandangan yang lebih hati-hati dan waspada terhadap prospek pasar saham Indonesia hingga penghujung tahun. Benny Kurniawan, Head of Equity Research J.P. Morgan Indonesia, menilai bahwa kinerja laba emiten Indonesia masih relatif tangguh pada semester I-2026, dengan pertumbuhan sekitar 6% secara tahunan. Namun, momentum pertumbuhan ini diperkirakan melambat pada paruh kedua tahun 2026, sebuah faktor yang turut mendasari revisi target mereka.
“Kami tetap bersikap hati-hati dalam jangka pendek, mengingat tingginya imbal hasil global dan berbagai perkembangan terkait indeks berpotensi terus membatasi penguatan pasar,” tulis Benny dalam lembar fakta yang diterima Kontan. Tingginya imbal hasil global, terutama dari obligasi pemerintah Amerika Serikat, seringkali membuat aset-aset di pasar negara berkembang seperti Indonesia kurang menarik bagi investor yang mencari pengembalian risiko-bebas yang lebih tinggi. Menurut Benny, konsensus pasar memperkirakan laba emiten dalam indeks MSCI Indonesia turun 0,9% pada tahun 2026, sebelum kembali tumbuh 8,7% pada tahun 2027. Proyeksi ini menunjukkan adanya potensi pemulihan pertumbuhan laba pada tahun berikutnya, meskipun ada periode perlambatan di tahun berjalan. Dari sisi valuasi, pasar saham Indonesia saat ini diperkirakan diperdagangkan sekitar 10 kali proyeksi laba untuk 12 bulan ke depan. Benny menilai level valuasi tersebut sudah mencerminkan pandangan investor yang relatif berhati-hati terhadap pasar, mengindikasikan bahwa risiko-risiko telah cukup terdiskon.
Saham Pilihan Sekuritas
Di tengah prospek IHSG yang masih menghadapi sejumlah risiko dan ketidakpastian, pilihan sektor dan saham dari masing-masing sekuritas menunjukkan fokus pada sektor-sektor dengan fundamental yang dinilai relatif kuat dan tahan banting. RHB Sekuritas, misalnya, tetap mengunggulkan sektor perbankan, yang dikenal dengan stabilitas dan kapitalisasi pasarnya yang besar. Pilihan utama mereka dalam sektor ini adalah saham-saham bank berkapitalisasi besar seperti BBCA (Bank Central Asia) dan BMRI (Bank Mandiri), yang seringkali menjadi penopang utama IHSG. Di luar sektor perbankan, RHB juga memilih saham-saham seperti EXCL (XL Axiata) dari sektor telekomunikasi, MIKA (Mitra Keluarga Karyasehat) dari sektor kesehatan, MYOR (Mayora Indah) dari sektor konsumer, TAPG (Triputra Agro Persada) dari sektor perkebunan, MDKA (Merdeka Copper Gold) dari sektor pertambangan, PGAS (Perusahaan Gas Negara) dan ELSA (Elsa Tbk) dari sektor energi dan infrastruktur gas, serta SMSM (Selamat Sempurna) dari sektor industri. Pilihan ini menunjukkan diversifikasi ke sektor-sektor yang dianggap memiliki prospek pertumbuhan spesifik atau defensif.
Sementara itu, Kiwoom Sekuritas Indonesia juga mengunggulkan sektor perbankan berkapitalisasi besar, sejalan dengan RHB, karena dianggap memiliki ketahanan finansial dan likuiditas yang baik. Selain itu, Kiwoom juga menyoroti sektor logam dan telekomunikasi sebagai pilihan menarik. Saham-saham yang menjadi pilihan Kiwoom antara lain BBCA, BBRI (Bank Rakyat Indonesia), BMRI, INCO (Vale Indonesia) dari sektor logam, ANTM (Aneka Tambang) juga dari sektor pertambangan logam, dan TLKM (Telkom Indonesia) dari sektor telekomunikasi. Pemilihan saham-saham ini mencerminkan keyakinan sekuritas terhadap perusahaan-perusahaan dengan fundamental yang solid, posisi pasar yang dominan, dan potensi pertumbuhan yang didorong oleh kondisi ekonomi makro maupun tren industri. Sektor perbankan dan telekomunikasi sering dianggap sebagai sektor defensif yang stabil di tengah gejolak pasar, sementara sektor logam dapat diuntungkan dari kenaikan harga komoditas global.




