Haji Isam siapkan US$ 3 M beli saham orang terkaya RI, investor pilih beli/jual?

Hikma Lia

BANYU POS Jakarta. Kabar mengejutkan datang dari sektor pertambangan batu bara tanah air menyusul wacana akuisisi PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh pengusaha terkemuka Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam. Bersamaan dengan kabar tersebut, harga saham BYAN naik tinggi sebulan terakhir.

Advertisements

Untuk investor ritel, apakah sekarang saat yang tepat untuk jual atau beli saham milik orang terkaya Indonesia, Low Tuck Kwong tersebut?

Berdasarkan laporan Bloomberg yang dirilis pada Rabu (9/9/2026), Haji Isam dikabarkan mengajukan penawaran sekitar US$ 3 miliar untuk memborong 62% kepemilikan saham BYAN.

Advertisements

Penawaran tersebut diajukan melalui entitas yang dikendalikan oleh Haji Isam kepada para pemegang saham pengendali utama BYAN, yakni sang pendiri Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low. 

Saat ini, Low Tuck Kwong diketahui menguasai sekitar 40% saham BYAN, sementara Elaine Low memegang porsi sekitar 22%.

Low Tuck Kwong adalah orang terkaya di Indonesia dengan estimasi kekayaan mencapai sekitar US$ 18,8 miliar hingga US$ 19,1 miliar (sekitar Rp329 triliun hingga Rp337 triliun menurut data Forbes terbaru, September 2026. 

 Boy Thohir Tambah Pemilikan Saham Ini Meski Harga Telah Melesat 513% Ytd 

Valuasi dan Tanggapan Pengamat Pasar Modal

Jika terealisasi, nilai tawaran sebesar US$ 3 miliar atau setara dengan kisaran Rp 52,6 triliun tersebut mencerminkan diskon yang sangat besar, yakni sekitar 80% jika dibandingkan dengan total kapitalisasi pasar BYAN yang berada di kisaran US$ 26 miliar. 

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai angka penawaran tersebut tergolong sangat agresif. Secara kasar, valuasi dari penawaran US$ 3 miliar untuk 62% kepemilikan hanya merefleksikan valuasi perusahaan sekitar US$ 4,8 miliar.

Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan pelaku pasar mengenai kesediaan pemegang saham pengendali untuk melepas kendali atas raksasa tambang tersebut dengan harga yang jauh di bawah nilai pasar wajarnya. 

Hendra mengingatkan bahwa angka US$ 3 miliar tersebut belum bisa dianggap sebagai harga final. Berbagai faktor krusial seperti struktur pembayaran, mekanisme transaksi, sumber pendanaan, hingga hak saham masih dapat mengubah total nilai ekonominya secara keseluruhan.

“Pasar jangan terlalu cepat menyebut Bayan sedang dijual US$ 3 miliar. Bisa jadi yang sedang terjadi baru tahap tawar-menawar,” jelas Hendra.

Tonton: Purbaya Ungkap Rp100 Triliun Dana Pemda Mengendap, DKI Tetap Terbitkan Obligasi

Fundamental Kuat dan Daya Tarik Bisnis BYAN

Terlepas dari hiruk-pikuk rumor akuisisi, Hendra memandang bahwa PT Bayan Resources Tbk (BYAN) secara fundamental tetap memiliki daya tarik bisnis yang sangat kuat. Kekuatan utama BYAN terletak pada model bisnis batu bara yang terintegrasi penuh, kepemilikan infrastruktur logistik mandiri, skala produksi yang masif, serta struktur biaya operasional yang relatif kompetitif. 

Kombinasi antara cadangan batubara, efisiensi, dan kemampuan menghasilkan arus kas (cash flow) yang solid menjadi daya tarik utama emiten ini.

Oleh karena itu, investor diingatkan agar tidak terburu-buru berspekulasi atau mengejar saham BYAN semata-mata karena tergiur oleh rumor akuisisi. Jika nantinya negosiasi tersebut mereda atau gagal tercapai, pergerakan harga saham BYAN pada akhirnya akan kembali diuji berdasarkan kinerja fundamental murni seperti volume produksi, fluktuasi harga jual batu bara, margin laba, hingga besaran dividen.

Tonton: 4 Bank Himbara Siap Tarik Pajak Digital Mulai 10 September

Proyeksi Teknikal dan Rekomendasi Saham BYAN

Harga saham BYAN pada perdagangan Rabu 9 September 2026 ditutup stagnan di Rp 13.775. Selama perdagangan 30 hari terakhir, harga saham BYAN telah meningkat 14,55% atau bertambah 1.750 poin.

Secara teknikal, pergerakan harga saham BYAN dinilai berpotensi bergerak pada kisaran rentang Rp 13.700 hingga Rp 13.800 per saham. 

Menghadapi dinamika pasar ini, Hendra memberikan rekomendasi speculative buy untuk jangka pendek hingga menengah dengan target harga awal di level Rp 15.000 per saham. 

Faktor fundamental perusahaan tetap harus diletakkan sebagai acuan utama yang menentukan keberlanjutan valuasi jangka panjang.

Advertisements

Also Read

Tags