Departemen Keuangan Amerika Serikat menyatakan akan membeli kembali utang pemerintah senilai hingga US$6 miliar. Langkah ini bertujuan menjaga agar pasar obligasi tetap berfungsi.
Pengumuman yang telah lama dinanti ini melipatgandakan volume operasi pembelian kembali (buyback) yang biasanya dilakukan. Ini juga merupakan tindak lanjut pernyataan Menteri Keuangan Scott Bessent pada 19 Agustus yang menyebut bahwa departemen tersebut setidaknya akan menggandakan jumlah normal untuk sekuritas yang telah diterbitkan.
Departemen Keuangan juga menyatakan bahwa operasi di masa mendatang akan bernilai setidaknya US$4 miliar.
Meskipun operasi ini secara resmi bertujuan menjaga likuiditas pasar utang pemerintah, langkah luar biasa ini juga dipandang sebagai upaya untuk menahan kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah. Yield obligasi pemerintah AS sempat mencapai level tertinggi sejak sebelum krisis keuangan global tahun 2008.
Baca juga:
- DBS Ramal Ekonomi RI Tumbuh 5,3% Tahun Ini, Belanja Pemerintah Jadi Penopang
- Pasar Mulai Pulih, Investor Global Kembali Masuk Indonesia
Namun, reaksi pasar justru negatif. Imbal hasil obligasi pemerintah kembali naik namun bergerak fluktuatif; sekuritas berjangka waktu panjang sempat mencatat kenaikan hingga 5 basis poin sebelum akhirnya melandai.
Obligasi acuan bertenor 10 tahun mencapai level 4,841% sekitar pukul 11.30 pagi waktu setempat (ET). Obligasi bertenor 20 tahun naik ke angka 5,314%, sementara obligasi bertenor 30 tahun naik 5 basis poin hingga menembus level penting 5,3%, dengan imbal hasil terakhir di angka 5,307%. Satu basis poin setara dengan 0,01%.
“Ini bukanlah ‘bazoka’ ala Hank Paulson,” ujar manajer dana obligasi Mark Spindel, kepala pejabat investasi di Potomac River Capital, merujuk pada langkah-langkah yang diambil mantan Menteri Keuangan tersebut saat krisis keuangan. “Lagipula, saat krisis itu, diperlukan tindakan dari Kongres.”
Sebelum pengumuman Rabu, sempat muncul spekulasi bahwa volume pembelian kembali bisa berkali-kali lipat dari rencana awal. Ini karena Departemen Keuangan menyatakan jumlahnya akan setidaknya” dua kali lipat dari operasi normal senilai $2 miliar.
“Pada akhirnya, Departemen Keuangan menerbitkan sekuritas dalam jumlah yang sangat besar, dan mereka mencoba mengendalikan tingkat harga di ujung kurva imbal hasil dengan langkah yang belum tentu merupakan operasi yang signifikan,” kata Robert Tipp, kepala strategi investasi dan kepala obligasi global di PGIM Credit.
Menurut dia, ekspektasi pasar sebenarnya berkisar antara US$6 miliar hingga US$10 miliar.”Jadi, angka yang mereka tetapkan berada di batas bawah ekspektasi pasar,” kata dia.
Akibatnya, menurut Tipp, pelaku pasar bereaksi negatif yang ditandai dengan aksi jual pada obligasi tenor panjang (bagian akhir kurva imbal hasil).”
Pelaksanaan pembelian kembali itu sendiri akan berlangsung pada hari Kamis dalam operasi berdurasi 20 menit yang berakhir pukul 14.00 waktu setempat (ET).
Kenaikan imbal hasil (yield) treasury terjadi akibat kombinasi berbagai faktor. Ada faktor lonjakan utang pemerintah yang baru-baru ini melampaui US$40 triliun, kekhawatiran inflasi akibat tarif dan konflik Iran, serta kenaikan harga energi yang membuat harga minyak mentah sempat menembus angka $100 per barel.
Di sisi lain, segmen tenor panjang pada kurva treasury merupakan bagian yang kurang aktif dalam pasar yang dikenal sebagai pasar paling dalam dan paling likuid di dunia ini.
Penerbitan treasury tahun ini telah melonjak 11,8% dibandingkan 2025, dan jumlah utang yang dipegang publik sebesar US$31,8 triliun mencatat kenaikan sebesar 8,2%.
“Treasury mengumumkan pembelian kembali dengan nilai yang lebih rendah dari harapan (atau kekhawatiran, tergantung sudut pandang Anda),” kata Ekonom Mizuho, Alex Pelle.
Ia menilai risikonya adalah Deartemen Keuangan AS mungkin akan meningkatkan skala langkah ini mengingat reaksi pasar. Namun, menurut dia, tekanan untuk menyimpang dari prosedur operasi standar akan sedikit mereda setelah pemilihan paruh waktu (midterm) berlalu.
Langkah percepatan pembelian kembali ini menuai kritik. Veberapa pihak mempertanyakan dampak besaran nilai tersebut terhadap pasar yang begitu masif, serta menyoroti tindakan ini sebagai penyimpangan dari pola perilaku Departemen Keuangan yang biasanya dapat diprediksi dalam proses semacam itu.
Salah satu kritikus terkemuka adalah Stanley Druckenmiller, pimpinan Duquesne Family Office sekaligus mantan mentor Bessent.
“Begitu pasar meyakini bahwa Departemen Keuangan AS sedang berupaya mempertahankan tingkat harga tertentu, setiap kenaikan imbal hasil akan menjadi ujian bagi keteguhan sikap otoritas, dan operasi tersebut harus diperbesar skalanya agar mampu bertahan menghadapi ujian-ujian itu,” tulis Druckenmiller dalam sebuah artikel opini di Wall Street Journal.
Menurut dia, pemerintah yang berupaya mempertahankan harga dengan melawan faktor fundamental ekonomi pasti akan kalah. Satu-satunya variabel yang menentukan adalah seberapa besar dana yang mereka habiskan sebelum akhirnya menyerah.
Langkah taktis Departemen Keuangan dilakukan di tengah seruan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh agar keterlibatan dalam pasar keuangan dikurangi. The Fed akan mengambil keputusan mengenai suku bunga dalam waktu satu minggu ke depan, dan para pelaku pasar telah memperhitungkan kemungkinan adanya kenaikan.
“Tindakanlah yang penting; dan dalam hal ini, tindakan berarti perubahan arah kebijakan fiskal atau suku bunga,” ujar Anil Kashyap, seorang ekonom dari University of Chicago.




