BANYU POS JAKARTA. Emiten produsen baja diproyeksikan masih akan melanjutkan pemulihan di tengah penguatan harga baja global. Tren ini bahkan bisa berlanjut hingga tahun 2027.
Melansir Trading Economics tanggal 13 September 2026 pukul 15.30 WIB, harga steel tercatat menyentuh CNY 3.131 per ton, naik 4,12% dalam sebulan dan 1,13% sejak awal tahun alias year to date (YTD).
Sementara, harga HRC steel ada di US$ 1.238 per ton, naik 3,77% dalam sebulan dan 32,41% YTD.
Prospek industri baja yang bisa berlanjut sampai tahun depan ini juga berupaya ditangkap oleh PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) dengan menambah kapasitas produksi.
Pefindo Pertahankan Rating idAAA Obligasi Pollux Hotels Rp500 Miliar
Spindo menargetkan pengembangan Plant 7 dapat menambah output sekitar 50.000 ton hingga 70.000 ton pada 2027, seiring rampungnya penambahan mesin pipa berukuran 8 inch dan 20 inch.
Johanes Wahyudi Edward Corporate Secretary & Investor Relation Spindo menjelaskan, pengembangan Plant 7 dilakukan secara bertahap.
Tahap pertama berupa pembangunan North Distribution Centre atau gudang seluas 1 hektare telah selesai pada 2024 dan difungsikan sebagai pusat distribusi.
Adapun tahap kedua mencakup penambahan mesin 8 inch dan 20 inch. Mesin 8 inch telah beroperasi sejak kuartal II 2026, sedangkan proses final commissioning mesin 20 inch ditargetkan selesai pada kuartal IV 2026.
Pendapatan dan Laba Sinergi Inti (INET) Kompak Melonjak di Semester I-2026
“Selain meningkatkan kapasitas, strategi pengembangan Plant 7 diarahkan untuk memperkuat diversifikasi produk dan meningkatkan kontribusi produk bernilai tambah,” ujarnya dalam Pubex Live ISSP, Senin (7/9/2026) lalu.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Indonesia Abida Massi Armand menjelaskan, kenaikan harga baja sudah menjadi katalis tambahan dalam membalikkan kinerja KRAS dan GGRP dari rugi ke untung di semester I 2026, dengan ISSP juga tumbuh solid.
ISSP mengantongi pendapatan sebesar Rp 2,8 triliun per semester I 2026, meningkat 8,5% secara tahunan (YoY). Laba bersih SPINDO mencapai Rp 240,5 miliar pada semester I 2026, tumbuh 12,7% YoY.
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) membukukan pendapatan usaha sebesar US$ 622,74 juta atau setara Rp 11,15 triliun, meningkat 35,1% YoY. Perusahaan membukukan laba bersih sebesar US$ 10,94 juta pada semester I-2026, berbalik dari rugi bersih sebesar US$ 105,38 juta pada periode yang sama tahun 2025.
PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) membukukan penjualan bersih GGRP tumbuh 29,95% YoY menjadi US$ 109,78 juta pada semester I-2026. Pada periode ini, GGRP mencatat laba bersih US$ 1,84 juta, berbanding terbalik dari rugi US$ 20,98 juta pada tahun lalu.
MGLV, BMAS, KOTA dan CBRE Rights Issue, Cermati Rekomendasi Analis
Pergerakan saham ISSP dan GGRP juga sejalan dengan kinerja operasionalnya. Saham ISSP naik 6,64% YTD dan ISSP 6,64% YTD.
Hanya KRAS yang bergerak beda arah, dengan penurunan saham sebesar 30,41% YTD.
Menurut Abida, pembalikan dari rugi ke laba KRAS belum sepenuhnya diapresiasi pasar, sehingga menciptakan gap antara fundamental dan harga saham yang berpotensi jadi entry point jika tren laba berlanjut konsisten.
“Sahamnya tetap menarik sebagai turnaround story meski risikonya lebih tinggi,” katanya kepada Kontan, Minggu (13/9/2026).
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie melihat, divergensi pergerakan saham itu disebabkan oleh pasar yang belum sepenuhnya yakin akan keberlanjutan kinerja KRAS.
“Sentimen penggerak untuk KRAS akan bergantung pada keberlanjutan kinerja operasionalnya ke depan,” ujarnya kepada Kontan, Sabtu (12/9/2026).
Tren positif untuk kinerja emiten baja diproyeksikan akan bertahan hingga akhir tahun 2026, lantaran didukung program 3 juta rumah dan proyek infrastruktur lain.
Namun, kata Abida, laju kenaikan harga baja global masih cenderung moderat pada 2027.
Sentimen penggerak kinerja para emiten baja di hingga 2027 adalah permintaan domestik dan disiplin produksi China. Sementara, sentimen pemberat berasal dari ancaman impor baja murah dan pelemahan rupiah.
“ISSP paling berpotensi unggul karena diversifikasi produk hilir yang defensif,” ungkapnya.
Adrian melihat, kinerja emiten baja hingga 2027 akan lebih tertolong dengan kebijakan anti dumping dan proteksi pasar domestik
“Pemberat kinerja emiten baja berupa risiko oversupply dari China, serta volatilitas harga global,” paparnya.
Rekomendasi beli disematkan Adrian untuk KRAS dengan target harga di Rp 250 per saham.




