Mata uang rupiah mengawali perdagangan menuju awal pekan ini dengan pergerakan yang menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari Senin (14/9). Merujuk data Bloomberg, rupiah membuka perdagangan di level Rp 17.608 per dolar AS menguat tipis 0,02% atau 3 poin.
Pantauan Katadata hingga pukul 09.10 rupiah menguat berada di level Rp 17.607 per dolar AS naik 0,02% atau 4 poin. Adapun pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup di level Rp 17.611 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,36% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.547 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini. Tekanan terhadap rupiah datang setelah data inflasi AS yang lebih kuat dari perkiraan kembali mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu kenaikan kembali pada imbal obligasi AS,” ujar Analis Doo Financial Lukman Leong.
Selain perkembangan inflasi dan pasar obligasi AS, rupiah juga menghadapi tekanan dari kenaikan harga minyak mentah dunia yang telah menembus US$100 per barel.
Menurut Lukman, kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi rupiah karena dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan kondisi eksternal negara-negara pengimpor minyak.
Pergerakan harga minyak juga menjadi perhatian pasar global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak Brent kembali berada di atas US$100 per barel, sementara pasar mencermati risiko gangguan pasokan energi akibat konflik yang berkepanjangan.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.550 hingga Rp 17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini.




