BANYU POS Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada Senin (14/9), tertekan aksi jual saham-saham teknologi berbasis artificial intelligence (AI), terutama Nvidia dan sejumlah produsen chip.
Tekanan muncul setelah sejumlah petinggi perusahaan AI menyuarakan kekhawatiran mengenai risiko keamanan teknologi tersebut dan menyerukan perlunya memperlambat pengembangan AI.
Suahasil Jadi Meneku Gantikan Purbaya, Pasar Bisa Respons Positif
Mengutip Reuters, indeks S&P 500 dibuka turun 45,5 poin atau 0,59% ke 7.611,44. Indeks Nasdaq Composite juga melemah 314,5 poin atau 1,19% menjadi 26.018,502.
Sementara itu, Dow Jones Industrial Average sempat dibuka naik 177,6 poin atau 0,34% ke 52.750,88. Namun, indeks tersebut kemudian berbalik arah dan terakhir tercatat turun 0,26%.
Saham Nvidia tercatat turun 2,5% dalam perdagangan pra-pembukaan. Saham Amazon, yang masuk kelompok Magnificent Seven, juga melemah sekitar 1%.
Tekanan lebih besar terlihat pada saham produsen chip. Saham Intel anjlok 6,5%, AMD turun 5,5%, sementara Marvell Technology merosot 7,5%.
Sentimen negatif terhadap saham AI muncul setelah CEO Anthropic Dario Amodei pada Sabtu (12/9) menyerukan perusahaan-perusahaan AI untuk memperlambat laju pengembangan kemampuan model AI.
Investor Ungkap Harapan ke Menkeu Suahasil, Ini yang Perlu Dicermati
Seruan tersebut mendapat dukungan dari CEO xAI Elon Musk dan CEO OpenAI Sam Altman.
Kondisi tersebut memicu aksi ambil untung setelah reli besar saham teknologi dan semikonduktor yang ditopang investasi AI dalam beberapa tahun terakhir.
Investasi bernilai miliaran dolar AS di sektor AI telah mendorong lonjakan tajam sejumlah saham teknologi dan produsen chip.
Perkembangan tersebut juga menjadi salah satu faktor penting di balik penguatan pasar saham AS dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, sejumlah investor menilai koreksi saham AI belum tentu menjadi awal dari pembalikan tren jangka panjang.
“Ini kemungkinan lebih merupakan gangguan sementara bagi saham AI ketimbang menjadi pembuka mata bagi investor,” kata Dennis Dick, pendiri sekaligus analis struktur pasar di Triple D Trading.
BEI Kembali Berlakukan Short Selling Mulai Besok, 15 September 2026
Investor Mulai Waspadai Risiko AI
Kekhawatiran mengenai dampak AI semakin kuat setelah peneliti Anthropic Jacob Coxon mengundurkan diri pada pekan lalu.
Ia menyebut orang-orang yang mengembangkan AI secara serius meyakini teknologi tersebut berpotensi menimbulkan risiko besar dalam beberapa tahun mendatang.
Namun, tidak semua investor sepakat dengan peringatan tersebut.
Investor Michael Burry, yang dikenal setelah mengambil posisi melawan pasar perumahan AS menjelang krisis finansial 2008, menilai peringatan dari perusahaan AI besar perlu dicermati.
Simak Rekomendasi Saham SMGR, TLKM, dan TINS untuk Selasa (15/9)
Ia menyebut, pernyataan tersebut berpotensi menjadi upaya pemain besar untuk membatasi kompetitor yang lebih kecil.
Chief Economic Strategist Annex Wealth Management Brian Jacobsen juga mempertanyakan kredibilitas sejumlah pernyataan tersebut.
“Argumen terkuat untuk berhati-hati adalah argumen yang didasarkan pada bukti, bukan ketakutan. Kita perlu mewaspadai perusahaan-perusahaan yang sudah mapan dan berupaya mempertahankan posisinya, sekaligus prediksi-prediksi meyakinkan mengenai hasil yang sebenarnya tidak dapat diukur secara andal oleh siapa pun,” ujar Jacobsen.
Tekanan di pasar saham AS terjadi menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) pada pekan ini.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed hampir 89%, berdasarkan CME FedWatch.
Sentimen pasar sebelumnya juga telah tertekan setelah data pekan lalu menunjukkan inflasi AS kembali meningkat.
Aksi Akuisisi Emiten Makin Marak, Simak Prospek Kinerja dan Rekomendasi Sahamnya
Di sisi lain, kenaikan harga minyak menambah tekanan terhadap pasar. Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 3% menjadi sekitar US$ 108,01 per barel pada Senin.
Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik sekitar 3% menjadi US$ 103,01 per barel.
Harga minyak tersebut berada pada level tertinggi sejak Mei dan berpotensi kembali meningkatkan kekhawatiran investor terhadap inflasi global.




