Update: Wall Street tergelincir Jumat (18/9), yield US Treasury 10 tahun tembus 4,99%

Hikma Lia

BANYU POS  Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Jumat (18/9/2026), tertekan kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury dan investor yang masih mencerna keputusan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Advertisements

Tekanan tersebut terjadi setelah pasar melewati pekan yang bergejolak, dengan pergerakan harga minyak yang fluktuatif serta perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga AS.

Rilis Dua Regulasi Bursa Mineral dan Komoditas Strategis, Pengawasan Beralih ke OJK

Advertisements

Melansir Reuters pukul 10.17 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average turun 195,80 poin atau 0,38% menjadi 51.590,98. Indeks S&P 500 melemah 17,02 poin atau 0,22% menjadi 7.620,74, sedangkan Nasdaq Composite turun 43,55 poin atau 0,16% ke 26.374,75.

Dari 11 sektor utama S&P 500, sebanyak 10 sektor berada di zona merah. Sektor material mencatat penurunan terbesar dengan pelemahan 1,4%.

Investor masih mencermati dampak kenaikan suku bunga The Fed serta komentar Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai arah suku bunga ke depan.

“Perdagangan hari ini sebagian besar akan berkaitan dengan mencerna dampak dan benar-benar memikirkan pro dan kontra dari langkah terbaru The Fed,” ujar Steve Sosnick, chief strategist Interactive Brokers.

Kenaikan yield obligasi pemerintah AS turut menambah tekanan terhadap saham. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik 4,9 basis poin menjadi 4,996%.

Asing Net Sell Rp 1,79 Triliun, Cermati Saham yang Banyak Dijual Asing, Jumat (18/9)

Pasar Soroti Prospek AI

Selain kebijakan moneter, investor kembali mengevaluasi prospek permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) setelah sejumlah eksekutif industri menyerukan perlambatan pengembangan teknologi tersebut.

Namun, pasar masih belum mendapatkan gambaran yang jelas mengenai seperti apa bentuk perlambatan pengembangan AI tersebut.

Persaingan teknologi AI juga diperkirakan menjadi salah satu isu dalam pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington pada pekan depan.

Sementara musim laporan keuangan perusahaan masih sekitar satu bulan lagi, komentar dari sejumlah eksekutif perusahaan dalam berbagai konferensi sepanjang pekan ini menjadi salah satu indikator awal bagi investor dalam menilai kondisi korporasi AS.

Goldman Sachs menilai, pertumbuhan laba S&P 500 yang masih kuat memunculkan kekhawatiran bahwa pasar tengah berada dalam kondisi “earnings bubble”.

“Meski memang terdapat sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap kondisi ‘over-earning’ saat ini, skenario dasar kami adalah pertumbuhan laba S&P 500 akan melambat, bukan runtuh, dalam beberapa tahun mendatang,” tulis Ben Snider, chief US equity strategist Goldman Sachs.

Cermati Saham yang Banyak Diburu Asing Saat IHSG Terkoreksi ke 6.441di Akhir Pekan

Harga Minyak dan Saham Korporasi

Pergerakan harga minyak juga berlangsung volatil pada Jumat. Pasar mempertimbangkan kekhawatiran pasokan setelah kembali terjadi serangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.

Di pasar saham individual, Xenon Pharmaceuticals anjlok lebih dari 27%. Penurunan terjadi setelah perusahaan menghentikan sementara pendaftaran peserta dalam uji klinis obat eksperimental untuk depresi berat dan bipolar menyusul laporan mengenai efek samping.

Sementara itu, Berkshire Hathaway mengumumkan Warren Buffett akan mundur dari posisi chairman dan menjadi chairman emeritus, berlaku segera. Saham Berkshire Hathaway turun sekitar 0,4%.

Selain faktor fundamental, berakhirnya kontrak derivatif kuartalan yang melibatkan saham, opsi indeks, dan futures atau dikenal sebagai triple witching juga berpotensi meningkatkan volatilitas perdagangan Wall Street.

Wall St Dibuka Naik Jumat (18/9), S&P 500 dan Nasdaq Terangkat Penurunan Harga Minyak

Advertisements

Also Read

Tags