IHSG menguat setelah BI tahan suku bunga, ini saham pilihan analis

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan pada perdagangan Rabu (23/9/2026), setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75%.

Advertisements

Pada akhir perdagangan Rabu (23/9/2026), IHSG ditutup naik 97,87 poin atau 1,56% ke level 6.374,91. Penguatan tersebut terjadi setelah pasar memperoleh kepastian mengenai keputusan suku bunga BI dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 22-23 September 2026.

Melalui siaran pers pada Rabu (23/9/2026), BI mengumumkan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, Deposit Facility 4,75% dan Lending Facility 6,50%.

Advertisements

Keputusan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal sekaligus tetap mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Analis menilai keputusan BI memberikan kepastian bagi pelaku pasar sehingga IHSG masih memiliki peluang melanjutkan technical rebound dalam jangka pendek.

Rupiah Berpeluang Menguat Kamis (24/9), Ini Pemicunya

Praktisi pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, penguatan IHSG hari ini menunjukkan perbaikan sentimen setelah ketidakpastian keputusan BI mereda. Namun, penguatan tersebut belum sepenuhnya didukung perubahan arus dana asing.

Investor asing masih mencatatkan net sell sekitar Rp408 miliar, sementara secara year to date net sell di pasar reguler mencapai sekitar Rp102,9 triliun.

“IHSG masih memiliki peluang melanjutkan technical rebound dengan level 6.463 sebagai resistance penting. Jika level tersebut berhasil ditembus dengan dukungan volume dan diikuti perbaikan breadth pasar, peluang bergerak menuju area 6.586 semakin terbuka,” ujar Hendra dalam wawancara tertulis dengan Kontan.

Sebaliknya, apabila IHSG gagal melewati level 6.463, indeks berpotensi kembali berkonsolidasi dengan support berikutnya di area 6.000-6.035.

Hendra menilai pergerakan IHSG hingga akhir tahun masih berpotensi berlangsung volatil dan bertahap. Sejumlah faktor yang perlu dicermati antara lain pergerakan rupiah, arus modal asing, suku bunga global serta kondisi geopolitik.

Ruang Pelonggaran BI Terbatas

Ruang pelonggaran kebijakan moneter BI juga dinilai semakin terbatas setelah The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4% pada September.

Apabila BI pada akhirnya menaikkan suku bunga, dampaknya terhadap IHSG berpotensi terasa melalui kenaikan biaya dana, tekanan terhadap valuasi saham serta pergeseran sebagian investor ke instrumen pendapatan tetap.

Sektor yang sensitif terhadap perubahan suku bunga, seperti properti, konstruksi dan consumer discretionary, berpotensi menghadapi tekanan lebih besar.

Sementara itu, sektor perbankan dapat memperoleh sentimen yang berbeda-beda, bergantung pada kualitas aset, likuiditas dan kemampuan masing-masing emiten dalam menjaga margin.

Di sisi lain, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta melihat apabila IHSG melanjutkan penguatan, sejumlah sektor seperti perbankan, barang konsumen, infrastruktur, komoditas dan energi berpotensi menjadi penopang.

Begini Arah Pasar Saham Usai Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga 5,75%

Sektor energi dan barang baku masih memperoleh dukungan dari harga komoditas serta prospek permintaan global.

Rekomendasi Saham BNGA, BRMS, SRTG dan INDY

Untuk pilihan saham, Hendra mencermati sejumlah emiten, yakni PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) dan PT Indika Energy Tbk (INDY).

BNGA dinilai dapat memperoleh sentimen dari stabilnya suku bunga domestik. Sementara BRMS dikaitkan dengan katalis dari pergerakan harga emas.

Adapun SRTG dinilai memiliki eksposur terhadap sejumlah aset dan sektor strategis. Sementara INDY masih memperoleh sentimen dari perkembangan sektor komoditas.

Advertisements

Also Read

Tags