Rupiah mulai konsolidasi usai melemah 9 hari, ini proyeksi hingga akhir 2026

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Pergerakan rupiah masih menjadi perhatian pasar setelah mencatat pelemahan selama sembilan hari berturut-turut. Namun, mata uang Garuda mulai menunjukkan penguatan pada perdagangan Rabu (23/9/2026).

Advertisements

Rupiah spot ditutup di level Rp 17.818 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 0,37% dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang berada di Rp 17.884 per dolar AS.

Penguatan tersebut terjadi setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September 2026.

Advertisements

Impor Emas China Tembus 1.000 Ton, Prospek Harga Emas Kembali Terangkat

Selain BI-Rate, BI mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility di level 6,50%.

BI menyatakan, keputusan tersebut ditempuh dengan mempertimbangkan stabilitas nilai tukar rupiah yang masih dapat dijaga, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi.

Di tengah tekanan terhadap rupiah, BI juga akan memperkuat kebijakan insentif untuk menarik aliran modal asing.

Bank sentral akan mengoptimalkan instrumen moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar, sekaligus mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah masih cukup besar.

SSSG Membaik, Kinerja ACES Diproyeksi Tetap Tumbuh hingga Akhir 2026

Penguatan indeks dolar AS, sikap hawkish sejumlah pejabat The Fed, harga minyak yang tinggi, serta ketidakpastian geopolitik menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati pasar.

Untuk perdagangan berikutnya, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.810-Rp 17.860 per dolar AS.

Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong melihat pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir merupakan kombinasi dari sejumlah faktor eksternal.

Selain penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil US Treasury, harga minyak yang masih tinggi dan ketidakpastian geopolitik turut memberikan tekanan.

Meski demikian, setelah melemah cukup panjang, rupiah dinilai mulai memasuki fase konsolidasi.

“Dalam jangka pendek rupiah masih volatil, tetapi ruang pelemahan mulai lebih terbatas jika tekanan global tidak kembali meningkat,” ujar Lukman.

Menurut Lukman, risiko rupiah kembali menuju level Rp 18.000 per dolar AS masih terbuka. Skenario tersebut dapat terjadi apabila The Fed kembali memberikan sinyal hawkish, imbal hasil US Treasury meningkat, harga minyak kembali naik atau terjadi eskalasi geopolitik.

ASII Siapkan Investasi Besar di Tiga Bisnis Inti, Ini Prospek Sahamnya

Namun, level Rp 18.000 dinilai sebagai level psikologis yang kuat. Karena itu, diperlukan tekanan eksternal yang cukup besar agar rupiah dapat menembus sekaligus bertahan di atas level tersebut.

Untuk akhir 2026, Lukman memperkirakan rupiah berada dalam kisaran Rp 17.500-Rp 18.000 per dolar AS.

Jika harga minyak turun dan imbal hasil obligasi AS melandai, rupiah berpeluang bergerak menuju sisi bawah kisaran tersebut.

Sebaliknya, peningkatan kembali tekanan eksternal dapat mendorong rupiah mendekati level Rp 18.000 per dolar AS.

Advertisements

Also Read

Tags