Bitcoin dan Ethereum Melonjak 8%, Ini Katalisnya hingga Akhir 2026

Hikma Lia

Pergerakan Harga Bitcoin dan Ethereum Terbaru

Advertisements

Pasar aset kripto global kembali menunjukkan taji dengan bergerak menguat secara signifikan. Pemulihan ini didorong oleh kembalinya selera risiko (risk appetite) dari para investor global serta derasnya aliran modal masuk (inflow) ke dalam instrumen Exchange-Traded Fund (ETF) spot. Berdasarkan data terbaru dari CoinMarketCap pada hari Jumat, 25 September 2026, pukul 16.40 WIB, aset kripto utama mengalami lonjakan harga yang cukup meyakinkan. Harga Bitcoin (BTC) tercatat menguat sebesar 8,06% dalam waktu tujuh hari terakhir, menempatkannya di level US$84.661,22 per koin. Di sisi lain, Ethereum (ETH) tidak mau kalah dengan mencatatkan lonjakan sebesar 8,28% dalam sepekan terakhir, membawa harganya merangkak naik menuju level US$2.709,73 per koin.

Meskipun menunjukkan tren positif dalam jangka pendek, para pelaku pasar dan analis memperkirakan bahwa pergerakan Bitcoin dan Ethereum hingga penghujung tahun 2026 tidak akan berjalan secara linier atau terus-menerus naik tanpa hambatan. Skenario yang lebih realistis bagi kedua aset kripto berkapitalisasi pasar terbesar ini adalah pergerakan yang sangat volatil dengan peluang fluktuasi dua arah. Dinamika ini berarti pasar akan sering mengalami koreksi tajam sebelum akhirnya kembali melanjutkan kenaikan, atau sebaliknya. Kondisi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari para investor yang harus siap menghadapi ayunan harga yang cepat dan tidak terduga.

Advertisements

Resiliensi Bitcoin di Tengah Tantangan Regulasi AS

Ketangguhan Bitcoin dalam menghadapi sentimen negatif menjadi salah satu sorotan utama dalam beberapa pekan terakhir. Salah satu ujian berat bagi pasar kripto terjadi ketika pembahasan mengenai rancangan undang-undang regulasi aset digital yang dikenal sebagai CLARITY Act dinyatakan gagal berlanjut di Senat Amerika Serikat pada tanggal 15 September lalu. Kegagalan legislasi ini sempat memicu kekhawatiran mengenai ketidakpastian hukum di salah satu pasar kripto terbesar di dunia tersebut. Namun, respons harga Bitcoin terbukti sangat resilien terhadap kabar tersebut.

Meskipun sempat mengalami tekanan jual yang cukup berat hingga menyeret harganya jatuh ke bawah level psikologis US$76.000, Bitcoin tidak membutuhkan waktu lama untuk bangkit kembali. Hanya berselang beberapa hari setelah koreksi tersebut, tepatnya pada tanggal 21 September, Bitcoin sukses melakukan aksi balik arah (rebound) yang luar biasa dengan kembali menembus ke atas level US$86.000. Penguatan yang cepat ini didorong oleh dua faktor utama, yaitu derasnya arus balik modal yang masuk ke dalam ETF spot serta terjadinya aksi short covering dari para pelaku pasar derivatif yang sebelumnya mengambil posisi short atau bertaruh pada penurunan harga. Dengan dinamika pergerakan harga yang sangat dinamis ini, area US$80.000 kini telah bergeser menjadi level psikologis baru yang sangat krusial bagi arah pergerakan Bitcoin ke depan.

Perkembangan Regulasi dan Pengaruh Kebijakan Makroekonomi

Di tengah fluktuasi harga tersebut, penyusunan regulasi aset digital di Amerika Serikat terus berjalan secara paralel melalui kewenangan lembaga pengawas keuangan utama, yaitu Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC). Selain pengawasan dari kedua lembaga tersebut, pasar juga mencermati langkah strategis bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang mengajukan proposal aturan baru mengenai stablecoin berbasis GENIUS Act pada tanggal 24 September. Langkah regulasi ini menunjukkan bahwa meskipun CLARITY Act mengalami hambatan di tingkat Senat, upaya untuk menciptakan kerangka kerja yang lebih terstruktur bagi aset digital tetap berjalan di tingkat regulator sektoral.

Namun, di balik optimisme regulasi dan arus modal masuk, pasar kripto masih terus dibayangi oleh tekanan makroekonomi yang cukup berat. Salah satu risiko terbesar yang dapat menghambat laju penguatan aset digital adalah kebijakan suku bunga tinggi yang diterapkan oleh bank sentral AS serta tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun yang masih bertahan kokoh di atas level 5%. Selama yield obligasi pemerintah tetap berada di level tinggi tersebut, instrumen investasi berisiko tinggi seperti kripto akan selalu menghadapi persaingan ketat dalam memperebutkan likuiditas global, karena investor cenderung memilih aset aman yang menawarkan imbal hasil yang menarik.

Analisis Sentimen Pasar dari Pemimpin Industri

Menanggapi situasi pasar yang kompleks ini, CEO sekaligus Founder FLOQ, Yudhono Rawis, memberikan analisis mendalam mengenai faktor-faktor yang akan menentukan arah pergerakan pasar aset digital menjelang akhir tahun. Menurut Yudhono, pasar akan berada di bawah pengaruh tarik-menarik antara kekuatan positif dan negatif yang saling berlawanan.

Yudhono menjelaskan bahwa secara keseluruhan, hingga akhir tahun, pasar akan bergerak di antara dua kekuatan utama. Di satu sisi, terdapat arus modal dan perkembangan adopsi yang mendukung pertumbuhan pasar. Di sisi lain, pasar harus menghadapi tantangan berupa suku bunga tinggi, yield obligasi yang kokoh, ketidakpastian regulasi yang masih membayangi, serta potensi perubahan mendadak pada selera risiko global. Tarik-menarik inilah yang membuat pergerakan harga menjadi sangat dinamis dan sulit diprediksi secara linier.

Derasnya Aliran Dana Institusional Melalui ETF Spot

Salah satu pilar utama yang menyokong penguatan pasar kripto saat ini adalah aliran dana institusional melalui instrumen ETF spot. Keberadaan ETF spot memungkinkan investor institusi besar untuk masuk ke pasar kripto dengan cara yang lebih aman dan teregulasi. Sebagai gambaran nyata, pada tanggal 23 September, ETF Bitcoin mencatatkan aliran dana masuk bersih (inflow) yang sangat masif sebesar US$346,9 juta. Pada hari yang sama, ETF Ethereum juga berhasil menarik minat investor institusional dengan mencatatkan inflow sebesar US$104,5 juta.

Penguatan kompak yang ditunjukkan oleh BTC dan ETH dalam sepekan terakhir sebenarnya dipicu oleh meredanya tekanan jual yang sempat mendominasi pasar pada awal bulan. Selain itu, derasnya inflow ke ETF Bitcoin yang mencapai angka luar biasa sebesar US$999 juta dalam satu hari perdagangan, serta akumulasi inflow sebesar US$1,59 miliar dalam tiga sesi perdagangan berturut-turut, menjadi bahan bakar utama bagi reli harga ini. Angka-angka fantastis ini menegaskan bahwa minat institusi terhadap aset digital tetap membara meskipun kondisi makroekonomi sedang berada dalam ketidakpastian.

Volatilitas Pasar Derivatif dan Analisis Teknikal Ethereum

Di samping faktor fundamental dan makroekonomi, pasar kripto juga harus bersiap menghadapi potensi volatilitas jangka pendek yang bersumber dari pasar derivatif. Salah satu peristiwa penting yang menjadi perhatian para pelaku pasar adalah jatuhnya tempo kontrak opsi Bitcoin dengan nilai fantastis, yakni mencapai hampir US$16 miliar, pada hari Jumat, 25 September. Jatuh tempo kontrak opsi dalam skala sebesar ini sering kali memicu aktivitas perdagangan yang sangat intensif karena para pedagang dan institusi melakukan penyesuaian terhadap posisi portofolio mereka, yang pada akhirnya dapat memicu lonjakan volatilitas harga dalam waktu singkat.

Yudhono Rawis kembali menegaskan bahwa ketahanan likuiditas global akan menjadi kunci utama yang menentukan apakah pasar kripto mampu mempertahankan tren penguatannya hingga akhir tahun atau justru tergelincir ke dalam fase koreksi yang lebih dalam. Menurut pandangannya, arah pasar ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan arus modal institusional dan kondisi likuiditas global dalam mengimbangi berbagai risiko makroekonomi serta ketidakpastian regulasi yang hingga saat ini masih belum sepenuhnya terselesaikan.

Dari sudut pandang analisis teknikal, Ethereum juga menunjukkan sinyal bullish yang kuat setelah berhasil menembus area resistance penting di level US$2.661. Keberhasilan menembus level pertahanan ini terjadi setelah Ethereum menyelesaikan fase konsolidasi panjang yang berlangsung sejak akhir Agustus lalu. Pemulihan ini mencerminkan daya serap pasar yang kian hari kian kuat terhadap berbagai sentimen negatif, termasuk di antaranya adalah kebijakan kenaikan suku bunga yang agresif dari The Fed, meskipun potensi volatilitas jangka pendek tetap menjadi hal yang perlu diwaspadai oleh seluruh pelaku pasar.

Advertisements

Also Read

Tags