Produksi minyak kelapa sawit Indonesia dan Malaysia diprediksi menyusut 3% pada 2027 akibat musim kemarau berkepanjangan yang dipicu oleh fenomena El Nino. Penurunan produksi ini berpotensi mendorong kenaikan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Berdasarkan perkiraan sejumlah analis yang dihimpun Bloomberg News, produksi minyak kelapa sawit Indonesia diprediksi mencapai 49 juta ton, sedangkan Malaysia sebesar 19,5 juta ton pada tahun depan.
Selain fenomena El Nino, penurunan produksi sawit dipengaruhi oleh kewajiban biodiesel 50% atau B50 yang mulai berlaku sejak Juli 2026.
Tiga analis Bloomberg memperkirakan cuaca kering berkepanjangan dapat membatasi pasokan minyak sawit dan mendorong harga referensi CPO hingga 5.000 ringgit atau Rp 22 juta (kurs Rp 4.406 per Ringgit) per ton pada 2027.
“El Niño yang sedang terjadi saat ini secara luas diperkirakan akan berdampak terhadap produksi pada 2027. Tetapi besarnya dampak tersebut bergantung pada tingkat keparahan dan lamanya fenomena ini berlangsung,” kata analis senior di Fastmarkets Palm Oil Analytics, Sathia Varqa dikutip dari Bloomberg, Jumat (25/9).
Musim Hujan Indonesia Diprediksi Mundur
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan di Indonesia yang biasanya dimulai pada Oktober kemungkinan mundur hingga November atau Desember. Musim hujan ini juga diprediksi berlangsung lebih singkat dari biasanya.
Fenomena El Nino telah memicu kebakaran di wilayah penghasil sawit utama Kalimantan. Jumlah titik panas atau hotspot di wilayah tersebut meningkat ke tingkat tertinggi dalam satu dekade.
Kondisi itunmengganggu sejumlah kegiatan dalam industri kelapa sawit, termasuk pemberian pupuk, pemanenan, dan transportasi.
“Kalimantan sangat terdampak oleh kabut asap. Kami memperkirakan wilayah tersebut akan menyumbang porsi terbesar dari penurunan produksi tahun depan,” kata trader di Eco Palm International Sdn, Warren Tay.
Kendati demikian, dampak penurunan produksi minyak kelapa sawit diperkirakan tidak separah proyeksi awal. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan produksi sawit pada 2027 turun 3%, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 5%.
Bloomberg melaporkan pasokan minyak sawit saat ini masih berlimpah. Persediaan minyak sawit Malaysia telah berada di level tertinggi tahun ini dan diperkirakan melampaui 3 juta ton pada akhir 2026.
Kenaikan persediaan tersebut terjadi seiring produksi yang mencapai puncaknya, sementara permintaan masih lemah.
Berikut daftar harga minyak sawit saat ini:
- Minyak sawit untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives turun 2,2% menjadi 4.666 ringgit/tonper
- Minyak kedelai untuk pengiriman Desember di Chicago turun 0,9% menjadi 66,9 sen AS/lb.
- Minyak sawit olahan untuk pengiriman Januari di Dalian Commodity Exchange naik 0,5% menjadi 9.787 yuan/ton.
- Minyak kedelai untuk pengiriman Januari naik 0,2% menjadi 8.943 yuan/ton.
Premi minyak kedelai terhadap minyak sawit berada di kisaran US$ 332 per ton. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata sekitar US$ 276 per ton dalam setahun terakhir berdasarkan data Bloomberg.
Sementara itu, diskon minyak sawit terhadap gasoil berada di kisaran US$ 284 per ton, dibandingkan rata-rata premi sekitar US$ 116 per ton dalam setahun terakhir berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg.
Dengan ancaman penurunan produksi akibat El Nino dan kewajiban biodiesel B50, kondisi pasokan serta perkembangan permintaan akan menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan harga minyak sawit pada 2027.




