BANYU POS JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih akan menghadapi tekanan signifikan pada perdagangan Senin, 28 September 2026. Proyeksi ini muncul setelah kinerja indeks yang menunjukkan pelemahan pada pekan sebelumnya, menciptakan sentimen kehati-hatian di kalangan pelaku pasar. Dalam menghadapi volatilitas pasar ini, para investor dan trader disarankan untuk mencermati secara saksama level support krusial yang berada di kisaran 6.220-6.230, karena area ini akan menjadi penentu arah pergerakan indeks selanjutnya.
Kondisi pasar yang menekan IHSG ini bukan tanpa dasar. Pada penutupan perdagangan Jumat, 25 September 2026, IHSG tercatat melemah 0,90% dan mengakhiri sesi di level 6.241,89. Penurunan harian ini menjadi indikasi awal dari tekanan jual yang dominan. Lebih lanjut, dalam rentang satu pekan perdagangan, indeks acuan pasar modal Indonesia ini mengalami koreksi yang cukup substansial, yakni sebesar 3,18%. Angka koreksi mingguan ini menunjukkan bahwa sentimen negatif telah berlangsung selama beberapa hari, menekan harga saham-saham konstituen dan mengikis keuntungan yang mungkin telah terkumpul sebelumnya. Pelemahan ini secara kolektif memicu kekhawatiran akan kelanjutan tren bearish, setidaknya dalam jangka pendek.
Muhammad Thoriq Fadilla, seorang Research Analyst dari Bumiputera Sekuritas, memberikan analisis teknikal yang mendalam mengenai prospek IHSG. Menurut pandangannya, secara teknikal, tekanan jangka pendek terhadap IHSG masih sangat terasa dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Indikasi kuat dari tekanan ini tercermin dari posisi IHSG yang saat ini telah berada di bawah tiga garis Exponential Moving Average (EMA) penting, yaitu EMA 5, EMA 10, dan EMA 50. Keberadaan indeks di bawah garis-garis EMA ini secara konsisten mengindikasikan bahwa tren harga jangka pendek hingga menengah cenderung bergerak dalam fase menurun, menandakan dominasi penjual di pasar.
Selain posisi IHSG di bawah EMA, indikator teknikal lain seperti Moving Average Convergence Divergence (MACD) juga turut memperkuat sinyal bearish. Thoriq menjelaskan bahwa indikator MACD masih berada di area negatif, sebuah kondisi yang lazim diinterpretasikan sebagai momentum penurunan yang berkelanjutan. Lebih lanjut, belum ada sinyal pembalikan yang kuat yang ditunjukkan oleh MACD, yang berarti tekanan jual masih berlanjut dan potensi kenaikan signifikan dalam waktu dekat masih terbatas. Area negatif pada MACD menunjukkan bahwa rata-rata bergerak jangka pendek berada di bawah rata-rata bergerak jangka panjang, mengkonfirmasi tren penurunan yang sedang berlangsung.
Namun, di tengah sinyal-sinyal bearish tersebut, Thoriq juga menyoroti adanya satu indikator yang memberikan secercah harapan bagi pelaku pasar. Indikator Stochastic Oscillator telah memasuki area oversold. Kondisi oversold ini secara teknikal mengindikasikan bahwa harga saham atau indeks telah jatuh terlalu jauh dan terlalu cepat, sehingga secara historis seringkali diikuti oleh potensi pembalikan harga ke atas atau technical rebound. Peluang rebound ini, menurut Thoriq, tetap ada, terutama jika IHSG menunjukkan kemampuan untuk bertahan dan tidak menembus area support krusial 6.220-6.230. Ini menjadi titik kunci yang perlu diperhatikan investor untuk mengukur kekuatan pasar.
Emas Dunia Terkoreksi, Emas Antam Masih Punya Bantalan Rupiah
Secara lebih spesifik, Muhammad Thoriq Fadilla menjabarkan bahwa area support utama bagi IHSG saat ini berada di kisaran 6.220 hingga 6.230. Level support ini merupakan batas psikologis dan teknis di mana tekanan jual diperkirakan akan mereda dan minat beli kembali muncul, mencegah indeks untuk jatuh lebih dalam. Oleh karena itu, kemampuan IHSG untuk bertahan di atas level ini pada perdagangan Senin akan sangat menentukan arah pergerakan selanjutnya. Apabila level support 6.220 ini, yang merupakan batas bawah dari area support krusial, ternyata ditembus atau dilampaui oleh tekanan jual yang kuat, maka potensi koreksi pasar diperkirakan akan berlanjut. Kondisi ini dapat mendorong IHSG untuk bergerak turun menuju area support berikutnya yang lebih rendah, yaitu di kisaran 6.150-6.180. Penembusan support kuat ini akan menjadi sinyal negatif yang dapat memicu aksi jual lanjutan dan memperpanjang fase penurunan.
Di sisi lain, untuk skenario penguatan, IHSG memiliki level resistance terdekat yang perlu ditembus. Level resistance ini berada pada kisaran 6.373-6.410. Resistance adalah level harga di mana tekanan jual diperkirakan akan muncul dan menghambat kenaikan lebih lanjut. Namun, sebelum indeks mampu menguji atau menembus area resistance ini, ada satu level penting yang harus terlebih dahulu dilampaui, yaitu level 6.320. Penembusan level 6.320 ini menjadi sangat esensial karena akan membuka ruang penguatan yang lebih besar bagi IHSG. Tanpa melewati level ini, potensi kenaikan yang terjadi mungkin hanya bersifat sementara dan tidak berkelanjutan.
Thoriq menekankan perbedaan antara technical rebound dan pembalikan tren yang sebenarnya. Menurutnya, selama IHSG belum menunjukkan kemampuan untuk kembali menembus dan bertahan di atas level 6.320, setiap kenaikan harga yang terjadi masih lebih tepat diinterpretasikan sebagai technical rebound. Technical rebound adalah pantulan sementara setelah penurunan, yang tidak berarti perubahan arah tren secara fundamental. Ini hanyalah respons pasar terhadap kondisi oversold atau penutupan posisi jual jangka pendek. Untuk menandakan sebuah pembalikan tren yang lebih kuat dan berkelanjutan, di mana IHSG mulai memasuki fase kenaikan yang lebih solid, level 6.320 harus berhasil ditembus dengan volume perdagangan yang meyakinkan. Penembusan level ini akan menjadi konfirmasi bahwa sentimen pasar mulai bergeser ke arah positif.
Sebaliknya, apabila IHSG pada akhirnya mampu menunjukkan kekuatan yang cukup untuk kembali bergerak dan bertahan di atas level 6.320, maka peluang penguatan yang lebih signifikan akan mulai terbuka lebar. Dalam skenario ini, indeks berpotensi untuk menguji dan bergerak menuju area resistance berikutnya yang lebih tinggi, yaitu di kisaran 6.370-6.410. Pergerakan di atas 6.320 akan memberikan sinyal positif yang kuat kepada investor, menunjukkan bahwa tekanan jual telah mereda dan minat beli mulai mendominasi, membuka jalan bagi kenaikan harga yang lebih substansial dalam jangka waktu yang lebih panjang. Ini juga akan menjadi indikasi bahwa fase koreksi mungkin telah mencapai titik terendah dan pasar siap untuk beranjak naik.
Pasar Obligasi Dibayangi Suku Bunga AS, Yield SUN 10 Tahun Diproyeksi 7,05%-7,20%
Dengan mempertimbangkan kondisi indikator teknikal yang telah dijabarkan secara cermat, investor dan pelaku pasar sangat dianjurkan untuk mencermati dan memantau respons IHSG terhadap area support krusial 6.220-6.230 pada perdagangan Senin mendatang. Pergerakan indeks di sekitar level ini akan memberikan petunjuk penting mengenai sentimen pasar yang dominan. Apabila IHSG mampu bertahan dengan kuat di atas level tersebut, kondisi ini dapat membuka peluang yang lebih besar untuk terjadinya technical rebound, setidaknya dalam jangka pendek, memberikan kesempatan bagi investor untuk melakukan aksi beli selektif atau menahan posisi. Bertahannya indeks di atas support ini akan menunjukkan adanya minat beli yang cukup untuk menahan laju penurunan lebih lanjut.
Namun, kehati-hatian tetap harus diutamakan. Apabila level support 6.220, yang merupakan batas bawah dari area penting ini, justru ditembus oleh tekanan jual yang masif, maka IHSG berpotensi besar untuk melanjutkan fase koreksi. Dalam skenario ini, target penurunan berikutnya akan berada di kisaran 6.150-6.180, yang mengindikasikan bahwa tekanan jual masih sangat dominan dan investor perlu mempersiapkan diri untuk potensi kerugian lebih lanjut atau melakukan strategi lindung nilai. Sementara itu, di sisi atas, level 6.320 memegang peranan sebagai batas penting yang perlu ditembus dengan solid. Keberhasilan menembus level ini akan menjadi konfirmasi yang kuat untuk memperkuat peluang penguatan IHSG menuju area resistance 6.370-6.410, menandakan pergeseran tren dari koreksi menuju fase apresiasi. Oleh karena itu, keputusan investasi pada awal pekan akan sangat bergantung pada bagaimana IHSG bereaksi terhadap level-level kunci ini.




