Bitcoin diprediksi konsolidasi, ini sentimen yang perlu dicermati hingga akhir 2026

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Pasar aset kripto masih menghadapi tekanan dari ketidakpastian makroekonomi global, meski tanda-tanda pemulihan mulai terlihat di tengah pergerakan harga Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) yang masih fluktuatif.

Advertisements

Mengutip data CoinMarketCap pada Selasa (29/9/2026) pukul 08.27 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 82.922,33, turun 1,43% dalam 24 jam terakhir.

Sementara Ethereum diperdagangkan di posisi US$ 2.663,43, terkoreksi 0,44% dalam periode yang sama.

Advertisements

IHSG Rontok Hari Ke-1 Harga Dasar Saham Rp 1, Ini Respon BEI

Pergerakan harga kripto dalam sepekan terakhir cukup menarik karena terjadi di tengah kondisi makroekonomi yang masih penuh tantangan.

Pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) serta perkembangan inflasi Amerika Serikat (AS).

Tekanan jual bahkan telah muncul sebelum keputusan suku bunga The Fed, seiring pasar yang telah mengantisipasi kebijakan tersebut.

Kondisi itu tercermin dari koreksi Bitcoin sekitar 8% dan aksi likuidasi posisi leverage sebelum pengumuman resmi.

Presiden Direktur PINTU Andy Putra mengatakan, setelah tekanan awal mereda, minat beli kembali masuk ke pasar kripto, terutama dari investor institusional AS. Salah satu indikatornya terlihat dari kembali positifnya arus dana masuk ke ETF Bitcoin.

“Setelah tekanan tersebut mereda, permintaan beli kembali masuk dari investor AS yang terlihat dari arus masuk ke ETF yang kembali positif,” kata Andy kepada Kontan, Senin (29/9/2026).

IHSG Masih Rawan Koreksi, Simak Level Support dan Resistance Hari Ini

Andy menyebut terdapat sejumlah sentimen yang perlu dicermati pelaku pasar hingga akhir tahun.

Salah satunya adalah arah kebijakan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober dan Desember serta perkembangan data inflasi AS.

Selain itu, tren arus dana ke ETF Bitcoin menjadi indikator penting untuk melihat tingkat minat investor institusional terhadap aset kripto. Pasar juga mencermati perkembangan regulasi aset digital di AS, terutama pembahasan CLARITY Act.

Dari sisi investor ritel, aktivitas on-chain seperti jumlah alamat aktif, pertumbuhan dompet kripto atau wallet, serta volume transaksi juga dapat menjadi indikator pemulihan minat terhadap pasar.

Andy menilai, pergerakan Bitcoin saat ini masih sejalan dengan pola siklus empat tahunan. Ia menyebut titik terendah Bitcoin telah terbentuk pada Juli 2026 di level US$ 58.541.

Aturan Batas Bawah Diubah, Harga Sejumlah Saham Recehan Melesat

Dengan harga yang kini telah meningkat sekitar 47% dari level tersebut, Andy menilai Bitcoin masih membutuhkan fase konsolidasi sebelum berpotensi melanjutkan penguatan menuju rekor tertinggi baru.

Untuk jangka panjang, Andy menyebut pendekatan seperti dollar-cost averaging (DCA) maupun buy the dip dapat digunakan investor dengan mempertimbangkan profil risiko masing-masing.

Sementara untuk akhir 2026, Andy memperkirakan Bitcoin masih akan bergerak dalam rentang harga yang telah terbentuk sepanjang tahun.

“Menurut kami, Bitcoin masih akan terjebak di rentang harga yang sudah terbentuk sepanjang 2026, dengan potensi breakout yang cukup konservatif ke rentang harga selanjutnya di US$ 84.000-US$ 97.000. Jika breakout ini tidak terjadi, Bitcoin kemungkinan besar masih berada di rentang harga saat ini yaitu US$ 76.000-US$ 85.000,” ujar Andy.

Menurut dia, proyeksi tersebut mempertimbangkan kondisi makroekonomi global yang masih dibayangi harga minyak dan inflasi yang tinggi.

Rupiah Berpotensi Menguji Level Rp 18.000 per Dolar AS, Cermati Sentimen Pemicunya

Andy juga mengingatkan investor dan trader untuk tetap memperhatikan manajemen risiko serta menyesuaikan strategi dengan profil investasi masing-masing, mengingat volatilitas pasar aset kripto masih tinggi.

Advertisements

Also Read

Tags