Rupiah Menguat: Pasar Tetap Soroti The Fed dan Harga Minyak

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Nilai tukar rupiah menunjukkan kinerja positif dengan berhasil menguat pada perdagangan Rabu, 30 September 2026. Apresiasi ini utamanya didukung oleh sinyal meredanya tekanan yang sempat melanda pasar energi global. Perkembangan signifikan berupa pemulihan sebagian pasokan minyak dari Arab Saudi memainkan peran krusial dalam meredakan kekhawatiran yang sebelumnya memuncak terkait potensi lonjakan biaya energi dan dampak inflasi yang mungkin ditimbulkannya. Penguatan mata uang domestik ini memberikan indikasi positif terhadap stabilitas ekonomi di tengah dinamika pasar global yang terus berubah.

Advertisements

Data dari Bloomberg mencatat bahwa nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp 17.894 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu, 30 September 2026. Posisi penutupan ini menunjukkan penguatan yang signifikan, yaitu sebesar 0,48% apabila dibandingkan dengan penutupan perdagangan sehari sebelumnya, Selasa, 29 September 2026, yang berada di level Rp 17.981 per dolar AS. Pergerakan ini mengindikasikan adanya sentimen positif yang cukup kuat di pasar, mendorong investor untuk kembali mengakumulasi aset berbasis rupiah.

Tidak hanya berdasarkan data Bloomberg, penguatan rupiah juga tercatat melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), yang merupakan referensi kurs tengah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Berdasarkan JISDOR, rupiah ditutup pada level Rp 17.877 per dolar AS. Angka ini merefleksikan penguatan yang lebih besar, mencapai 0,67%, dibandingkan dengan posisi perdagangan sebelumnya yang tercatat di level Rp 17.998 per dolar AS. Perbedaan tipis antara kedua sumber data ini menunjukkan konsistensi dalam arah penguatan rupiah, meskipun dengan magnitudo yang sedikit berbeda, mencerminkan likuiditas dan dinamika transaksi di pasar antarbank.

Advertisements

Sutopo Widodo, selaku Presiden Komisaris HFX International Berjangka, menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah pada hari tersebut memang sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar energi global. Ia menekankan bahwa meredanya gangguan pada jalur distribusi minyak dari Arab Saudi menjadi faktor utama yang mengurangi kekhawatiran terhadap eskalasi biaya energi dan tekanan inflasi. Gangguan pasokan sebelumnya telah memicu spekulasi kenaikan harga minyak, yang berpotensi meningkatkan beban impor energi bagi Indonesia dan mendorong laju inflasi domestik. Dengan pulihnya sebagian pasokan, tekanan tersebut mulai mereda, memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.

Menurut Sutopo, penguatan rupiah pada hari tersebut secara spesifik ditopang oleh penurunan harga minyak dunia setelah sebagian pasokan pipa minyak dari Arab Saudi berhasil dipulihkan. Pemulihan ini secara langsung meredakan kekhawatiran akan peningkatan tajam pada tekanan impor energi, yang merupakan salah satu pendorong utama defisit neraca pembayaran Indonesia, serta ancaman inflasi yang lebih tinggi. Ketika harga minyak global turun, biaya impor energi Indonesia akan berkurang, yang pada gilirannya dapat memperbaiki neraca transaksi berjalan dan memberikan dukungan fundamental bagi rupiah.

Dari ranah domestik, para pelaku pasar juga menunjukkan perhatian terhadap rencana pengesahan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 menjadi undang-undang oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Pengesahan APBN merupakan peristiwa penting yang memberikan kepastian fiskal dan arah kebijakan ekonomi pemerintah untuk tahun mendatang. Meskipun demikian, potensi penguatan rupiah dari sentimen domestik ini masih terbilang terbatas. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan investor untuk bersikap lebih berhati-hati dan menahan diri menjelang publikasi sejumlah indikator ekonomi penting yang datang dari luar negeri, yang berpotensi memicu volatilitas pasar yang lebih besar.

Di sisi lain, kekuatan dolar AS yang relatif dominan masih menjadi salah satu faktor pembatas bagi apresiasi rupiah. Sepanjang bulan September, dolar AS tercatat telah menguat hampir 2,5% terhadap mata uang euro, yang merupakan salah satu mata uang mayor di dunia. Kondisi ini mencerminkan tingginya daya tarik dolar AS di tengah ketidakpastian global, seringkali dianggap sebagai aset “safe haven” oleh investor. Penguatan dolar AS secara luas terhadap mata uang utama lainnya secara inheren menempatkan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena membuat investasi dalam dolar AS menjadi lebih menarik dibandingkan dengan aset di pasar berkembang.

Selanjutnya, perhatian utama para pelaku pasar akan beralih pada rilis data ekonomi krusial dari Amerika Serikat. Pada Kamis, 1 Oktober 2026, pasar akan mencermati publikasi data ISM Purchasing Managers’ Index (PMI) AS. Indikator ini merupakan tolok ukur penting bagi kesehatan sektor manufaktur dan jasa di AS, yang memberikan gambaran tentang aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Setelah itu, pada hari Jumat, pasar akan menyoroti data Nonfarm Payrolls (NFP) AS, yang mengukur jumlah pekerjaan baru di sektor non-pertanian. Data NFP ini sangat diantisipasi karena memiliki dampak signifikan terhadap ekspektasi kebijakan moneter The Fed dan prospek kenaikan suku bunga The Fed.

Sutopo Widodo juga menggarisbawahi bahwa pasar sudah memasukkan dalam perhitungan mereka kemungkinan bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga acuannya pada bulan Oktober. Implikasi dari ekspektasi ini adalah bahwa rilis data ekonomi AS yang menunjukkan kinerja yang kuat, seperti PMI atau NFP yang di atas ekspektasi, berpotensi besar untuk memperkuat argumen bagi kenaikan suku bunga The Fed. Kenaikan suku bunga di AS cenderung membuat aset-aset berbasis dolar AS lebih menarik, yang dapat memicu aliran modal keluar dari pasar negara berkembang dan pada akhirnya menambah tekanan pelemahan pada rupiah.

Selain fokus pada data ekonomi Amerika Serikat, perkembangan harga minyak dunia tetap menjadi salah satu sentimen penting yang harus dicermati bagi pergerakan rupiah. Potensi gejolak yang berasal dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah dapat dengan cepat kembali mempengaruhi pasokan energi global, yang pada gilirannya akan berdampak langsung pada harga minyak dunia. Fluktuasi harga minyak memiliki korelasi kuat dengan neraca perdagangan Indonesia dan tingkat inflasi domestik, sehingga setiap perubahan signifikan akan memengaruhi stabilitas rupiah.

Dari sisi domestik, pasar juga akan terus mencermati tindak lanjut dari pengesahan APBN 2027. Implementasi kebijakan fiskal yang terukur dan kredibel sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor. Selain itu, arah kebijakan Bank Indonesia juga akan menjadi sorotan utama. Kebijakan moneter Bank Indonesia, termasuk keputusan suku bunga acuan dan intervensi di pasar valuta asing, memegang peranan vital dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi di tengah berbagai tekanan eksternal.

Untuk perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026, Sutopo memperkirakan bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif dalam rentang yang relatif lebar, yaitu antara Rp 17.850 hingga Rp 18.000 per dolar AS. Prediksi ini mencerminkan kehati-hatian pasar menjelang rilis data ekonomi penting dari AS dan potensi ketidakpastian di pasar energi global. Menurut Sutopo, rupiah masih sangat berpotensi untuk kembali mendapat tekanan apabila data ekonomi AS menunjukkan kinerja yang lebih kuat dari perkiraan, yang akan memperkuat spekulasi kenaikan suku bunga The Fed. Selain itu, risiko lain yang dapat menekan rupiah adalah kemungkinan kembali terjadinya kenaikan harga minyak dunia yang dipicu oleh eskalasi perkembangan geopolitik di Timur Tengah, yang dapat mengganggu pasokan dan memicu kekhawatiran baru di pasar komoditas.

Advertisements

Also Read

Tags