Tak kejar untung cepat, begini strategi investasi bos Trisula Textile ini

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bagi Lukas Ginting, investasi menjadi salah satu cara untuk menyiapkan aktivitas sekaligus aset untuk masa depan. Di tengah kesibukannya sebagai Direktur Marketing PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL), ia memilih instrumen yang menurutnya dapat dipelajari secara bertahap dan sesuai dengan karakter risikonya.

Advertisements

Lukas telah berkarier hampir tiga dekade di industri tekstil. Ia mengawali perjalanan profesional di PT Chitose Internasional Tbk pada 1997 setelah menyelesaikan pendidikan S1 Teknik Industri di Institut Teknologi Bandung. Setelah beberapa kali berpindah fungsi, mulai dari R&D, quality assurance, PPIC, hingga sales, ia bergabung dengan Trisula Textile Industries pada 2004 dan dipercaya menjadi Direktur Marketing pada 2024.

Dengan aktivitas pekerjaan yang cukup padat dan mobilitas tinggi, Lukas saat ini memilih saham dan emas sebagai instrumen investasinya. Ia mengaku belum banyak mempelajari instrumen lain sehingga memilih fokus pada dua instrumen tersebut. Pilihan itu juga membuatnya tidak perlu membagi perhatian pada terlalu banyak instrumen di tengah kesibukannya bekerja dan bepergian ke berbagai daerah.

Advertisements

Prospek Emiten Plastik Dibayangi Tekanan Biaya hingga Akhir 2026

“Ya, untuk saat ini karena keterbatasan waktu ya, karena aktif bekerja dan banyak juga keluar kota. Ya, untuk sekarang saya memilih investasi di instrumen saham dan emas,” kata Lukas kepada Kontan, baru-baru ini.

Dari kedua instrumen tersebut, porsi saham menjadi yang lebih besar. Saat ini sekitar 70% portofolio investasi Lukas ditempatkan pada saham, sedangkan 30% lainnya dialokasikan ke emas. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa saham tetap menjadi instrumen utama yang ia gunakan, sementara emas menjadi bagian yang lebih konservatif dalam portofolionya.

Pilihan saham juga tidak dilakukan secara agresif. Lukas mengaku lebih banyak memilih emiten yang memiliki fundamental baik karena dirinya termasuk investor yang konservatif dan tidak terlalu berani mengambil risiko besar. Bagi Lukas, potensi keuntungan tetap menjadi pertimbangan, tetapi tingkat risiko dari instrumen yang dipilih juga perlu diperhatikan.

“Saya orang yang senang belajar, jadi bisa jadi masuk ke sana juga. Karena kalau sudah nanti waktu agak luang, tentu kita bisa masuk ke investasi lain. Yang pasti kan karena saya orang yang konservatif, ya saya masuk ke yang risikonya kecil, tapi ada lumayan keuntungan,” katanya.

Sementara itu, emas dipilih sebagai bagian yang lebih konservatif dalam portofolionya. Lukas menilai emas merupakan instrumen investasi yang relatif konservatif dan sudah dikenal sebagai pilihan investasi sejak lama. Karena itu, selain saham, emas menjadi instrumen yang tetap ia pertahankan dalam strategi investasinya saat ini.

“Kalau emas, ya itu kan investasi yang konservatif menurut saya. Ya, itu memang dari dulu juga kita sudah ikuti,” ujarnya.

DOOH Siapkan Aksi Korporasi Rp2 Triliun, Ini Dampaknya Menurut Analis

Dalam berinvestasi saham, Lukas juga memahami bahwa pergerakan pasar tidak selalu memberikan keuntungan. Ia pernah menikmati keuntungan ketika pasar saham menguat pada akhir tahun 2025 dan Januari, tetapi juga menghadapi kerugian ketika pasar mengalami koreksi pada Juni. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa investasi saham membutuhkan kesiapan untuk menghadapi dua kemungkinan, baik ketika harga bergerak sesuai harapan maupun ketika pasar bergerak berlawanan.

Menurut Lukas, salah satu hal penting dalam investasi saham adalah keberanian untuk merealisasikan keuntungan maupun membatasi kerugian. Ketika saham yang dimilikinya naik, ia dapat melakukan take profit. Sebaliknya, ketika mengalami penurunan dan kondisi mengharuskan, ia juga bersedia melakukan cut loss.

“Kalau keuntungan dari investasi ya saat saham misalkan naik, saham yang kita beli itu naik, kita lakukan take profit, begitu juga sebaliknya. Kalau lagi take profit ya untung, kalau lagi rugi ya kita harus berani juga cut loss,” jelasnya.

Namun, keputusan untuk menjual saham tidak selalu dilakukan ketika harga turun. Lukas mengatakan, apabila perusahaan yang dimiliki masih memiliki fundamental yang baik dan prospek jangka panjang, ia memilih tetap mempertahankan investasinya. Dengan demikian, penurunan harga tidak serta-merta menjadi alasan baginya untuk melepas saham yang dimiliki.

“Kalau yang kita lihat jangka panjang itu masih akan punya fundamental yang bagus, tentu kita tidak jual juga,” katanya.

Pendekatan tersebut membuat fundamental menjadi salah satu pertimbangan utama dalam memilih saham. Lukas tidak ingin terlalu agresif mengejar saham dengan potensi keuntungan tinggi apabila risikonya juga besar. Ia lebih memilih memahami kondisi perusahaan dan mempertimbangkan prospek jangka panjang sebelum menentukan langkah terhadap investasi yang dimilikinya.

Ia juga tidak menutup kemungkinan untuk menambah instrumen investasi lain di masa mendatang. Dengan waktu yang lebih longgar, Lukas ingin mempelajari berbagai instrumen, termasuk dana pensiun maupun produk investasi lainnya. Namun, pilihan tersebut akan dilakukan setelah ia memiliki waktu yang cukup untuk mempelajari instrumen tersebut dengan lebih baik.

Bagi Lukas, proses belajar menjadi bagian penting dalam investasi. Ia menilai informasi yang tersedia dapat membantu investor memahami pilihan investasi sekaligus mengurangi risiko. Karena itu, ia tidak ingin menjadikan keuntungan cepat sebagai tujuan utama ketika mengambil keputusan investasi.

“Mindset saya adalah jangan berpikir cepat untungnya dulu. Yang penting konsisten dan jalani terus,” tuturnya.

Lukas juga memiliki pandangan tersendiri mengenai investor muda. Menurutnya, generasi muda memiliki keberanian yang dapat menjadi keunggulan dalam berinvestasi. Namun, keberanian tersebut tetap perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai risiko agar keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada keinginan mengejar keuntungan.

Ia mengaku justru banyak belajar dari investor muda melalui berbagai informasi dan konten investasi yang tersedia di YouTube. Menurutnya, pendekatan investor muda yang lebih berani dapat dikombinasikan dengan kehati-hatian generasi yang lebih senior. Dengan menggabungkan kedua pendekatan tersebut, investor dapat memiliki keberanian untuk mengambil peluang sekaligus tetap mempertimbangkan risiko yang mungkin muncul.

“Kalau itu digabungkan, akan lebih baik. Keberanian mereka digabungkan dengan, misalnya, kami yang sudah pada tua ini, anak-anak muda juga harus memperhatikan risiko,” kata Lukas.

Ia mengingatkan agar investor tidak menggunakan pendekatan terlalu agresif dengan langsung menempatkan seluruh dana pada satu investasi dengan harapan memperoleh keuntungan besar dalam waktu singkat. Menurutnya, keputusan investasi tetap perlu dilakukan dengan memahami instrumen yang dipilih dan mengikuti perkembangannya.

Menurut Lukas, keuntungan yang diperoleh secara bertahap dan konsisten justru dapat memberikan hasil yang lebih baik dalam jangka panjang. Karena itu, ia memilih untuk mempelajari instrumen terlebih dahulu, mengikuti perkembangannya, kemudian menjalankan strategi investasi secara konsisten. Bagi dirinya, informasi yang tersedia juga dapat digunakan sebagai salah satu dasar untuk memahami risiko sebelum mengambil keputusan.

“Saya justru mindset yang saya coba tanamkan, pelajari, kemudian ikuti. Tentu informasi-informasi yang ada ini membantu kita untuk meminimalkan risiko,” ujarnya.

Bagi Lukas, investasi bukan semata soal mengejar keuntungan dalam waktu singkat. Konsistensi, pemahaman terhadap instrumen, serta kemampuan mengukur risiko menjadi bagian dari pendekatan yang ia gunakan untuk menjaga investasinya tetap berjalan.

Advertisements

Also Read

Tags