Kemudahan transaksi digital berisiko buat anak muda belanja impulsif

Hikma Lia

Kemudahan transaksi digital membuat masyarakat semakin mudah mengeluarkan uang. Di balik manfaatnya, transformasi keuangan digital juga memunculkan risiko baru berupa financial digital trap, ketika proses belanja yang semakin mudah mendorong seseorang mengeluarkan uang secara impulsif.

Advertisements

 Business Development Databoks Katadata, Sania Latifa, mengatakan perubahan perilaku keuangan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi. Kehadiran e-wallet, mobile banking, digital banking, hingga layanan paylater membuat uang semakin mudah diakses hanya melalui smartphone.

 “Financial digital trap. When spending becomes too easy,” kata Sania dalam acara Cerdas Literasi Keuangan Digital: Cerdas Bertransaksi, Bijak Berinvestasi oleh Katadata, Sabtu (3/10).

Advertisements

 Menurut Sania, fenomena tersebut dapat dilihat dari perubahan proses seseorang ketika ingin membeli barang. Saat ini, konsumen dapat melihat produk di media sosial, menginginkannya, kemudian melakukan pembayaran hanya dengan beberapa kali klik.

Baca juga:

  • OJK Siapkan Aplikasi Anti-Scam, Konsepnya Mirip QRIS
  • OJK Sebut Dana Masyarakat RI Hilang Rp12 Triliun dalam 2 Tahun, Ada Apa?
  • OJK Luncurkan Peta Jalan RP3I, Perkuat Peran Perbankan Sebagai Penggerak Ekonomi

 “Misalnya lihat barang di media sosial, ada sepatu, ‘ih lucu’. Terus kita tinggal langsung sekali klik. Untuk bayar juga tinggal klik,” ujarnya.

 Pembayaran kemudian dapat dilakukan melalui berbagai kanal digital, mulai dari dompet elektronik hingga transfer bank dan paylater. Seluruh proses tersebut dapat berlangsung hanya dalam hitungan menit.

 Sania membandingkan kondisi tersebut dengan generasi sebelumnya yang harus melalui lebih banyak tahapan ketika ingin berbelanja. Konsumen harus keluar rumah, mengambil uang di ATM, kemudian mengeluarkan uang secara fisik dari dompet.

 Menurut dia, proses tersebut secara psikologis dapat membuat seseorang lebih mempertimbangkan keputusan belanja dibandingkan ketika transaksi hanya membutuhkan beberapa kali klik.

 “Dengan mudahnya uang itu keluar, muncul pertanyaan berikutnya: bagaimana kemampuan kita dalam menyisihkan uang?” kata Sania.

 Berdasarkan data di Databoks, 31% anak muda di Indonesia berbelanja tanpa perencanaan khusus. Pola tersebut dinilai dapat meningkatkan sejumlah risiko finansial, terutama apabila pengeluaran impulsif mengurangi kemampuan seseorang menyisihkan uang.

 Risikonya antara lain tidak memiliki dana darurat ketika menghadapi kebutuhan mendesak. Ketika dana yang tersedia tidak mencukupi, seseorang juga dapat menjadi lebih rentan menggunakan utang untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

 Selain itu, pengeluaran yang tidak terencana dapat membuat tujuan finansial tertunda dan mengurangi kesempatan untuk mengembangkan dana melalui tabungan maupun investasi.

 Mayoritas Pengeluaran Anak Muda Masih untuk Kebutuhan Dasar

 Meski demikian, Sania menekankan bahwa tingginya penggunaan layanan keuangan digital tidak serta-merta menunjukkan anak muda memiliki perilaku konsumtif.

Berdasarkan data dari survei Populis, 74% anak muda, termasuk Gen Z dan milenial di Indonesia, memiliki pengeluaran terbesar untuk kebutuhan dasar, seperti makanan, transportasi, dan kebutuhan pekerjaan.

 Dengan demikian, menurut Sania, kehidupan finansial Gen Z tidak bisa begitu saja dikategorikan boros. Sebagian besar pengeluaran mereka justru dialokasikan untuk kebutuhan yang bersifat mendasar.

 “Dari data ini kita bisa menyimpulkan bahwa financial life Gen Z itu sebenarnya nggak boros. Mereka banyak mengeluarkannya untuk kebutuhan dasar yang memang benar-benar kita butuh,” ujarnya.

 Lebih lanjut ia menjelaskan salah satu pembeda perilaku finansial anak muda saat ini dengan generasi sebelumnya adalah teknologi.

 Sania mengatakan, 53% anak muda menggunakan e-wallet untuk pengelolaan keuangan. Artinya, semakin banyak aktivitas keuangan yang sebelumnya dilakukan menggunakan uang tunai kini berpindah ke perangkat digital.

 “Uang anak muda saat ini ada di dalam smartphone,” kata Sania.

 Di sisi lain, digitalisasi juga mulai dimanfaatkan anak muda untuk mengembangkan uang. Sania menyebut investor ritel di pasar saham didominasi kelompok usia muda, termasuk kelompok berusia 30 tahun ke bawah.

Data yang dipaparkannya juga menunjukkan investor ritel berasal dari berbagai tingkat pendapatan. Kelompok dengan pendapatan Rp10 juta-Rp100 juta per bulan menjadi salah satu kelompok terbesar, disusul kelompok dengan pendapatan di bawah Rp10 juta.

Instrumen investasi yang tersedia juga beragam, mulai dari emas, properti, saham, hingga obligasi. Masing-masing memiliki karakteristik serta risiko yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan investor.

Sania menyebut emas menjadi salah satu instrumen investasi yang paling dipercaya masyarakat. Mayoritas pengguna aplikasi investasi di Indonesia, menurut data yang disampaikannya, berasal dari kelompok usia 25-34 tahun.

Risiko Digital Ikut Meningkat

Namun, semakin banyak aktivitas finansial berpindah ke ruang digital, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga keamanan uang dan data pribadi.

Sania menyebut terdapat 283 kasus serangan digital di Indonesia pada kuartal II 2026, yang antara lain mencakup pengancaman, doxing, dan peretasan.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa literasi keuangan di era digital tidak cukup hanya berkaitan dengan kemampuan mengatur pemasukan dan pengeluaran.

“Ketika uang kita berpindah ke digital, maka risikonya juga ikut bertambah,” ujarnya.

Karena itu, Sania menilai peningkatan literasi keuangan menjadi bagian penting dalam menghadapi perkembangan ekonomi digital. Upaya tersebut juga perlu berjalan seiring dengan berbagai program edukasi dan literasi keuangan yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pada akhirnya, menurut Sania, melek finansial di era digital tidak lagi sebatas mengetahui cara mengelola uang.

“Melek finansial hari ini bukan hanya tahu bagaimana mengelola uang, tetapi juga tahu bagaimana menjaga uang dan data kita di ruang digital,” kata Sania.

Advertisements

Also Read

Tags