KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak mentah acuan diproyeksi terus menguat setelah tampil perkasa di pekan lalu. Sekedar mengingatkan, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Desember 2026 ditutup melemah tipis 0,06 menjadi US$ 102,25 per barel pada Jumat (2/10/2026). Ini membuat Brent menguat 4,94% dalam sepekan.
Sejalan, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2026 ditutup melemah 1,89% ke level US$ 91,11 per barel. Dan dalam sepekan melemah 1,41%.
Sementara itu, indeks dolar AS berada di level 101,93. DXY menguat 0,95% dalam sepekan dan naik 3,06% secara bulanan.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan harga minyak masih mendapat sentimen dari kondisi pasar energi global. Salah satunya berasal dari kebijakan Amerika Serikat yang melarang ekspor solar.
Simak Prospek Laju Pergerakan IHSG di Sisa Tahun 2026
“Amerika melarang untuk ekspor solar. Ini pun juga membuat solar secara global mengalami penurunan yang cukup signifikan sehingga berdampak terhadap kenaikan harga minyak mentah,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (4/10/2026).
Di pasar valuta asing, Ibrahim menyebut perkembangan kebijakan moneter AS masih menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati. Perubahan ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed dapat memengaruhi pergerakan dolar AS.
Menurutnya, meski terdapat perbedaan pandangan mengenai arah suku bunga, perkembangan inflasi AS yang mulai melandai dapat menjadi pertimbangan bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga.
“Walaupun sebagian pejabat Bank Sentral Amerika kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga, tapi dengan kondisi inflasi yang melandai, kemungkinan dalam bulan Oktober ini The Fed akan mempertahankan suku bunga,” ujar Ibrahim.
Selain itu, perkembangan kebijakan suku bunga AS juga dapat memengaruhi pergerakan aset komoditas. Dolar AS yang menguat dapat meningkatkan tekanan terhadap komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut, sementara perubahan ekspektasi suku bunga akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam menentukan posisi.
Menakar Arah IHSG pada Kuartal III dan IV-2026
Untuk pekan depan, Ibrahim memperkirakan harga WTI memiliki support di level US$ 84,60 per barel dan resistance di US$ 100 per barel. Dengan sentimen pasar energi yang masih mendukung, harga WTI berpeluang menguji level US$ 100 per barel.
Sementara itu, indeks dolar AS diperkirakan memiliki support di kisaran 100,40-100,90 dan resistance di level 102,80.
Kendati demikian, DXY berpeluang melanjutkan penguatan dan mendekati level 103 pada pekan depan.




