Fundamental solid tapi sahamnya tertekan, cermati rekomendasi saham BBCA

Hikma Lia

BANYU POS  JAKARTA. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih menghadapi tekanan hingga penghujung 2026, meski fundamental bank tetap solid.

Advertisements

Koreksi saham lebih banyak dipengaruhi arus jual investor asing, tingginya premi risiko, serta ketidakpastian eksternal dibandingkan pelemahan kinerja bisnis.

Pada perdagangan Jumat (2/10/2026), saham BBCA memang rebound 1,67% ke level Rp 6.100 per saham. Namun, dalam sepekan terakhir saham ini masih terkoreksi 2,4%.

Advertisements

Secara year to date (ytd), harga saham BBCA telah turun 24,46%. Tekanan juga terlihat dari aktivitas investor asing yang mencatatkan net sell sekitar Rp 32,1 triliun terhadap saham BBCA sepanjang tahun berjalan.

BCA Ubah Ketentuan Business Debit Card Deposit, Kini Tanpa Expiry Date

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai koreksi BBCA lebih mencerminkan kenaikan premi risiko dan tekanan arus dana asing, bukan memburuknya fundamental perseroan.

“Penurunan lebih karena premi risiko naik, bukan bisnis memburuk,” ujar Wafi kepada Kontan, Jumat (2/10/2026).

Menurut dia, ruang penguatan saham BBCA masih terbuka karena laba perseroan tetap tumbuh di tengah penurunan harga saham.

Fundamental BBCA juga masih ditopang basis dana murah atau current account savings account (CASA) yang tinggi, sehingga biaya dana relatif stabil meski suku bunga masih berada di level tinggi.

  BBCA Chart by TradingView  

Selain itu, eksposur BBCA terhadap kredit mikro yang relatif kecil dan pembayaran dividen secara kuartalan dinilai dapat menjadi penyangga saham sembari pasar menunggu sentimen eksternal membaik.

Meski demikian, fundamental yang solid belum otomatis menjadi katalis bagi kenaikan harga saham. Wafi menilai investor masih cenderung berhati-hati selama premi risiko Indonesia tetap tinggi.

KPR BCA Syariah Tumbuh 24,17% Jadi Rp 1,78 Triliun hingga Agustus 2026

Arus dana asing menjadi salah satu sumber tekanan utama. Sebagai saham dengan bobot besar dan likuiditas tinggi di pasar, BBCA dinilai menjadi salah satu saham yang paling cepat terkena dampak ketika investor asing melakukan aksi jual.

“Sebagai saham berbobot terbesar dan paling likuid, BBCA selalu pertama dijual saat asing keluar dan pertama dibeli saat asing kembali,” jelas Wafi.

Pasar juga akan mencermati hasil review MSCI pada November mendatang. Keputusan tersebut dinilai dapat memengaruhi arah arus dana asing ke pasar saham Indonesia, termasuk ke BBCA.

Di sisi lain, penerapan mekanisme short selling di Bursa Efek Indonesia (BEI) turut menjadi perhatian investor. Namun, Wafi menilai short selling tidak serta-merta menjadi tekanan struktural bagi BBCA.

Menurut dia, dampaknya lebih mungkin terlihat pada volatilitas harga harian dibandingkan menentukan arah saham dalam jangka menengah dan panjang. Sebab, posisi short selling pada akhirnya harus ditutup melalui pembelian kembali saham.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama juga menilai dampak short selling terhadap BBCA saat ini lebih bersifat sentimen dan meningkatkan volatilitas jangka pendek.

“Short selling memang bisa menambah beban psikologis ke pergerakan harga, tetapi belum menjadi faktor dominan,” kata Kevin.

Menurut Kevin, tekanan terhadap BBCA merupakan kombinasi pelemahan pasar saham secara umum, arus dana asing, ketidakpastian menjelang review MSCI, serta sentimen terkait rumor akuisisi yang sebelumnya telah dibantah oleh manajemen BCA.

Dapen BCA: Investasi ke Luar Negeri Bukan karena Return Domestik Tak Optimal

Di tengah tekanan tersebut, Kevin masih melihat ruang penguatan BBCA apabila fundamental perseroan tetap terjaga dan tekanan eksternal mulai mereda.

BBCA masih memiliki sejumlah penopang, antara lain profitabilitas yang relatif resilien, CASA yang kuat, kualitas aset yang terjaga, serta peluang pertumbuhan kredit dan perbaikan melalui loan repricing.

Namun, pemulihan harga saham diperkirakan berlangsung bertahap. Investor akan mencermati perkembangan net interest margin (NIM), arah arus dana asing, serta kejelasan sentimen terkait MSCI.

Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBCA. Kevin menilai kenaikan harga yang lebih berkelanjutan tetap membutuhkan dukungan dari perbaikan fundamental sekaligus meredanya tekanan sentimen eksternal.

Sementara itu, Wafi melihat katalis BBCA hingga akhir tahun lebih banyak berasal dari faktor eksternal.

BCA Life dan BCA Hadirkan Produk Asuransi Jiwa Tradisional Dwiguna VALUE+

Beberapa di antaranya adalah hasil review MSCI November yang mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market, sinyal Federal Reserve terkait arah suku bunga, serta stabilitas nilai tukar rupiah.

Advertisements

Also Read

Tags