BANYU POS – JAKARTA. Industri reksadana sedang menghadapi tekanan, sejalan dengan asets under management (AUM) dan nilai aktiva bersih (NAB) yang kompak mengalami penyusutan.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), AUM industri reksadana tercatat sebesar Rp 620,53 triliun pada September 2026. Nilai tersebut turun 5,79% secara year to date (YtD) dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai Rp 658,69 triliun.
Penurunan AUM tersebut berlangsung di tengah meningkatnya aksi redemption oleh investor. Pada September 2026, net redemption reksadana tercatat sebesar Rp 10,43 triliun secara month to month (mtm). Secara kumulatif sejak awal tahun, net redemption telah mencapai Rp 30,17 triliun.
PLIN Tebar Dividen Interim Rp 268,71 Miliar, Cek Jadwal dan Besarannya
Sementara itu, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana tercatat sebesar Rp 637,07 triliun. Angka tersebut menyusut 2,42% secara mtm dan 5,66% secara YtD.
Direktur Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan tekanan terutama terjadi pada reksadana konvensional yang dijual kepada publik.
Katanya, sentimen utama yang menekan industri saat ini berasal dari kinerja pasar saham yang lemah, volatilitas pasar obligasi, serta kecenderungan investor menghindari aset berisiko.
Di sisi lain Wawan mengamini, terdapat indikasi pergeseran dana investor ke instrumen lain. Investor institusi cenderung masuk langsung ke Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan deposito. Sementara itu, investor ritel banyak melirik emas.
“Penurunan AUM dan NAB secara bulanan maupun YtD menunjukkan industri sedang tertekan dari dua sisi sekaligus, yaitu turunnya nilai aset dasar dan pencairan oleh investor,” ungkap Wawan kepada Kontan, Selasa (6/10/2926).
Berdasarkan jenis produk, tekanan terbesar terjadi pada reksadana saham dan campuran. Ia mencatat mayoritas produk pada kedua kategori tersebut mencatatkan return negatif secara YtD, sehingga AUM tergerus akibat penurunan harga aset dan aksi redemption investor.
IHSG Ditutup Melemah 0,75% ke 6.146,7 Hari Ini, Top Losers LQ45: WIFI, BRPT, GOTO
Berdasarkan data Infovesta per 30 September 2026 kinerja indeks reksadana saham turun 5,47% secara MoM dan reksadana campuran melemah 2,62% MoM pada September 2026.
Di tengah tekanan tersebut, kinerja reksadana pendapatan tetap mencatatkan kinerja 0%, atau mengalami stagnasi. Sementara reksadana pasar uang masih mampu tumbuh sebesar 0,42% MoM.
“Sebaliknya, reksadana pasar uang masih mampu menghimpun dana karena kinerjanya stabil dan likuid. Reksadana pendapatan tetap berada di tengah. Sebagian produk masih diminati, tetapi kinerjanya bervariasi dan ada yang negatif,” jelas Wawan.
Untuk kuartal IV-2026, Infovesta melihat AUM industri reksadana cenderung stagnan dengan risiko masih melanjutkan penurunan.
Wawan mengatakan, menjelang akhir tahun biasanya terdapat kebutuhan likuiditas dari investor institusi. Di saat yang sama, sentimen pasar saham dinilai belum cukup kuat untuk menarik dana investor kembali ke reksadana.
Rupiah Menguat Tipis, Sentimen Konflik Timur Tengah Masih Membayangi
Meski demikian, ia memperkirakan peluang pertumbuhan AUM masih terbuka apabila suku bunga dan nilai tukar rupiah bergerak stabil. Selain itu, kembalinya dana asing ke pasar saham dan obligasi juga dapat menjadi katalis bagi industri reksadana.
“Jika itu terjadi, pemulihan akan lebih dulu terlihat di reksadana pendapatan tetap dan pasar uang, baru kemudian reksadana saham,” pungkas Wawan.




