FTSE pertahankan status Indonesia, dana asing tetap kabur dari BEI

Hikma Lia

BANYU POS  JAKARTA. Keputusan FTSE Russell mempertahankan pasar saham Indonesia di kategori emerging market dan tidak memasukkannya ke dalam watchlist belum mampu menghentikan tekanan jual asing di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Advertisements

FTSE Russell pada Rabu (7/10/2026) menyatakan akan terus memantau efektivitas reformasi integritas pasar modal Indonesia, termasuk terkait transparansi pemegang saham, klasifikasi investor, free float minimum, dan pengawasan pasar.

“Keputusan ini mengurangi salah satu tail risk terhadap pasar Indonesia,” kata Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto kemarin.

Advertisements

Namun, sentimen positif tersebut belum mengubah arah pasar. IHSG pada Rabu turun 0,75% ke 6.146.

Dana Asing Tetap Masuk ke Pasar Keuangan Domestik Meskipun Imbal Hasil Turun

Investor asing mencatat net sell Rp 828,65 miliar sehingga akumulasi foreign net sell sepanjang 2026 mencapai Rp109,45 triliun. Pada September saja, dana asing yang keluar sekitar Rp10,2 triliun.

Rully mengatakan arus dana asing masih dipengaruhi pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS, imbal hasil US Treasury di kisaran 5,2%-5,3%, penguatan dolar AS, serta risk appetite global yang belum kondusif.

Managing Director PT Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai keputusan FTSE lebih berfungsi sebagai penahan risiko penurunan ketimbang pemicu masuknya dana asing.

Investor asing masih akan selektif, terutama pada saham dengan likuiditas tinggi, free float besar, dan fundamental kuat.

Keputusan FTSE juga belum menjadi sinyal pasti bagi hasil tinjauan MSCI pada November. MSCI masih menyoroti transparansi pemegang saham, genuine free float, konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC), dan konsistensi penerapan reformasi.

Menakar Aliran Dana Asing di Asia Usai Pasar Saham Vietnam Naik Kelas

Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama Teguh Hidayat menilai ada peluang MSCI mempertahankan Indonesia sebagai emerging market, tetapi unfreeze saham Indonesia belum tentu segera dilakukan karena masih ada emiten dalam daftar HSC yang belum memperbaiki konsentrasi kepemilikannya.

Untuk sisa 2026, Teguh memperkirakan IHSG berada di kisaran 6.500-6.700 dan berpeluang mencapai 7.000 pada akhir tahun.

Harry memperkirakan IHSG berada di rentang 6.400-6.600, dengan pergerakan sangat bergantung pada stabilitas rupiah, global yield, dan keputusan MSCI.

Di tengah pasar yang volatil, investor disarankan fokus pada selective stock picking, terutama saham perbankan, telekomunikasi, energi dan komoditas dengan fundamental serta likuiditas kuat.

Advertisements

Also Read

Tags