Ekonomi Vietnam Melesat Hampir 10%, Tercepat Sejak Pandemi Covid-19

Hikma Lia

Pertumbuhan ekonomi Vietnam menunjukkan performa yang sangat impresif pada kuartal ketiga tahun 2026. Berdasarkan laporan terbaru, produk domestik bruto (PDB) negara tersebut mencatatkan pertumbuhan yang melesat hingga mencapai angka 9,95 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Capaian pada kuartal Juli hingga September ini menjadi catatan pertumbuhan kuartalan tercepat yang berhasil diraih Vietnam sejak masa pandemi Covid-19 berakhir. Angka ini juga menunjukkan tren akselerasi yang signifikan apabila dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, di mana perekonomian Vietnam tumbuh sebesar 8,81 persen.

Advertisements

Meskipun menunjukkan lonjakan yang sangat kuat, realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga ini ternyata masih berada di bawah target tahunan yang telah ditetapkan oleh pemerintah Vietnam. Otoritas negara tersebut sebelumnya mematok target pertumbuhan ekonomi tahunan berada di atas level 10 persen. Kesenjangan antara realisasi kuartal ketiga dan target tahunan ini menunjukkan bahwa meskipun pemulihan berjalan sangat cepat, tantangan global masih memberikan tekanan yang cukup besar bagi perekonomian domestik Vietnam.

Faktor Pendorong Utama: Ekspor Kuat dan Investasi Infrastruktur Masif

Akselerasi pertumbuhan ekonomi Vietnam pada kuartal ketiga tahun 2026 ini utamanya didorong oleh dua pilar utama, yaitu kinerja ekspor yang tetap solid serta realisasi investasi infrastruktur yang dilakukan secara masif oleh pemerintah. Sebagai salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang memiliki ketergantungan sangat tinggi terhadap perdagangan internasional, aktivitas ekspor menjadi mesin utama yang menggerakkan roda perekonomian Vietnam dari waktu ke waktu.

Advertisements

Di sisi lain, pemerintah Vietnam juga secara aktif menggenjot pembangunan berbagai proyek infrastruktur publik di seluruh negeri. Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari upaya terencana untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang serta memfasilitasi kelancaran aktivitas distribusi barang dan jasa di dalam negeri. Sinergi antara sektor ekspor yang dinamis dan pembangunan infrastruktur yang agresif inilah yang berhasil menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Vietnam tetap berada di jalur yang positif, meskipun situasi geopolitik global sedang mengalami ketidakpastian.

Tantangan Defisit Perdagangan Akibat Lonjakan Biaya Impor Energi

Sebagai negara yang sangat bergantung pada ekspor, Vietnam tidak luput dari dampak negatif ketidakstabilan global. Sepanjang tahun ini, perekonomian Vietnam harus menghadapi tantangan berat berupa kenaikan biaya impor yang sangat signifikan. Kenaikan biaya ini dipicu oleh pecahnya perang di Iran yang mengganggu rantai pasok global dan memicu lonjakan harga komoditas penting, khususnya energi. Akibatnya, Vietnam mencatatkan rekor defisit perdagangan tertinggi sepanjang sejarah pada sembilan bulan pertama tahun ini.

Berdasarkan laporan resmi yang dirilis oleh Kantor Statistik Nasional Vietnam, aktivitas perdagangan internasional negara tersebut menunjukkan dinamika yang kontras antara performa bulanan dan performa kumulatif. Pada bulan September saja, ekspor barang Vietnam sebenarnya mencatatkan kenaikan yang luar biasa, yaitu tumbuh sebesar 39,1 persen dibandingkan dengan September tahun sebelumnya, dengan total nilai mencapai US$ 59,48 miliar.

Namun, di saat yang sama, nilai impor pada bulan September juga melonjak tajam sebesar 45,8 persen secara tahunan menjadi US$ 58,21 miliar. Meskipun nilai impor tumbuh lebih cepat secara persentase, Vietnam masih berhasil membukukan surplus perdagangan yang tipis sebesar US$ 1,27 miliar khusus untuk bulan September tersebut.

Baca juga:

  • Menkeu Suahasil Sebut APBN Tepat Sasaran Selama Dua Tahun Prabowo – Gibran

Rekor Defisit Perdagangan Selama Sembilan Bulan Pertama

Kondisi yang berbeda terlihat ketika kita melihat data kumulatif selama sembilan bulan pertama tahun ini. Sepanjang periode Januari hingga September, total ekspor Vietnam tercatat naik sebesar 24,5 persen menjadi US$ 434,30 miliar. Di sisi lain, nilai impor kumulatif mengalami lonjakan yang jauh lebih agresif, yaitu meningkat sebesar 36,7 persen hingga mencapai angka US$ 453,72 miliar. Perbedaan pertumbuhan yang signifikan antara ekspor dan impor ini akhirnya menghasilkan defisit perdagangan kumulatif yang sangat besar, yakni mencapai rekor tertinggi senilai US$ 19,42 miliar.

Penyebab utama dari melebarnya jurang defisit perdagangan ini adalah melambungnya harga impor energi di pasar global. Laporan dari Kantor Statistik Nasional merinci bahwa kenaikan harga komoditas energi dunia memaksa Vietnam membayar jauh lebih mahal untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Sebagai contoh, volume impor minyak mentah Vietnam selama periode sembilan bulan tersebut sebenarnya mengalami penurunan sebesar 13,5 persen. Namun, akibat lonjakan harga global, nilai yang harus dibayarkan untuk impor minyak mentah tersebut justru mengalami kenaikan sebesar 14,4 persen.

Fenomena serupa juga terjadi pada sektor bahan bakar olahan. Volume impor bahan bakar olahan Vietnam tercatat mengalami peningkatan sebesar 11,5 persen secara volume. Namun, nilai impor untuk komoditas ini melonjak sangat drastis hingga mencapai 79,3 persen. Data ini menjadi bukti nyata bagaimana inflasi harga energi global akibat konflik geopolitik telah memberikan tekanan fiskal yang sangat berat bagi neraca perdagangan luar negeri Vietnam.

Tekanan Inflasi Domestik dan Kinerja Sektor Industri

Lonjakan harga komoditas impor global ini pada akhirnya merembet ke sektor domestik Vietnam dan memicu tekanan inflasi. Biro Statistik Nasional Vietnam melaporkan bahwa indeks harga konsumen atau tingkat inflasi pada bulan September mencatatkan kenaikan sebesar 5,08 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kenaikan harga barang-barang konsumsi ini mencerminkan adanya transmisi biaya dari tingginya harga impor energi ke sektor riil di dalam negeri.

Meskipun dihadapkan pada tantangan inflasi dan biaya produksi yang lebih tinggi, sektor manufaktur dan industri Vietnam terbukti tetap resilien. Data resmi menunjukkan bahwa produksi industri pada bulan September masih mampu mencatatkan pertumbuhan yang sangat kuat, yaitu meningkat sebesar 16,7 persen secara tahunan. Pertumbuhan industri yang solid ini menjadi penopang utama yang menjaga pasokan barang ekspor tetap terjaga dengan baik di tengah tekanan ekonomi global.

Investasi Publik dan Arus Masuk Modal Asing yang Kuat

Untuk menjaga agar momentum pertumbuhan ekonomi tidak melemah di tengah berbagai tekanan global, pemerintah Vietnam terus mengoptimalkan instrumen investasi dalam negeri. Data menunjukkan bahwa total realisasi investasi di Vietnam sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini mengalami kenaikan sebesar 16,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini didorong oleh langkah agresif pemerintah dalam mempercepat realisasi investasi publik, khususnya pada proyek-proyek pembangunan infrastruktur strategis.

Selain investasi dari sektor publik domestik, daya tarik Vietnam sebagai tujuan investasi bagi para pemodal internasional juga tetap terjaga dengan sangat baik. Arus masuk investasi asing langsung (Foreign Direct Investment) ke Vietnam selama periode sembilan bulan pertama tahun ini tercatat mengalami peningkatan sebesar 12,1 persen secara tahunan. Total nilai investasi asing langsung yang berhasil direalisasikan mencapai angka US$ 21,1 miliar. Masuknya modal asing dalam jumlah besar ini menunjukkan bahwa para investor global masih memiliki kepercayaan yang sangat tinggi terhadap stabilitas dan prospek ekonomi jangka panjang negara ini.

Prospek Ekonomi dan Revisi Proyeksi Pertumbuhan oleh ADB

Melihat ketahanan ekonomi Vietnam yang luar biasa di tengah berbagai guncangan global, lembaga keuangan internasional terkemuka, Asian Development Bank, pada pekan lalu secara resmi menaikkan perkiraan atau proyeksi pertumbuhan ekonomi Vietnam untuk keseluruhan tahun ini. Asian Development Bank merevisi target pertumbuhan ekonomi Vietnam menjadi 7,8 persen, naik signifikan dari perkiraan sebelumnya yang dipatok di angka 7,2 persen.

Dalam analisis resminya, Asian Development Bank menyatakan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi jangka pendek Vietnam tetap berada dalam posisi yang sangat kuat dan menjanjikan. Optimisme ini didasarkan pada beberapa faktor fundamental yang saling mendukung di dalam ekosistem ekonomi Vietnam. Faktor-faktor tersebut meliputi ekspansi yang berkelanjutan dan konsisten di sektor manufaktur yang menjadi tulang punggung ekspor, tingkat konsumsi domestik masyarakat yang tetap tinggi, serta aliran investasi asing langsung yang terus mengalir deras ke berbagai sektor industri strategis.

Advertisements

Also Read

Tags