Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara berencana mengucurkan dana hingga US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17,87 triliun untuk membeli saham dan obligasi hingga akhir tahun ini. Keputusan investasi akan mempertimbangkan kondisi pasar dan valuasi aset.
Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management Rani Piputri mengatakan, Danantara telah menginvestasikan sekitar US$ 3 miliar pada saham dan obligasi domestik maupun luar negeri sejak akhir tahun lalu.
Adapun rencana tambahan investasi ini muncul menjelang pengumuman terbaru penyedia indeks global MSCI pada November mendatang. Keputusan MSCI itu akan menentukan status pasar saham Indonesia, apakah tetap berada dalam kategori pasar berkembang (emerging market) atau turun menjadi pasar perintis (frontier market).
Pelaku pasar khawatir atas potensi turunnya status pasar saham Indonesia ke frontier market. Sebelumnya, MSCI telah memperingatkan pada Januari bahwa Indonesia berisiko mengalami penurunan klasifikasi. Dengan peluang Danantara akan masuk ke pasar Indonesia, tekanan MSCI diprediksi tak akan signifikan.
Kendati demikian, Rani menegaskan bahwa masuknya Danantara di pasar saham Domestik tidak serta merta untuk menstabilkan pasar, melainkan mencari valuasi terbaik karena Danantara adalah badan pengelola investasi.
Rani mengatakan Danantara berpeluang masuk ke pasar saham domestik ketika terjadi tekanan, selama kondisi tersebut membuka peluang investasi yang menguntungkan.
“Jika terjadi krisis di pasar dan kami menilai tekanan tersebut hanya didasarkan pada sentimen eksternal yang sangat sementara, kami mungkin akan masuk ke pasar,” kata Rani dikutip dari Reuters, Sabtu (10/10).
Menurut dia, Danantara telah berinvestasi secara bertahap sejak akhir tahun lalu, termasuk saat pasar saham mengalami aksi jual besar-besaran setelah peringatan MSCI pada Januari.
Jika penurunan status Indonesia memicu aksi jual lanjutan pada bulan depan, Danantara akan mempertimbangkan peluang untuk membeli saham. Namun, keputusan tersebut tetap bergantung pada hasil uji tuntas (due diligence).
“Kami mungkin akan masuk. Namun, ada banyak uji tuntas yang harus kami lakukan,” ujarnya.
Rani menyatakan, pembelian saham yang dilakukan Danantara sebelumnya bukan bertujuan menopang pasar, melainkan karena lembaga tersebut melihat peluang dari valuasi aset.
“Kami membeli karena melihat ada nilai investasi. Tujuannya bukan untuk menstabilkan pasar. Justru bagus ketika orang lain tidak menyukai suatu aset, sementara kami melihat nilainya, karena kami bisa mendapatkannya dengan harga yang baik. Kemudian, ketika mereka kembali menyukainya, kami bisa menjualnya kepada mereka,” kata Rani.
Danantara diluncurkan pada awal 2025 dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Lembaga ini mendapat mandat mengelola aset negara senilai sekitar US$ 900 miliar yang tersebar di 1.000 perusahaan, serta memanfaatkan dividen perusahaan-perusahaan tersebut untuk memaksimalkan imbal hasil investasi.
Rani mengatakan portofolio investasinya saat ini terdiri atas sekitar 65% saham, 30% instrumen pendapatan tetap (fixed income) dan 5% dana lindung nilai (hedge fund). Sekitar seperempat portofolio tersebut ditempatkan di Indonesia.
Di luar saham dan obligasi, Danantara juga mulai membidik aset yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Namun, Rani menyebut investasi di sektor tersebut dilakukan secara hati-hati karena Danantara menilai peluang masuknya perlu diperhitungkan secara cermat.
“Kami tidak menganggap AI sebagai gelembung dan tidak berpikir gelembung itu akan pecah. Namun, kami ingin berhati-hati untuk masuk ke sektor ini karena kami relatif terlambat,” ujarnya.
Menurut Rani, mulai munculnya kekhawatiran mengenai potensi gelembung investasi AI dapat membantu menjaga pasar tetap terkendali. Sebaliknya, ketika semua investor menganggap sektor tersebut sebagai peluang investasi yang menarik, risiko justru perlu diwaspadai.




