BANYU POS – , JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi mengalami rebound pada perdagangan pekan ini. Sejumlah saham seperti EMAS, ICBP, hingga BBTN direkomendasikan analis pada pekan 12–16 Oktober 2026.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari, menerangkan secara teknikal, histogram negatif MACD terus menyempit yang mengindikasikan tekanan jual terhadap pasar telah mulai mereda. Hanya saja, potensi death cross pada Stochastic RSI di area pivot dinilai menunjukkan bahwa penguatan jangka pendek masih berisiko tertahan.
”Dalam skenario bullish, IHSG berpeluang melanjutkan rebound menuju area penutupan gap di 6.227–6.231. Namun, apabila gagal mempertahankan momentum dan menembus ke bawah 5.973, risiko koreksi lanjutan menuju 5.850–5.911 perlu diwaspadai,” katanya dalam keterangannya, Senin (12/10/2026).
Untuk jangka pendek, Brigita menilai area 6.008–6.025 menjadi zona koreksi yang perlu dicermati investor, dengan level support terdekat pada area 6.018.
”Kami memperkirakan IHSG bergerak konsolidatif pada kisaran 6.000–6.215 pada pekan depan. Penembusan resistance rentang tersebut berpotensi membuka ruang penguatan menuju 6.297, sedangkan pelemahan di bawah support 5.973 akan meningkatkan risiko koreksi lanjutan,” tegasnya.
Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) menjadi salah satu rekomendasi analis dengan target harga Rp8.700 dan stop loss pada area Rp7.625. Secara teknikal, saham EMAS dinilai menunjukkan pergerakkan dengan potensi penguatan lanjutan setelah berhasil melewati MA5 hingga MA50.
Saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) juga direkomendasikan analis pada target harga Rp7.400 dan stop loss pada level Rp6.825. ICBP disebut telah mengonfirmasi sinyal rebound dengan membentuk candle bullish marubozu.
Terakhir, analis merekomendasikan saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) pada target harga Rp1.120 dan stop loss pada level Rp1.050. Secara teknikal, pergerakkan BBTN menunjukkan potensi reversal dari area bottoming yang cukup kuat di level Rp1.050.
Adapun IHSG selama sepekan lalu menguat 0,94% atau 56,87 poin ke level 6.093. Saat itu, level terendah pergerakan indeks komposit berada di posisi 5.995 dan level tertinggi mencapai 6.216.
Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian turun 7,62% menjadi 46,43 miliar saham, dengan rata-rata frekuensi transaksi harian yang juga turun 0,27% menjadi 1,67 juta kali.
Di sisi lain, nilai rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) tumbuh 28,52% menjadi Rp16,22 triliun. Penguatan IHSG mendorong kapitalisasi pasar tumbuh 0,69% menjadi Rp10.701 triliun.
Sejalan dengan hal itu, terdapat net sell asing mencapai Rp2,44 triliun. Nilai bersih jual asing itu lebih kecil dari realisasi pekan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp5,03 triliun.
IPOT menilai pergerakkan pasar sepanjang pekan lalu turut diwarnai sentimen dari global dan domestik. Dari sisi global, sentimen sempat membaik pada Jumat (9/10) saat sejumlah bursa AS mengalami penguatan seiring pemulihan saham teknologi dan meredanya tekanan di pasar obligasi.
Meskipun begitu, terdapat volatilitas harga komoditas akibat ekspektasi pasokan dan meningkatnya risiko geopolitik. Sebaliknya, harga batu bara Newcastl justru terkoreksi ke level US$148,85 per ton pada 9 Oktober.
Dari sisi domestik, risiko eksternal dinilai masih menjadi perhatian pasar seiring proyeksi pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia menjadi 1,5% PDB pada 2026 seiring meningkatnya impor energi. Menurutnya, kombinasi kebutuhan impor energi dan tingginya yield obligasi AS berpotensi meningkatkan sensitivitas rupiah dan arus dana asing di Indonesia.
Sementara itu, Indeks Keyakinan Konsumen pada September 2026 masih tercatat di level 118,1 dan masih berada di zona optimistis. Hanya saja, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini melemah dari 109,4 menjadi 107,5.
”Perkembangan tersebut perlu dicermati bersama pergerakan arus dana asing dan volatilitas IHSG tanpa mengasumsikan adanya hubungan sebab-akibat langsung,” tegasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




