BANYU POS – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi memiliki peluang untuk melakukan pemulihan atau berbalik menguat pada periode perdagangan 12 hingga 16 Oktober 2026. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, memperkirakan pergerakan IHSG akan bersifat konsolidatif dalam rentang 6.000 hingga 6.215 pada pekan mendatang.
Penembusan level resistensi dalam rentang tersebut berpotensi membuka jalan bagi penguatan lebih lanjut menuju angka 6.297. Sebaliknya, pelemahan di bawah level support 5.973 akan meningkatkan risiko terjadinya koreksi lanjutan yang lebih dalam. Untuk jangka pendek, area 6.008–6.025 diidentifikasi sebagai zona koreksi yang perlu dicermati dengan cermat, sementara support terdekat berada di level 6.018.
Brigita menjelaskan bahwa dalam skenario bullish, IHSG berpeluang untuk melanjutkan tren pemulihannya menuju area penutupan celah (gap) di kisaran 6.227–6.231. Namun, jika indeks gagal mempertahankan momentum penguatannya dan menembus ke bawah level 5.973, maka risiko koreksi lanjutan menuju rentang 5.850–5.911 perlu diwaspadai. Analisis teknikal menunjukkan bahwa IHSG berhasil menguat sebesar 1,04 persen pada penutupan perdagangan Jumat, 9 Oktober, mencapai level 6.093,76 dan ditutup di atas Moving Average 3 (MA3). Indeks juga mampu bertahan di atas level psikologis 6.000, yang merupakan pertanda positif.
Pada grafik mingguan, IHSG menunjukkan penguatan sebesar 0,94 persen yang didukung oleh volume pembelian. Meskipun demikian, indeks belum berhasil menembus Moving Average 20 (MA20), sehingga pemulihan tren jangka menengah belum dapat dikonfirmasi secara pasti. Dari sisi momentum, histogram negatif pada indikator MACD yang terus menyempit memberikan sinyal bahwa tekanan jual mulai mereda. Namun, potensi persilangan mati (death cross) pada Stochastic RSI di area pivot mengindikasikan bahwa penguatan jangka pendek masih memiliki risiko untuk tertahan.
Sentimen Global dan Domestik Pengaruhi Pergerakan Pasar
Brigita merinci bahwa pergerakan saham dalam sepekan terakhir dipengaruhi oleh berbagai sentimen, baik dari pasar global maupun domestik. Pergerakan pasar global selama pekan 5–9 Oktober 2026 diwarnai oleh volatilitas saham-saham teknologi, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS), serta risiko geopolitik yang meningkat.
Pasar saham Wall Street sempat bergerak bervariasi, dengan tekanan yang terjadi pada saham-saham teknologi akibat kekhawatiran terhadap prospek pendapatan OpenAI. Selain itu, kenaikan yield US Treasury juga memberikan tekanan tambahan terhadap valuasi saham secara umum. Di pasar obligasi, yield US Treasury 10 tahun (10Y) tetap bertahan di level yang tinggi, meskipun sempat mengalami koreksi setelah lelang obligasi AS mendapatkan respons permintaan yang kuat.
Situasi pasar menunjukkan sentimen yang membaik pada Jumat, 9 Oktober, ketika indeks Dow Jones berhasil menguat sebesar 0,83 persen, S&P 500 naik 0,59 persen, dan Nasdaq mengalami penguatan 0,64 persen. Kenaikan ini didukung oleh pemulihan saham-saham teknologi dan meredanya tekanan di pasar obligasi.
Pergerakan Komoditas dalam Sepekan Terakhir
Dari sisi komoditas, harga minyak mentah bergerak volatil akibat perubahan ekspektasi pasokan dan meningkatnya risiko geopolitik. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat turun ke level USD 88,28 per barel pada Rabu, 7 Oktober, sebelum akhirnya kembali naik tajam sebesar 3,64 persen menjadi USD 91,49 per barel pada hari Kamis. Penguatan harga minyak ini dipicu oleh meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, kekhawatiran terhadap potensi tindakan militer AS terhadap Iran, serta ancaman Badai Isaias terhadap produksi minyak di Teluk Meksiko.
Pada Jumat, 9 Oktober, harga WTI kembali mencatat kenaikan tipis sebesar 0,19 persen, mencapai USD 91,66 per barel. Kenaikan ini terjadi seiring dengan gangguan produksi akibat badai yang mengimbangi tekanan dari perkembangan diplomatik antara AS dan Iran. Di sisi lain, harga emas menunjukkan penguatan sebesar 1,47 persen, mencapai USD 4.193,9 per troy ounce pada 9 Oktober. Penguatan emas ini didukung oleh pelemahan dolar AS dan meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian pasar.
Sementara itu, harga batu bara Newcastle mengalami koreksi ke level USD 148,85 per ton pada penutupan 9 Oktober, setelah sebelumnya sempat menyentuh USD 152 per ton, yang merupakan level tertinggi dalam 23 bulan terakhir. Permintaan listrik yang tinggi dari India dan Tiongkok serta keterbatasan pasokan domestik di Tiongkok menjadi faktor pendukung kenaikan harga batu bara. Meskipun demikian, pemulihan produksi di Tiongkok berpotensi membatasi kenaikan harga lebih lanjut di masa mendatang.
Rekomendasi Saham Pilihan untuk Perdagangan
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai menarik untuk dicermati dalam perdagangan mendatang. Rekomendasi ini meliputi PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), serta produk Reksa Dana Syariah Premier ETF Gold Sharia Indonesia dengan kode XGLD.
Untuk saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), IPOT memberikan rekomendasi beli (buy) dengan area entri pada rentang 7.950–8.075, target harga (target price) di 8.700, dan batas kerugian (stop loss) di 7.625. Secara teknikal, pergerakan saham EMAS menunjukkan potensi penguatan lanjutan setelah berhasil bergerak di atas MA5 hingga MA50. Selain itu, indikator Trade Flow mengindikasikan adanya akumulasi dari investor institusi (smart money) dan investor asing, yang semakin memperkuat sinyal positif tersebut.
Selanjutnya, saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) direkomendasikan untuk dibeli (buy) pada level entri 6.950, dengan target harga 7.400, dan stop loss di 6.825. Pergerakan saham ICBP mengonfirmasi sinyal pemulihan dengan membentuk pola candlestick bullish marubozu. Tren jangka pendek juga menunjukkan penguatan seiring posisi harga yang kembali bergerak di atas MA5 hingga MA20.
Untuk saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), rekomendasi beli (buy) diberikan pada level entri 1.070, dengan target harga 1.120, dan stop loss di 1.050.




