BANYU POS Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Investor akan mencermati tiga sentimen utama, yakni perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak mentah, dan rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan Senin (12/10/2026), IHSG ditutup anjlok 157,61 poin atau 2,59% ke level 5.936,15. Koreksi tersebut membawa indeks kembali ke bawah level psikologis 6.000.
Tekanan terjadi di seluruh sektor saham, dengan pelemahan terdalam pada sektor energi dan industri. Sementara itu, nilai tukar rupiah juga melemah 0,08% ke Rp 17.899 per dollar AS, di tengah penguatan indeks dollar AS.
Archi Indonesia (ARCI) Gelontorkan US$ 8,5 Juta untuk Eksplorasi Emas
Konflik Timur Tengah dan harga minyak jadi sorotan
Phintraco Sekuritas menilai tingginya ketidakpastian global masih menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan IHSG. Harga minyak mentah Brent yang bertahan di atas US$ 100 per barel turut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap prospek inflasi.
Selain itu, pelaku pasar mencermati potensi arus keluar modal asing dari pasar obligasi Indonesia serta sejumlah isu terkait evaluasi indeks oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Perkembangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi perhatian, termasuk meningkatnya ketegangan yang melibatkan Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman. Perubahan situasi tersebut berpotensi memengaruhi harga energi dan sentimen pasar keuangan global.
IHSG Anjlok 2,59% di Tengah Rumor Pasar Terkait Sanksi Emiten
Analisis teknikal: IHSG berpotensi uji support 5.800–5.900
Dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang menguji area support 5.800–5.900 pada perdagangan Selasa.
Indikator teknikal menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat. Histogram negatif pada indikator moving average convergence divergence (MACD) yang semakin melebar serta pola death cross pada stochastic relative strength index (RSI) menjadi sinyal yang perlu dicermati investor.
Analis teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, juga memperkirakan IHSG bergerak di area support 5.850–5.900. Adapun resistance terdekat berada pada kisaran 6.000–6.019.
Level 6.000 menjadi batas psikologis penting bagi pergerakan indeks. Apabila IHSG mampu kembali menembus level tersebut, peluang pemulihan dapat terbuka. Sebaliknya, jika area support 5.800–5.900 gagal dipertahankan, risiko pelemahan lanjutan masih membayangi.
Realisasi Biaya Eksplorasi Golden Energy Mines (GEMS) Capai Rp 6,51 Miliar
Investor menanti data inflasi AS
Selain perkembangan geopolitik dan harga minyak, investor juga menunggu rilis data indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS untuk periode September pada Rabu (14/10/2026).
Konsensus pasar memperkirakan inflasi tahunan AS meningkat menjadi 3,6% dari 3,4% pada Agustus. Data tersebut akan menjadi salah satu acuan investor dalam menilai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Apabila inflasi tercatat lebih tinggi daripada perkiraan, dollar AS berpotensi menguat lebih lanjut. Kondisi ini dapat menambah tekanan terhadap rupiah dan meningkatkan kekhawatiran mengenai arus modal asing di pasar keuangan domestik.
Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi berpotensi meredakan sebagian tekanan terhadap pasar.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG pada Selasa akan bergantung pada perkembangan pasar global dan kemampuan indeks bertahan di area support. Investor perlu mencermati level 5.800–5.900 serta perkembangan harga minyak dan dollar AS sebelum menentukan strategi transaksi.




