Intip proyeksi IMF dan Bank Dunia soal defisit transaksi berjalan RI

Hikma Lia

BANYU POS – , JAKARTA — Sejumlah lembaga global telah mengeluarkan proyeksi terbaru atas pertumbuhan ekonomi hingga neraca transaksi berjalan Indonesia untuk 2026. 

Advertisements

Teranyar, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia ke 1,6% terhadap PDB. Posisi Current Account Deficit (CAD) Indonesia ini melebar dari realisasi 2025 yakni 0,1% terhadap PDB. 

Kemudian, IMF memproyeksikan bahwa defisit transaksi berjalan baru akan mengalami normalisasi pada 2027 ke 1% terhadap PDB. Sementara itu, IMF memproyeksikan perekonomian tumbuh dari 5,0% pada laporan sebelumnya ke 5,1% pada laporan terbaru. 

Advertisements

Pada laporan terbarunya yakni World Economic Outlook (WEO) Oktober 2026, IMF memaparkan bahwa data perdagangan awal tahun ini menunjukkan adanya peluang defisit transaksi berjalan global meningkat sampai 2027.  

Ada sejumlah risiko yang diantisipasi oleh IMF dapat memperlebar defisit transaksi berjalan negara-negara emerging, khususnya importir energi dengan keterbatasan ruang fiskal maupun penyangga eskternal (cadangan devisa). 

Beberapa risiko itu mencakup konflik berkepanjangan pada kawasan Timur Tengah dan Ukraina hingga cuaca esktrem seperti fenomena El-Nino. 

“Harga komoditas yang terus berada pada tingkat tinggi dapat memperlebar defisit transaksi berjalan, meningkatkan kebutuhan pembiayaan eksternal, dan memperparah tekanan terhadap nilai tukar. Pada waktu yang sama, inflasi yang lebih tinggi dapat mendorong kebijakan moneter lebih ketat dan berpengaruh ke pertumbuhan ekonomi,” dikuti dari laporan IMF WEO Oktober 2026 bertajuk ‘Resilience Under Strain, Urgent Choices’, Rabu (14/10/2026). 

Proyeksi pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia juga disampaikan oleh Bank Dunia pada laporan terbaru yakni East Asia & Pacific Economic Update Oktober 2026. 

Pada laporan tersebut, defisit transaksi berjalan Indonesia diproyeksikan melebar ke 1,5% terhadap PDB. Bauran kebijakan yang dilakukan dinilai berkontribusi terhadap ketidakseimbangan neraca fiskal maupun eksternal, namun mendukung pertumbuhan ekonomi jangka pendek.

Dalam hal ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan sebesar 5,2% atau lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya 5,1%.

Sejumlah risiko global yang diantisipasi IMF ke depan masih seputar gangguan logistik energi akibat perang. Namun, berdasarkan skenario dasar, ekspor minyak dari kawasan negara Teluk diproyeksikan kembali ke level sebelum konflik pada pertengahan 2027.

“Jika pengiriman terus terhambat dalam waktu yang lebih lama, menipisnya persediaan akan mendorong kenaikan harga hingga ke tingkat yang cukup tinggi untuk mengurangi permintaan sebesar besaran guncangan pasokan tersebut. Saat persediaan mendekati tingkat operasional kritis, kelangkaan fisik dapat memicu lonjakan harga,” bunyi laporan Bank Dunia bertajuk ‘Riding the AI Wave’ Oktober 2026.

Advertisements

Also Read