Profil Suroso Isnandar, Dirut Baru PLN Berpengalaman 3 Dekade

Hikma Lia

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT PLN (Persero) telah menjadi sorotan utama dalam agenda korporasi di sektor energi nasional. Pada hari Rabu, 14 Oktober, keputusan strategis diambil untuk menetapkan Suroso Isnandar sebagai Direktur Utama PLN yang baru, menandai sebuah transisi kepemimpinan penting dalam perusahaan listrik negara tersebut. Suroso Isnandar menggantikan Darmawan Prasodjo, yang sebelumnya menjabat posisi tersebut, dalam sebuah langkah yang diklaim sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat dan memajukan PLN.

Advertisements

Sebelum penunjukannya sebagai pucuk pimpinan, Suroso Isnandar telah memiliki rekam jejak yang signifikan di dalam PLN, menjabat sebagai Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan. Pengalaman ini memberikan landasan kuat bagi perannya yang baru, terutama mengingat fokus PLN pada pengembangan energi berkelanjutan dan efisiensi operasional. Pergantian kepemimpinan ini bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan bagian dari sebuah “estafet kepemimpinan” yang dirancang untuk melanjutkan dan mengakselerasi agenda transformasi PLN. Agenda ini mencakup sejumlah pilar strategis yang krusial bagi ketahanan energi nasional dan pembangunan ekonomi Indonesia.

Pilar-pilar transformasi yang dimaksud sangat vital bagi operasional dan visi masa depan PLN. Pertama, penguatan keandalan sistem merupakan fondasi utama untuk memastikan pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan di seluruh penjuru negeri. Keandalan sistem yang tinggi sangat penting untuk mendukung aktivitas ekonomi, industri, dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Kedua, pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan menjadi prioritas untuk memenuhi pertumbuhan permintaan energi serta menjangkau daerah-daerah yang belum teraliri listrik. Ini meliputi pembangunan pembangkit listrik baru, jaringan transmisi, dan distribusi yang lebih modern dan efisien, yang memerlukan manajemen proyek yang cermat dan visi jangka panjang.

Advertisements

Selanjutnya, pengembangan energi baru terbarukan (EBT) adalah elemen kunci dalam strategi transisi energi Indonesia menuju masa depan yang lebih hijau. PLN memiliki peran sentral dalam mendorong bauran energi nasional dengan memanfaatkan sumber daya terbarukan seperti surya, angin, hidro, dan panas bumi. Penunjukan Suroso Isnandar, yang sebelumnya bertanggung jawab atas direktorat terkait EBT, menggarisbawahi komitmen perusahaan terhadap agenda ini. Terakhir, peningkatan layanan pelanggan menjadi fokus untuk memastikan kepuasan pengguna listrik, baik rumah tangga maupun industri. Ini mencakup inovasi dalam layanan digital, respons yang cepat terhadap keluhan, dan peningkatan aksesibilitas informasi bagi pelanggan.

Meskipun terjadi pergantian posisi direksi utama, Komisaris Independen PLN, Andi Arief, memberikan penjelasan mengenai situasi transisi ini. Menurut Andi Arief, Suroso Isnandar masih akan merangkap jabatan lamanya sebagai Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan hingga pejabat pengganti untuk posisi tersebut ditetapkan. Hal ini menunjukkan adanya upaya untuk memastikan kelancaran operasional dan kontinuitas proyek-proyek penting selama masa transisi kepemimpinan. Pernyataan Andi Arief juga mencerminkan apresiasi terhadap kepemimpinan sebelumnya dan optimisme terhadap Direktur Utama yang baru.

Dalam pernyataannya kepada Katadata pada hari Rabu (14/10), Andi Arief menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Darmawan Prasodjo atas dedikasi dan kontribusinya yang “sangat berarti” dalam melakukan banyak transformasi di PLN. Pengakuan ini menyoroti dampak positif yang telah dibawa oleh kepemimpinan sebelumnya. Lebih lanjut, Andi Arief juga mengungkapkan keyakinannya bahwa Suroso Isnandar sebagai direktur utama yang baru akan mampu melanjutkan dan bahkan memperdalam agenda transformasi yang telah dimulai, membawa PLN ke tingkat kinerja dan inovasi yang lebih tinggi.

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang menetapkan Suroso Isnandar sebagai Direktur Utama PLN diselenggarakan secara virtual. Penggunaan aplikasi Zoom sebagai platform pertemuan ini mencerminkan adaptasi perusahaan terhadap teknologi dan efisiensi dalam pelaksanaan rapat-rapat penting, terutama di tengah kondisi yang mungkin memerlukan fleksibilitas. RUPSLB tersebut dihadiri oleh jajaran lengkap direksi, komisaris, serta perwakilan dari Badan Pengelola BUMN (BP BUMN), menunjukkan legitimasi dan bobot keputusan yang diambil. Pertemuan penting ini berlangsung pada pukul 18.30 WIB dan berlanjut hingga seluruh agenda selesai dibahas, mengindikasikan proses yang komprehensif dan teliti dalam pengambilan keputusan strategis.

Menariknya, sebelum RUPSLB digelar, Suroso Isnandar sempat terlibat dalam sebuah pertemuan penting dengan sejumlah pejabat tinggi negara. Pada siang hari sebelumnya, ia menghadiri rapat bersama Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Presiden Prabowo di Istana Merdeka. Kehadiran Suroso Isnandar dalam rapat tingkat tinggi ini, sesaat sebelum penunjukannya sebagai Direktur Utama PLN, mengisyaratkan perannya yang semakin sentral dalam perumusan kebijakan energi dan investasi nasional, serta menunjukkan kepercayaan pemerintah terhadap kapasitasnya dalam memimpin sektor ketenagalistrikan.

Profil Suroso

Berdasarkan informasi yang tercantum pada laman resmi PT PLN (Persero), Suroso Isnandar adalah warga negara Indonesia yang lahir di Klaten pada tanggal 12 Agustus 1971. Latar belakang ini memberikan gambaran awal mengenai identitas dan asal-usul beliau. Penunjukannya sebagai Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN sebelumnya didasarkan pada Keputusan Menteri BUMN Nomor: SK-159/MBU/06/2025 tertanggal 18 Juni 2025. Detail ini menunjukkan dasar hukum resmi untuk penempatan beliau pada posisi strategis tersebut, yang merupakan bagian integral dari struktur organisasi PLN.

Perjalanan akademis Suroso Isnandar menunjukkan dedikasi yang mendalam pada bidang teknik dan energi. Ia berhasil meraih tiga gelar dari perguruan tinggi terkemuka, mencerminkan komitmennya terhadap pembelajaran berkelanjutan dan penguasaan ilmu. Gelar pertamanya adalah Sarjana Teknik dengan spesialisasi Power System Engineering dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yang diraih pada tahun 1994. ITB dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan teknik terbaik di Indonesia, sehingga gelar ini menjadi fondasi yang kuat bagi karirnya di sektor ketenagalistrikan.

Suroso kemudian melanjutkan pendidikan pascasarjana untuk mendapatkan gelar Master of Science dalam Power System Engineering and Management dari University of Abertay pada tahun 1999. Studi di luar negeri ini memberikan perspektif internasional dan pemahaman yang lebih luas mengenai manajemen sistem tenaga listrik di kancah global. Tidak berhenti di situ, komitmennya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan terus berlanjut hingga ia berhasil meraih gelar Doktor Teknik Elektro dari Institut Teknologi Bandung pada tahun lalu. Pencapaian ini menegaskan keahlian teknis dan analitisnya yang mendalam, menjadikannya seorang profesional dengan landasan akademis yang sangat kokoh.

Di samping latar belakang pendidikan yang mengesankan, Suroso Isnandar juga memiliki rekam jejak karir yang panjang dan kaya di PT PLN (Persero). Melalui laman LinkedIn pribadinya, ia mengungkapkan bahwa perjalanan karirnya di perusahaan listrik negara ini telah berlangsung lebih dari 30 tahun. Durasi pengabdian yang luar biasa ini menunjukkan pengalaman institusional yang mendalam serta pemahaman yang komprehensif tentang seluk-beluk operasional dan strategis PLN.

Perusahaan secara resmi mencatat bahwa Suroso memiliki pengalaman yang luas dan mendalam dalam berbagai aspek ketenagalistrikan. Keahliannya mencakup pengelolaan sistem tenaga, pembangkitan, penyaluran, hingga transformasi digital. Setiap area ini merupakan komponen krusial dalam operasional PLN. Pengelolaan sistem tenaga memastikan stabilitas dan efisiensi jaringan listrik, sementara pengalaman dalam pembangkitan dan penyaluran menjamin pasokan energi yang memadai dan distribusi yang efektif ke seluruh wilayah. Kemampuan dalam transformasi digital sangat relevan di era modern, di mana inovasi teknologi menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas layanan pelanggan.

Berbagai jabatan penting pernah diemban oleh Suroso Isnandar sepanjang karirnya di PLN, menunjukkan progresivitas dan peningkatan tanggung jawab yang sistematis. Antara lain, ia pernah menjabat sebagai General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangkitan dan Penyaluran Sulawesi dari tahun 2019 hingga 2021. Posisi ini memberinya pengalaman langsung dalam mengelola operasi pembangkitan dan infrastruktur penyaluran di salah satu wilayah penting di Indonesia, yang seringkali memiliki tantangan geografis dan teknis yang unik.

Setelah itu, ia dipercaya menjabat sebagai General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura, dan Bali dari tahun 2021 hingga 2022. Jabatan ini sangat krusial karena bertanggung jawab atas pengaturan dan keseimbangan beban listrik di sistem kelistrikan Jawa-Bali, yang merupakan salah satu sistem terbesar dan terpadat di Asia Tenggara. Pengalaman ini menunjukkan kemampuannya dalam mengelola operasi berskala besar dan kompleks dengan dampak nasional.

Selanjutnya, Suroso Isnandar menjabat sebagai Kepala Satuan Digital dan Teknologi Informasi pada Direktorat Utama PT PLN (Persero) Kantor Pusat dari tahun 2022 hingga 2023. Peran ini menyoroti keterlibatannya dalam inisiatif transformasi digital PLN, yang bertujuan untuk memodernisasi infrastruktur teknologi informasi dan meningkatkan efisiensi operasional melalui solusi digital. Pengalaman ini sangat relevan dengan pilar transformasi PLN yang fokus pada adaptasi teknologi.

Selain gelar pendidikan dan pengalaman karir yang luas, Suroso Isnandar juga memiliki sertifikasi sebagai Qualified Risk Governance Professional (QRGP). Sertifikasi ini menunjukkan keahliannya yang teruji dalam pengelolaan manajemen risiko secara strategis. Dalam konteks PLN sebagai BUMN yang mengelola aset-aset vital negara dan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari risiko operasional hingga risiko finansial dan lingkungan, kemampuan dalam tata kelola risiko menjadi sangat penting. Kepemilikan sertifikasi QRGP menegaskan bahwa beliau tidak hanya memiliki kompetensi teknis dan manajerial, tetapi juga pemahaman yang komprehensif tentang pentingnya tata kelola perusahaan yang baik dan mitigasi risiko dalam skala besar.

Advertisements

Also Read

Tags